Pertama Kalinya Nekat Hitchhiking Bersama Suhunya

Sial….! Bus jurusan Surabaya sudah jalan. Itu artinya aku harus menunggu bus lain di belakangnya. Trayek bus jurasan Surabaya – Semarang PP memang 24 jam. Nggak perlu khawatir juga buat kehabisan bus, tapi kali ini agak sedikit lebay lantaran long weekend.

Bus yang kami tunggu telah penuh dan sesak. Sementara banyak sekali penumpang yang menungu bus di pintu masuk terminal untuk pergi ke arah Surabaya dan kota-kota yang dilewati. Hujan yang mengguyur kota Semarang pun seolah tak pernah lelah.

Siapkan jempolmu, photo: pixabay.com

Aku dan Ejie berteduh di bawah payung sambil menunggu bus untuk pergi ke Pati. Kami memilih tempat yang kering untuk menunggu agar sepatu kami tidak basah. Samping kanan dan kiri kami nampak kerumunan calon penumpang yang entah pada mau pergi ke mana.

“Jie, sory yaa..busnya lama, dan mungkin kita akan berdiri deh, karena busnya pasti akan penuh.” Kataku kepada Ejie yang memang merasa tak enak dengannya.

“Santai aja Mi, gue mah udah biasa. Apalagi kalau pas hitchhike, musti sabar buat dapat tumpangan.” Ejie menjawabnya dengan sedikit terkekeh.

Bagaimana pun juga aku tetap merasa tak enak dengan kondisi ini. Gerimis yang tak kunjung reda membuat orang berebut untuk naik ke dalam bus, berharap mendapatkan keteduhan di dalam bus dan sampai di tempat tujuan dengan cepat. Dalam batinku pun, rasanya pengen banget bergerak dari titik awal dan buru-buru sampai di tempat tujuan juga.

“Jie, misalkan hitchhike, gimana menurutmu?” Begitulah kira-kira celetukanku kepada seorang cewek berjilbab dan berkacamata yang sedari tadi berisik bercerita tentang pengalamannya ber-hitchhike.

“Yakin lu? Ejie mah ayuk aja atuh!” Jawab Ejie dengan wajah bengong dan mengiyakan.

Jangan berdiri di tempat gelap saat melakukan hitchhiking

Tanpa banyak mikir, kami pun memutuskan untuk bergeser dari titik awal menunggu bus. Kami bergeser ke arah timur di pinggir jalan raya dan di bawah lampu yang terang. Katanya teknik dasar hitchhiking adalah berdiri di tempat yang terang saat menghentikan kendaraan.

Hal itu dilakukan agar kamu terlihat oleh sang sopir dan tidak dikira begal. Biar gampang cari tumpangkan baiknya kalian bawa tulisan “Numpang” dan nama kota tujuan. Tapi, karena ini adalah dadakan dan spontan maka kita hoki-hokian aja.

Mungkin bisa dikata gila dan nekat, saat Ejie berusaha nyamperi beberapa mobil yang jalan pelan-pelan di depan kami lantaran macet. Dengan menggunakan payung Ejie serasa model yang jalan di aspal yang basah dan sesekali menginjak kubangan air karena jalan yang berlubang.

Hampir putus asa mencari tumpangan

Tunggu saja sampai ada driver ganteng yang baek hati. Pict: pixabay.com

“Gimana Jie?” Tanyaku penuh dengan kekhawatiran.

“Sabar!” Jawab Ejie

Berani memutuskan untuk hitchhike adalah berani menguji kesabaran dan berani ditolak. Jadi gitu sih, kalau kamu suka sama gebetan utarakan saja kalau nggak diterima ya, paling ditolak, jadi sabar aja nanti juga dapat. Intinya sabar.

Balik lagi, setelah beberapa kali ditolak oleh driver, akhirnya kami mendapatkan tumpangan. Yeeee….! Kami berhasil move dari poin pertama. Dari sebrang Ejie memberiku kode untuk menghampiri mobil Hiace yang memberi sign dan menempi ke kiri. Tuh, kan dapat yang gede dan nyaman.

Driver kami kali ini adalah mas Andika (bukan Andika kangen band ya!). Dia akan membawa kami sampai Kudus karena tujuan akhir mas Andika adalah Kudus. Ah, lumayan lah daripada berdesak-desakan naik bus. Kali ini dapat tumpangan gratis dan nyaman. Nanti bisa nyetop lagi di Kudus dan lanjut sampai Pati.

Selama perjalanan kami ngobrol dengan sang driver yang baik hati dan tanpa disadari drivernya ganteng lhoo (bukan seganteng Andika kangen band!).

Begini to, rasanya…

Yeeee…misi pertama sukses!!!

Pertama kali merasakan ngeteng mobil pribadi malam-malam ditengah hujan itu rasanya seru dan was-was. Takut juga kalau si driver berniat jahat pada kami. Tapi, berfikir positif bukankah akan menimbulkan hal positif juga kan? Pengalaman pertama kali itu selalu berkesan buatku.

Baca juga : Begini, rasanya dolan ke luar negeri sendirian?

Memulai hal baru membuatku merasa tertantang. Bukannya songong, emang begitu rasanya. Deg-degan, was-was, takut, dan gemetar. Ya, seperti ketemu gebetan di saat traveling gitu dan ketemu mantan di acara nikahan teman. Haha. Tapi, kalau ditanya apakah aku akan mencoba hitchhike lagi tanpa Ejie? Mungkin jawabannya iya kalau ada temannya. Belum cukup nyali kalau harus sendirian. Lain halnya dengan Ejie yang sudah banyak pengalaman.

***

Singkat cerita, akhirnya perjuangan hitchhike kami berakhir di Kudus saja, niatnya sih mau melanjutkan sampai Pati, tapi karena hujan makin lebat, hari makin malam kami memutuskan untuk naik kendaraan umum (bus). Takut si Emak khawatir karena sudah jam 10.00 malam anak perawannya belum sampai rumah.

Kondisi jalan di Kota Kudus kurang begitu baik untuk melakukan hitchhiking karena kami susah mendapatkan tumpangan. Kami pun sempat menjadi perhatian oleh orang-orang di sekitar kami. Mungkin mereka mengira kami kebisan ongkos buat pulang. Haha. Wes ben lah, sak karepe peduli setan sama kata orang.

“Gila lu Jie, malam-malam sudah bikin gue norak tanpa batas dan ngajarin gue buat bersabar. Besabar menunggu dan bersabar saat ditolak. Hahaha. Sudah, kalau lu baca artikel ini jangan senyum-senyum sendiri ya!”

 

 

Share This:

6 thoughts on “Pertama Kalinya Nekat Hitchhiking Bersama Suhunya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *