Festival Danau Toba Mengenalkanku Dengan Tanah Batak

Salah satu pengalaman berharga yang tak bisa terlupakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Batak. Festival Danau Toba 2018 yang telah membawaku hingga sampai di sana. Mulanya aku tak pernah menaruh ekspektasi apapun soal Tanah Batak dan Danau Toba. Apa yang aku temui, biarlah mengalir apa adanya.

Bandara Silangit siang itu memang sedang mendung. Tapi pemandangan dari atas dalam pesawat rasanya sayang untuk dilewatkan. Aku begitu menikmati pemandangan nan hijau dan perbukitan. Bahkan pemandangan Danau Toba yang luas itu pun nampak jelas dari atas. Namun, aku tak menyadarinya bahwa itu adalah Danau Toba.

festival danau toba
perjalanan menuju tempat Festival Danau Toba di Silalahi

Menempuh perjalanan yang panjang demi untuk datang ke acara Festival Danau Toba 2018

festival danau toba
Para penari dalam acara festival Danau Toba

Perjalanan panjang dari Silangit, Siborongborong ke Dairi bukanlan sebuah perjalanan singkat. Dari estimasi waktu lima jam akhirnya kami tempuh dalam kurun waktu setengah hari. Itupun karena kami jalan santai dan nyasar beberapa kali.

Sampai di persimpangan venue Festival Danau Toba 2018 pun kami harus berbalik arah untuk mencari penginapan. Kabarnya penginapan di dekat area Festival Danau Toba sudah penuh dan mahal. Rasanya kami pun sudah lelah menghadapi perjalanan ini. Perjalanan yang tidak ada ujungnya.

Terbelalak dengan view yang memanjakan mata

festival danau toba
Pantai Paropo, Silalahi yang bikin mata seger

Hari pun sudah mulai gelap, dan akhirnya kami pun mendapatkan tempat untuk istirahat. Perjalanan akan dilanjutkan besok pagi. Aku pun berharap besok pagi akan menemukan sesuatu yang bikin hati jadi adem.

Suasana dingin pun mulai menyergap dan aku pun mulai sadar bahwa daerah ini merupakan dataran tinggi. Baru sadar juga bahwa kamar di penginapan tidak ada AC. Fakta lain yang aku dapatkan bahwa tempat kami bermalam ada di daerah Sidikalang, kab Dairi, di sana merupakan salah satu penghasil kopi arabika yang nikmat.

Setelah semuaya siap, kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat Festival Danau Toba 2018 diselenggarakan. Belum sampai tempat, kami sudah disuguhkan pemandangan yang benar-benar membuat hati jadi adem. Mataku tak berhenti untuk melotot dan menikmati keindahan alam yang ada di depan mataku.

Sepanjang jalan, aku pun makin terkagum dengan tempat ini. Danau Toba yang kata orang memang cantik. Faktanya memang cantik. Pantai Paropo dan Tao Silalahi sudah merebut hatiku. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk memperpanjang waktu dan pergi ke Samosir.

Samosir dan keramahan orang Batak

festival danau toba
Rumah Bolon di Desa Sianjur Mulamula, yang penuh dengan legenda Batak

Sejujurnya, aku sedikit khawatir dan takut jika jalan sendirian ke Tanah Batak. Tapi entah, hati kecilku justru berkata lain. Seolah ada aura positif yang mendorongku dan meyakinkanku untuk tetap melangkahkan kaki ke sana.

“Yakin kamu akan stay sendirian dan pergi ke Samosir sendirian?” Salah seorang teman berusaha meyakinkan niatku, dan aku mengamini.

Di balik aksen Batak yang keras, ternyata hati mereka tidak sekeras itu. Saat kakiku menginjakkan Samosir seorang diri, sambutan ramah justru yang aku dapatkan. Pertama, tawaran mencari penginapan pun sempat aku dapatkan meskipun aku tolak dengan sopan lantaran harga yang tidak sesuai.

Aduh, penginapan di Samosir dan kawasan Toba lainnya memang sedikit mahal. Apalagi kalau kita jalan sendirian. Siap-siap untuk bujet yang lebih. Selain itu dari segi kuliner pun bisa dikatakan sulit untuk mendapatkan masakan halal.

Keliling Samosir dan menginap di rumah orang Batak

Lagi-lagi aku terpesona dengan keindahan lanskap Tanah Batak ini. Terkagum-kagum rasanya melihat keindahan yang ada di depan mataku. Sampai bang Edward, orang lokal yang menemani aku jalan pun ikut terheran dengan kenorakannku.

“Woooo….cantik, Woooo indah….woooo amazing, wooooo…….” Aku berteriak norak sepanjang jalan.

“Begini kah orang kota kalau lihat pemandangan seperti ini? Aku sudah bosan melihatnya!” Katanya dengan logat Bataknya yang kental. Ya, mau gimana emang pemandangannya cantik, wajar lah kalau norakku jadi kambuh. Haha.

Tiga hari sudah aku keliling pulau Samosir ini. Dimana aku berhenti, di sana aku melihat danau dan bukit. Tapi itu belum cukup bagiku kalau belum berkunjung ke desa tenun Ulos.

Rasanya ada yang kurang kalau nggak mampir ke desa pembuatan tenun. Kalian pun pasti tahu kan, kalau di Batak terkenal dengan tenun Ulosnya. Begitu pun denganku yang demen banget koleksi kain-kain tenun.

Akhirnya, dengan keterbatasan waktu aku pun nekat untuk datang ke Lumban Suhisuhi. Sebelum hari mulai gelap, aku melesat ke sana. Kebetulan desa ini searah dengan tujuan akhirku kembali ke Pangururan dari Tuktuk.

Sekitar 30 menit aku menunggu angkot, akhirnya aku pun rela berdesakan sampai si abang kernet duduk di atap mobil. Kukatakan tujuanku pada si sopir biar tidak kelewatan, dan aku pun diturunkan di depan kampun tenun, di Huta Raja.

Lega rasanya bisa mampir ke sana, meski sebentar. Dari persimpangan jalan raya, aku sudah bisa melihat aktivitas warga yang sedang menenun. Auranya pun terasa begitu hangat, entah kenapa. Mungkin hanya perasaanku saja.

Saat masuk ke kampung tenun, sialnya dua ekor anjing menyambutku dengan garang. Mereka menghampiriku seolah melihat musuh. Sementara aku cuma bisa berdiri terpaku sambil teriak dan memejamkan mata.

“Kakak, saya takut anjing……!” Itulah kalimat yang keluar dari mulutku. Jantungku sudah berdegup kencang dan seolah mau copot. Untung saja air mataku tak jadi berlinang meski tubuhku gemetaran.

“Kakak, anjingnya sudah pergi, tidak apa-apa, kemarilah!” Terdengar suara perempuan dibelakangku dan suara bilah bambu yang digetok-getokan ke tanah.

festival danau toba
Lumban Suhisuhi yang memikat hati

Perlahan aku membuka mata dan segera pergi menuju sumber suara. Benar saja, seorang perempuan yang sedang menenun itu sudah membantuku mengusir dua anjing nakal itu. Aku pun malu ditertawakan olehnya.

Tak lama aku duduk di sampingnya sambil mengamati dia bertenun, seorang ibu paruh baya menghampiriku. Dia adalah ibu Ratna, ibu dari perempuan yang bertenun tadi. Kami pun ngobrol mencairkan suasana. Sebuah pertanyaan standar pun terlontar seperti, dari mana? Sama siapa? Dan ibu Ratna pun takjub mendengar jawabanku. Dari jakarta dan seorang diri, perempuan lagi. Nekat, katanya.

Di tengah obrolan kami, ibu Ratna lantas masuk ke dalam rumah. Aku pun melangkahkan kaki keliling kampung. Setelah puas (sebenarnya belum puas, karena banyak anjing jadi nggak berani jauh-jauh) aku pun kembali ke tempat anak-anak ibu Ratna menenun. Ternyata ibu Ratna sudah menyiapkan segelas air putih hangat untukku.

Aduh, di situ hatiku jadi meleleh. Entah kenapa. Segelas air putih hangat yang membasahi tenggorokanku itu rasanya sangat nikmat, padahal aku pun membawa sebotol air mineral di dalam tas.

“Terima kasih Ibu, tak usah repot begini.” Kataku sambil meneguk segelas air hangat itu.
“Ibu tidak merasa direpotkan, minumlah, kau pasti lelah nak.” Jawabnya tulus.

Aku tak bisa menggambarkan perasaanku sore itu. Keluarga bu Ratna menarik perhatianku. Entahlah.

“Sebentar lagi gelap, mobil pun sudah jarang, kau tidur sini saja ya!” Pinta ibu Ratna dengan senyumannya yang menggurat pipinya.
“Aduh, nanti saya merepotkan ibu.” Jawabku.

Senja di Lumban Suhi begitu hangat terasa. Entah kenapa aku jadi betah berlama-lama di sana. Padahal sebelumnya aku sudah memesan penginapan di Pangururan, tempat pertama aku menginap. Sementara ibu Ratna berkali kali memintaku untuk tinggal di rumahnya, yang akhirnya aku pun tak tega menolaknya.

Sepiring nasi dengan lauk ikan teri di Batak

festival danau toba
Pemandangan belakang rumah di Lumban suhi

Aku pikir, ketika aku tak punya marga Batak, mereka akan cuek kepadaku. Ternyata aku salah. Saat masuk di rumah panggung milik ibu Ratna, memang beberapa orang yang sedang ngobrol di teras rumahnya bertanya kepadaku. Apa margaku, dan aku pun menjawab, kita tak punya marga, kita orang Jawa. Tapi mereka masih ramah menyambutku.

Namun, satu hal yang bikin hati ini teriris adalah ketika suami ibu Ratna kepadaku tentang keyakinanku, agamaku.

“Kau muslim, nak?” Katanya.

“Iya bapak, saya muslim.” Jawabku sambil menuang sambal teri ke piring yang sudah terisi nasi.

“Mau, kau makan di rumah kami?” Katanya lagi. Aku pun tersenyum sambil menatapnya.

“Kalau kau mau, senanglah hati kami, nak, makanlah, ayo makan.” Sambungnya lagi.

Sungguh, aku pun tak bisa berkomentar apa-apa, selain bilang terima kasih atas jamuan istimewa ini. Aku bukan siapa-siapa, tapi mendapatkan jamuan istimewa. Dalam hatiku hanya bisa berdoa segala bentuk kebaikan untuk keluarga besarnya.

Semalam bersama keluarga ibu Ratna, seolah memberikan sebuah kesan hangat yang sederhana di Tanah Batak. Festival Danau Toba, keramahan suku Batak, dan keindahan alam yang mempesona sudah mewarnai perjalananku di Tanah Batak. Terima kasih Danau Toba.

Share This:

12 thoughts on “Festival Danau Toba Mengenalkanku Dengan Tanah Batak”

  1. Mantebh…mantab beudhh. Penasaran mmg dgn Tanah Batak.
    Swarna Dwipa memang patut dieksplor lebih dan lebih.

    Next diagendain ah kesono

  2. Aku belum pernah injak tanah Medan. Mungkin emang perlu diagendakan. Apalgi pas lihat ulosnya, itu kok cakep-cakep amat seehh?

  3. Lihat pemandangan di sekitar danau toba seperti di danau Singkarak Sumatera Barat. Bedanya mungkin di sini lebih dingin ya. Dan adat budayanya juga sedikit berbeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *