Hotel Murah d Jakarta Bikin Backpaker Nyaman Untuk Liburan

Aku yakin semua orang pasti akan mencari tiket buat liburan akhir tahu. Kalau aku justru malah cari hotel murah dan memutuskan buat cari tiket. Lah wong liburan tahun ini aku nggak mau keluar dari Jakarta kok! Bosen! Pengen cari suasana lain, seperti macet-macetan di Jakarta atau keliling Jakarta naik Trans Jakarta, atau jalan dari stasiun ke stasiun (ini kelihatan kalau lagi gabut gak punya kerjaan dan gak punya duit, dasar jelata) Hahaha.

Kebanyakan orang selalu memandang Jakarta sebagai kota yang “Tidak layak dikunjungi”. Pasalnya, dalam mindset kebanyakan orang Jakarta dikenal sebagai kota yang paling crowded. Mulai dari kemacetan, kriminalitas hingga polusi yang mengakibatkan kesehatan cepat terganggu.

Namun, dibalik respon negatif orang-orang, Jakarta menyimpan sejarah penting bagi Indonesia. Aku selalu excited ketika datang ke Jakarta dengan perspektif yang berbeda. Aku selalu mengesampingkan kemacetan dan ketidakrahannya.

Menyusuri Jakarta ibarat menyusuri lorong waktu masa lalu

Kemewahan Jakarta memang terkesan jauh dari masa lalu. Gedung bertingkat hingga hotel bintang 5 sudah mengambil alih. Tapi aku selalu punya perspektif yang berbeda tentang Jakarta. Terlebih tentang masa lalu yang pernah terjadi di sana.

Kota Tua Jakarta misalnya. Kawasan ini selalu menjadi menarik dan menjadi pusat hiburan bagi para pendatang dan penikmat masa lalu (sejarah). Bangunan tua bercat putih selalu menjadi daya tarik yang mempesona. Kota Tua yang ramai dikunjungi banyak orang ini adalah cikal bakal Ibu Jakarta.

Dulunya, bernama Batavia. Kawasan ini lengkap dengan arsitektur bergaya Belanda. VOC di bawah pimpinan Jan Pieterszon Coen sudah merebut Jayakarta. Pada tahun 165o kota Batavia pun menjadi pusat pemerintahan VOC dan sudah mengalami perluasan ke arah selatan. Catatan sejarah tidak berhenti di situ saja. Pada tahin 1942 di bawah kepemimpinan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan kini menjadi Ibu Kota Indonesia.

Selain mengunjungi kota Tua lorong waktu itu bisa ditemukan di museum yang ada di Jakarta seperti museum Nasional Proklamasi yang ada di Menteng. Di sana aku merasakan kesan teresendiri dari kota metropolitan ini. Benda seisi museum seolah bercerita dengan sendirinya tentang kisah masa lalu.

Liburan asik di Jakarta saat akhir tahun

Saat semua warga Jakarta berbondong-bondong keluar Jakarta di akhir tahun. Aku justru merencanakan liburan kali ini tetap stay di Jakarta. Seperti apa yang aku katakan di awal, bahwa dalam perspektifku, Jakarta adalah lorong waktu yang asik untuk ditelusuri.

Liburan akhir tahun ini rasanya aku malas untuk keluar dari Jakarta. Selain aku tak berhasil mendapatkan tiket penerbangan murah buat keluar. Selain itu, rasa malas untuk keluar Jakarta hinggap di tubuhku, mengingat beberapa minggu belakangan ini sering pergi ke luar Jakarta. Jadi akhir tahun ini aku pengen liburan tipis di Jakarta sambil gegoleran di hotel di Jakarta gitu.

Deretan hotel murah bisa kamu pesan lewat pegi pegi

Sambil selonjoran, aku langsung buka aplikasi pegi pegi buat pesen hotel di sekitaran Jakarta. Sekali-kali dong staycation di Jakarta di saat yang lainnya pada liburan ke luar kota. Sekarang gantian aku yang jagain ibu kota. Sambil menyusun itinerari, aku pun mencari lokasi yang pas untuk menginap.

Pengennya sih di sekitaran kota tua biar caraku menikmati Jakarta lebih mengena. Meskipun aku pesan di tanggal merah dan high season, aku masih bisa mendapatkan hotel murah di pegi-pegi lho. Kurang enak apa coba? Tinggal bayar dan sambil gegoleran gitu.

Setelah semuanya beres barulah aku akan mengontak salah seorang teman yang akan aku ajak buat jalan menyusuri lorong waktu yang ada di beberapa sudut ibu kota. Liburan nggak ada planing atau nggak ada waktu buat jalan ke luar kota, buka pegi-pegi aja, staycation bisa jadi alternatif liburan yang asik kok.

 

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *