Satu Kilometer Ala Masyarakat Suku Baduy

Suku Baduy merupakan suku pedalaman yang berada di Lebak Prov Banten. Masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan leluhur ini masih memberlakukan yang namanya hukum adat. Letak pemukiman mereka berada di Lereng gunung Halimun sehingga suasana sejuk dan asri masih terasa. Keaslian alam yang belum terkontaminasi dengan polusi membuat pikiran gue yang keruh menjadi sedikit ada penyegaran. Susana yang selalu menjadi rindu dan candu.

Suasana senja ketika kami tiba di Gajeboh
Suasana senja ketika kami tiba di Gajeboh

Perjalanan yang cukup melelahkan namun mengasikkan ketika gue dan ke lima teman gue ( Vania, Eha, Bang Rifal, Ijal dan Wawan) selangkah demi selangkah melewati medan yang terjal, berbatu dan agak sedikit licin untuk sampai ke kampung suku Baduy luar. Hari mulai gelap dan kami putuskan untuk menginap di desa Gajeboh di kawasan Baduy Luar. Seiring tenggelamnya sinar matahari, suasana gelap gempita pun menyelimuti kami yang sedang duduk santai melepas lelah setelah tracking sejauh satu kilo lebih dari desa Ciboleger.

“Besok pagi-pagi kita pergi ke Cibeo, ke Baduy dalam” Kata bang Rifal mengintruksi kami agar segera istirahat.

Keseruan kami ketika bertemu dengan Durian
Keseruan kami ketika bertemu dengan Durian

Malam begitu larut. Hanya sepercik cahaya dari sebuah lampu yang berisikan tenaga surya yang menyinari aktifitas kami malam itu. Dari beberes barang-barang bawaaan kami, makan malam kami, hingga membelah durian dan ramai-ramai menyantapnya dengan buas.

“Besok mandi di kali seger nih…” tiba-tiba ada suara pemecah keheningan. Entah darimana datangnya suara tersebut.

Yang jelas ekspektasi kami adalah, pagi-pagi, pergi ke Cibeo, mandi di kali, foto-foto narsis selama di perjalanan dan berburu durian di tengah hutan. Tapi realisanya, Kami mager alias malas bagun, padahal jam lima pagi kami berisik meributkan hal-hal yang kurang penting diributkan. Pada akhirnya kami baru beranjak dari Gajeboh menuju Cibeo jam delapan. Dengan semangat yang mengebu, stamina yang powerfull dengan mata berbinar-binar kecuali gue yang saat itu masih merasa kurang fit lantaran terkena flu dan radang tenggorokan gue datang menggangu trip gue kali ini. Tapi semangat gue seolah mengalahkan virus dalam badan gue. Selangkah demi selangkah kami berjalan menyusuri jalan setapak dan melewati jembatan menyebrangi sungai. Kami diantar oleh Kardi anak dari kang Karim pemilik rumah yang kami jadikan tempat singgah kami.

barisan Leuit di sepanjang perjalanan
barisan Leuit (Lumbung padi) di sepanjang perjalanan

Kekaguman gue akan penduduknya yang begitu ramah, sederhana dan bersahaja membuat pengunjung seperti kami merasa nyaman. Perjalanan ke Cibeo kami tempuh dengan waktu tiga jam dengan jarak tempuh yang katanya hanya satu kilometer. Satu kilometer merangkum beberapa kejadian dari yang berkuanang-kunang di tanjakan terjal, kemudian ada yang mendadak ingin boker, Kehabisan air minum di tengah jalan sehingga kami harus mengisi botol air minum kami dengan air yang bersumber dari mata air yang kami temukan di jalan. Hingga berburu durian yang jatuh dari pohon. Semua itu terangkum dalam kalimat “Satu Kilometer”. Satu kilometer ala masyarakat Baduy.

Tracking Panjang yang katanya hanya SATU KILOMETER
Tracking Panjang yang katanya hanya SATU KILOMETER

Share This:

12 thoughts on “Satu Kilometer Ala Masyarakat Suku Baduy

  1. Di atas tertulis ” tiba2 ada suara pemecah keheningan?
    Apakah suara itu seperti suara alat musik kah mia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *