Experience Traveling

Mengintip Pandu Pustaka di Pekalongan

Pekalongan. Perjalanan saya di kota tersebut memberikan sebuah kesan yang sangat berarti. Dari sebuah perjalanan tanpa itinerary dan tanpa tujuan yang jelas. Dengan ketulusan hati teman saya yang bersedia menemani keliling kota Pekalongan di malam itu saya melihat sebuah sosok dermawan yang begitu tulus hatinya. Beliau adalah eyang Pandoe Sugiyanto. Seorang kakek pensiunan guru seni rupa yang berusia 78 tahun.

Eyang Pandoe Sedang bercerita tentang masa mudanya

Eyang Pandoe Sedang bercerita tentang masa mudanya

Pada usianya yang renta kakek ini justru malah berjuang untuk membukakan jendela dunia bagi setiap orang, dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Setiap harinya dengan motor bututnya beliau keliling komplek untuk meminjamkan beberapa koleksi buku yang dia punya. Tak jarang orang yang menyepelekan usaha beliau bahkan banyak yang tidak mempedulikan beliau. Tapi ketulusan beliau tidak pernah meyurutkan niatnya untuk menularkan sebuah kebaikan dan meningkatkan minat baca kepada setiap orang.

UP4

Koleksi buku yang tersusun rapi di Rak

UP8

Dari buku modern hingga buku kuno pun ada di rak ini

Siapa yang tidak kenal dengan beliau, kakek yang humoris dan menyukai anak-anak, menuturkan bahwa beliau senang melakukan hal ini. Saat ini beliau mempunyai sebuah perpustakaan dirumahnya. Meskiun berukuran empat kali tiga meter namun koleksi buku-bukunya sangat banyak dan lengkap, dari mulai buku-buku eduakasi hingga buku novel kegemaran anak-anak remaja. Perpustakaan beliau bernama “Pandu Pustaka” ini dibuka sejak tahun 2008. Gagasan beliau ini memunculkan respon positif dari masyarakat hingga pemerintah kota setempat. Selain beli secara pribadi beberapa koleksi beliau berasal dari hibah. Semangat yang tak pernah padam dari Eyang Pandu mengingatkan saya tentang sebuah perjuangan melawan buta aksara dan semakin menurunnya minat baca di kalangan generasi muda.

UP1

Kak Amga Lagi serius baca buku koleksi Eyang Pandu

UP2

Eyang pandu sedang memperlihatkan koleksi foto-foto kuno miliknya

Peminjam buku tidak dikenakan biaya dan maksimal peminjaman tiga hari. Bemodalkan kepercayaan dan kejujuranlah yang di terpakan Eyang Pandoe. Secara tidak langsung tindakan beliau ini mengajarkan kita tentang sebuah kejujuran. Tak hayal pun buku koleksi perpustakaam ini ada yang hilang beberpa. Karena tindakan ketidak jujuran tersebut. Namun ada beberapa buku yang disewakan dengan harga tertentu. Karena tujuan beliau adalah beramal (Voluntir) maka harga sewa tersebut beliau menyebutnya sebagai ifaq (sukarela). Tergantung siapa peminjamnya. Sebagian besar buku koleksi belaiu tertata rapih dan terawat dengan baik.

UP6

Narsis bersama eyang Pandu

UP5

Foto bersama Eyang Pandu

Note : Jika kalian ingin berkunjung ke perpustakaan Eyang Pandu, kalian dapat berkunjung ke Pandu Pustaka  yang beralamat di kelurahan Poncol Rw 5. Kota Pekalongan.

 

Share This:

6 Comments

  1. Dewi Rieka November 12, 2015
    • Mia Kamila November 12, 2015
  2. amgasussari November 20, 2015
  3. jemzamanda November 22, 2015
    • Mia Kamila November 22, 2015
  4. Pingback: Mengintip Pandu Pustaka di Pekalongan November 25, 2015

Leave a Reply