Kena Jambret Di Distrik 1 Ho Chi Minh City

,

Kapal oleng kapten…

Seperti itulah sebuah kalimat yang saya ucapkan ketika saya turun dari sleeper bus saat tiba di Saigon sabtu pagi dari Nha Trang. Lantaran saya dan ketiga teman saya lelah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 400 km dengan estimasi perjalanan selama 10 jam.

Sliper bus Vietnam
Sliper bus Vietnam

Bus yang kami tumpangi sangat nyaman, karena tubuh kami dapat berbaring dan dapat tidur dengan nyenyak. Namun, seperti apa nyenyak dalam perjalanan tetap saja kita merasa oleng saat tiba di tempat tujuan. Saat itu suasana Pahm Ngu Lau hanya nampak sebuah sisa-sisa keramaian dari tempat hiburan. Masih banyak turis-turis manca yang masih berkeliaran menyelesaikan aktivitas mereka di tempat-tempat hiburan. Terlihat beberapa tempat hiburan yang masih buka dan pedagang street food masih berkeliaran dengan menyuarankan dagangan mereka menggunakan alat pengeras suara.

Sementara kami masih bekutat mencari Phuc Khanh hotel yang sudah kami booking sebelumnya. Seperti biasanya GPS tak pernah ketinggalan buat kami para pejalan yang suka keluyuran. Hanya nunggu mata berkedip kami dengan mudah menemukan rute untuk menuju hotel kami. Tinggal mengikuti jalan yang sudah tertera dalam layar ponsel. Naikkan pundak tanda kesombongan, haha.

IMG-20160509-WA0014

Kami jalan berempat di pagi buta dengan enjoy. Saya sempat melirik jam tangan masih menujukkan jam setengah 5. Tapi jika kita bandingkan dengan suasana di Indonesia, Saigon masih terlihat nampak gelap. Hap..hap..hap..kami melangkah dengan jumawa, menyusuri jalan menuju distrik 1, tempat hotel kami berada dan bayangan kasur yang empuk dengan kamar mandi yang nyaman, lalu mandi dengan puas membasuh tubuh kami yang sudah terasa lengket seperti permen. Ahh…..segar membayangkannya.

Namun bayangan ilusi kesegaran kami pupus, ketika GPS yang menuntun perjalanan kami ngadat. Entah sinyal entah apa kami tidak tahu yang kami tahu GPS ngambek. Dengan panik Kak Je berusaha mengutak atik GPS tersebut di depan sebuah coffee shop kemudian Dhev ikut membuka ponselnya dan mencoba membuka GPS melalui ponselnya. Ya, kali aja ponsel kak Je yang ngadat. Tak berselang lama kami menemukan arah lagi sampai kami menemukan perempatan. Kami berhenti dan kembali menengok rute melalui GPS.

“Doh, ini kita jalan kemana yaa? Belok kanan ato kiri yaa?? Ngadat nih.” Gerutu kak Je sambil mengutak-atik ponselnya dengan cemas.

“Kalo ini sih, kayaknya kita jalan ke kanan!” Kata Dhev dengan yakin. Mungkin dia abis sholat istikharah.

Kak J masih bekutat dengan peta sambil melotot cemas dan mempertimbangkan perintah Dhev.

“Inget kak, dia itu gak bisa baca GPS.” saya berbisik kepada kak Je. Namun bisikan saya tidak didengarkan olehnya dan kemudian mengiyakan ajakan Dhev belok kanan.

Style saya membawa barang
Style saya membawa barang

Kami mengikuti jalan yang tak begitu sepi, karena ada sebuah tanda-tanda kehidupan lalu lalang orang pergi ke pasar dan beberapa orang mendirikan lapak dagangan mereka, seperti pasar yang akan memulai aktivitasnya. Kami masih memantapkan langkah melewati mereka dengan formasi saya di depan dengan mengenakan daypack di depan berisi kamera dan perpack pribadi termasuk pasport, uang dolar, Ringgit Malaysia, dan Keril berukuran 40L berisi baju bersandar di punggung. Kemuadian di samping saya ada Dhev menggunakan tas slempang berisi perpack pribadi berupa pasport, surat penting lainnya dan keril seberat 8,7 Kg bersandar di pundaknya. Di belakang Dhev ada kak Je dan Kanyil jalan barengan. Kak Je berada di pinggir jalan sambil memantau arah GPS yang ternyata masih ngadat dengan bawaan dia berupa tas slempang kecil berisi pasport, dan perkap surat-surat pribadi, daypack 25L bersandar di pundaknya. Sementara Kanyil hampir sama seperti saya menggunakan dua tas punggung depan belakang hanya saja tas punggung dia berukuran agak kecil menyesuaikan tubuhnya dan dia membawa uang Vietnam “Dong”.

Target penjambretan
Target penjambretan

Saya berjalan dengan mengamati suasana jalan yang lengang dan melihat ada orang di depan kami menggunakan sepeda motor dari sebrang dan menuju kearah kami. Kemudian…

“Woyy…”

Saya mendengar kak Je berteriak dan sontak saya menengok kebelakang. Mencari tahu ada kejadian apa? Saya kaget ternyata kak Je hampir saja menjadi korban penjambretan. Dan tak disangka ternyata kami sudah menjadi target penjabretan oleh masyarakat lokal. Usut punya usut, ternyata orang tersebut sudah memantau kami sejak kami berhenti di depan coffee shop saat mencari jalan menggunakan GPS.

Kami ingat pesan dari beberapa teman yang sudah pernah jalan ke Vietnam, menyarankan kami agar hati-hati dengan masyarakat lokal yang hobi dengan menjambret bahkan sampai merampok. Kami pun menerima saran itu dengan cara berhati-hati terhadap barang bawaan kami terutama paspor. Namun, tak disangka kejadian itu terjadi pada kami. Meskipun tak ada korban jiwa dan korban harta, namun kami sempat shock dan bergetar dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Yang penting bahagia gais....
Yang penting bahagia gais….

Setelah kejadian itu, kami belok ke CK untuk membeli air mineral sambil mengecek jalan menuju hotel. Taraaaaa…..ternyata kami salah ambil jalan di perempatan, masuk sarang jambret dan kami harus muter lebih jauh karena tidak mau kembali ke jalan saat awal.

Share This:

Tinggalkan Comment di Sini ya...! Tapi Jangan Tinggalin Link Hidup!!!

16 Comments


  1. // Reply

    Pagi2 buta jalan dg berani. Hidup 4 cewek super, ayo diulang lagi travelingnya


    1. // Reply

      wkwkw..bayangkan aja kak,,ketika kita nyabrang di zebra cross berasa kayak bosen hidup..


  2. // Reply

    Kalau inget kejadian itu… masih gemeter.. serem dan bersyukur, krn tas masih aman dan si jambret gak balik lagi.

    Setiap perjalanan pasti punya cerita, dan ceritaku happy ending. Yey.


  3. // Reply

    mbayangin apa aja yang bergetar,… bhihihi
    kudu lebih hati hati dan waspada…


  4. // Reply

    “kecopetan di tepi sungai musi” –> the next story 😀



  5. // Reply

    Wah rawan ya, harus lebih waspada dan hati2, bisnya enak bisa lurusin pinggang ya mi , iya kalau travelling yang penting-penting kaya paspor kudu aman, kalau aku juga misahin uang di tas, saku ma koper buat jaga-jaga, belum pernah kalau ke Vietnam


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *