Melepas Lelah di Alam Sutra Selo Boyolali

“Aaaaa….Mia, akhirnya kamu sampai sini juga!” Sapaan itu datang dari kak Nia yang lari di jalan turunan kemudian memelukku begitu saja.

Gak tahu dia, gimana aku berjuang untuk bisa sampai Desa Wisata Samiran ini. Mbok ya setelah peluk-pelukan ditraktir bakso kek atau susu segar gitu?

Susu segar Boyolali dan wedang cengklung menjadi pembuka pelepaa dahaga

Pasar tiban ada di sekitaran jalan ini, nah ini fotonya membelakangi mereka. Orang ceritanya kan lagi menikmati alam sambil minum susu!

Setelah bersua bersama teman-teman, aku pun diminta menuju pasar tiban. Katanya aku dicari sapi di sana, gara-gara aku tak jadi ikut memerah susu sapi. Gimana mau ikut memerah, datang ke Selo aja kesiangan. Belum lagi dioper-oper sama angkutan umum bobrok jurusan Boyolali – Selo.

Lupakan urusan perah memerah! Kita nikmati saja susunya (susu sapi). Boyolali kan terkenal dengan penghasil susu murni. Jadi, haram hukumnya kalau sampai di Boyolali nggak mencicipi susu sapi murni.

Di pasar tiban itu, ada seorang ibu paruh baya yang menjajakan susu sapi segar. Boleh dong minta segelas! Tanpa basa basi aku pun memintanya dan si ibu meminta saya untuk membayarnya dengan 1 keping uang batok.

Ini lho penampakan uang batok itu!

Lahh, uang batok apaan? Tuh, kan begoknya nggak abis-abis. Saking lelahnya menempuh perjalanan, haus dan rasa ingin minum susu aku pun tak tahu kalau harus menukarkan uang rupiah saya dengan uang batok kelapa ala pasar tiban. (Alasan)

Setelah menukarkan uang. Aku pun segera menebus susu yang sempat tertahan. Kemudian aku menikmatinya sambil memandang gunung Merbabu dan Merapi. Masya Allah. Nikmat Allah mana yang engkau dustakan? Ssssrrruuuuttt!!!! Alhamdulillah!

Wedang Cengklung minuman khas Selo

“Mbak, cobain ini mbak, wedang cengklung! Ini minuman khas sini! Ayo mbak cobain, sambil difoto-foto!” Suara bapak-bapak nyaring terdengar menjajakan dagangannya membuyarkan lamunanku. Dia memintaku untuk mencoba, lebih tepatnya membeli dagangannya.

Penasaran dengan dagangannya aku pun bertanya kepadanya. “Ini minuman apa pak?”

“Sudah nggak usah banyak tanya, cobain aja dulu!” Lanjut si bapak sambil memberiku mangkuk kecil yang sudah terisi wedang cengklung. Ihh, si bapak pemaksaan nih! Tapi gak ada salahnya dicoba dulu.

Sebentar, wedang cengklung ini panas, ditaruh di mangkuk kramik segede mangkuk wedang ronde. Tapi uniknya, si bapak tidak memberiku sendok. Sempat terfikir olehku, bagaimana cara minum wedang cengklung ini? Sebelum bapaknya bilang “Udah mbak dikokop aja!”

Hahaha….! Baiklah cara menikmati wedang cengklung ini dengan cara “mengokop” mangkuknya! Yoweslah, aku manut aja kata penjualnya!

Begini review singkat dari wedang cengklung ini! Dari rasanya mirip dengan wedang ronde. Ada jahe, ada kapulaga dan beberapa ramuan rempah lainnya. Disajikan hangat, panas lebih baik. Wedang ini ditaruh di sebuah gentong yang berbahan tanah liat, jika si penjual mengambil air wedang cengklung itu akan terdengar suara “cemplung/cengklung”. Minuman ini cocok untuk dinikmati di daerah dingin seperti Selo ini. Nah begitulah kira-kira. (Review ini murni dari dalam hati dan tidak dibayar!)

Menikmati keindahan alam dan menghirup udara segar di Alam Sutra

Setelah puas minum susu, aku pun menyusul teman-teman lainnya di homestay. Masih teringat dalam otakku nama homestay tersebut, yaitu homestay Rodheo. Bukan prodeo lhoo, ya!

Uniknya di halaman homestay terdapat tanaman daun bawang. Wah, andaikan di depan rumahku pasti enak kalau mau dadar telor. Tinggal ambil daun bawang di depan rumah.

Selain itu, masuk ke dalam rumah seperti masuk dalam kulkas. Lantai dingin, kasur dingin, makanan dingin, camilan dingin dan air di bak kamar mandi pun dingin. Untung teman-teman nggak ikut dingin juga. Coba iya, nggak aku ajak dolan ke deswita lagi! Hahaha. (Becanda kok!)

Challengenya adalah mandi pake air es di homestay. Katanya teman-teman lainnya saat mandi mereka teriak girang gitu. Nah, kan jadi penasaran buat mandi. Alasan utamanya karena belum mandi sih!

Weeelahhh, ternyata benar! Airnya lebih dingin dari yang aku bayangkan. Harusnya baca tutorial mandi pake air es nih!

Gardu pandang terbuat dari bambu yang bisa kamu panjat untuk memantau keadaan sekitar.

Setelah semuanya siap, dan aku pun selesai pakai gincu. Kami semua menuju sekertariat untuk naik pajero (baca : mobil bak terbuka) menuju Alam Sutra.

Dari homestay desa wisata Samiran menuju Alam Sutra hanya memakan waktu selama 10 menit saja menggunakan pajero. Setelah turun dari pajero kami harus trekking selama 30 menit sejauh 3 kilometer. Sepanjang jalan, saya mencium aroma segar dari sayuran yang tertanam subur dan udara yang bersih mengisi paru-paruku.

Sesampainya di puncak, aku sengaja duduk di bangku panjang sambil menikmati suasana sekitar. Terlihat juga sebuah gardu pandanh yang terbuat dari bambu yang bisa kamu naiki. Kamu bisa menikmati keindahan alam dari atas sana. Mau Foto-foto juga boleh.

***

Yah, meskipun hanya numpang mandi doang di Selo. Setidaknya apa yang sudah aku dapatkan bisa membayar perjuanganku untuk menuju ke sana. Next time akan aku ulangi lagi buat jalan ke sana. Kamu mau iku?

Share This:

14 thoughts on “Melepas Lelah di Alam Sutra Selo Boyolali”

  1. Aku sudah ada rencana sama teman-teman pesepeda mau sepedaan ke Selo dan menginap semalam di sana. Biar bisa esklpor beberapa tempat hahahahha. Itu susu segarnya menggoda.

  2. Wah, kayaknya habis turun merbabu via selo, bisa nih aku mampir ke sini. Klo orang-orang sukanya pada ngopi, aku sukanya nyusu. Jadi tempatnini kayaknya cocok buat aku 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *