Cerita Ku Hanya Cerita

Alone2

Selama seminggu gw melepas penat di kota ini dan gw pun segera kembali ke kota Atlas yaitu Semarang. Karena pertempuran hidup dan mati gw di pertaruhkan di kota itu. Tapi…

Perjalanan gw gak sesingkat itu. Gw masih punya masalah pribadi yang sudah menunggu untuk di selesaikan. Dan masalah kesehatan gw yang gak terkontrol. Tuhan gw harus kuat menghadapi ini. Bibir ini seakan gak mau berhenti untuk bergumam. Sabtu ini sepertinya hari yang membuat semuanya menjadi kacau balau. Gw bertengkar hebat dengan pacar gw. Semua pertanyaan dari segala keganjilan keluar dari mulut gw. Selama empat tahun kita berjuang demi mendapatkan restu dari orang tuanya yang nggak pernah setuju berpacaran dengan gw. Sampai pada akhirnya dia yang membawa masuk perempuan laen ke dalam hubungan kita. Serasa malam ini seperti dunia hendak kiamat. Dan gw siap mati di bawah terangnya sinar rembulan yeng saat ini bersinar dengan terangnya di langit.

‘kenapa sikap lu berubah sama gw, seolah2 lu uadha gak anggep gw?’ katanya sambil mengangkat dagu gue yang saat itu gw sedang menunduk dan bermain hp.

‘Yaa itulah bang, yang gw rasakan, sejak abang punya cewek lain. Gw merasa gak di anggap’ sambung gw sambil netesin air mata.

Yaris pun berusaha membela diri dengan kata2nya yang seolah olah memojokkan gw karena kesibukan gw di kampus yang memang benar2 sibuk menghadapi semesteran dan persiapan skripsi. Dan menurut gw semua perkataannya malah semakin memperuncing masalah yang ada.

Suasana hening beberapa saat dan yang terdengar cuma nyaringnya suara cicak di dinding.

‘kalau abang tetep memojokkan gw seperti ini, terserah abang saja, gw udah gak peduli dengan perasaan ini. Toh orang tua abang juga gak kasih ijin buat kita pacaran’ bibir gw yang beku akhirnya membuka perkataan. Berat sebenernya ngomong seperti ini tapi gw merasa sudah capek dengan semua keadaan yang selalu memojokkan gw dan selalu mecari kesalahan gw. Dan gw raih telapak tangannya sambil melepas cincin yang tersematkan di jari manis gw lalu gw taroh di atas telapak tangannya. ‘Kalau lu masih syang sama gw dan masih pengen perjuangin cinta lo. Gw tunggu setelah gw wisuda di Surabaya’

Satu semester pun berlalu begitu cepat hari2 gw lalui seorang diri tanpa Yaris. Setelah gw wisuda gw kembali pergi ke Surabaya karena kontrak kerja gw dimulai disana. Hari demi hari gw lalui sama seperti hari setelah gw putus dengan Yaris. Gw lihat handphone gw gak ada satu kabar pun dari dia. Dan harapan gw buad kembali dengan nya musnah sudah. Di kantor gw buka fb gw. Gw cari nama dia disana dan gw temukan sebuah foto mesra dengan seorang cewek berambut panjang sebahu. Dan gw lihat panacaran wajahnya tampak bahagia dan seolah sudah lupa dengan masalu dengan gw. Gw yang seorang diri di ruang kerja cuma bisa memandang secangkir kopi pahit tanpa gula.

Share This:

Leave a Reply