Sewa Motor di Makassar Bisa Jadi Alternatif Transportasi Murah

Cikini, di sudut ruangan sebuah coffee shop dengan ditemani playlist ‘too much heaven’ dari Bee Gees. Aku mulai merangkai sebuah kata sambil mengingat-ingat semua kejadian penting selama traveling ke Makassar.

sewa motor makassar

Kalian nggak usah kepo dan bertanya ngapain aja aku selama di sana. Pasalnya di artikel ini aku nggak akan cerita destinasi yang aku kunjungi, tapi aku akan kasih kalian informasi penting soal, gimana caranya kamu keluar dari bandara Hasanudin Makassar, cari hotel paling murah dengan fasilitas mewah dan informasi sewa motor di Makassar. Menarik kan dari pada kepoin aku kemana aja selama di Makassar? Tapi next bakal aku share kok, tenang aja, ra usah panik, ayo kita piknik saja!

Flight pagi dengan kondisi mata ngantuk

Spot paling pas buat liatin yang sedang keluar masuk restoran cepat saji, biar nggak ngantuk 01.00 WIB

Aku sudah hampir kehilangan kesadaran saat mengunyah ayam crispy AW di terminal 2F. Rasa ngantuk sudah tak tertahan lagi, tapi aku mencoba untuk tetap stay on di depan laptop. Jadwal penerbangan memang masih dua jam lagi. Tapi kerjaan masih harus diberesi sebelum benar-benar meninggalkan Jakarta dalam kurun waktu sepekan.

Di sisi lain aku pun harus menunggu Theo yang tak tahu kapan akan menyusul ke bandara. Semoga tidak ketiduran. Biar mataku fresh, sesekali aku mengamati orang yang keluar masuk restoran cepat saji itu. Entah mereka baru tiba atau sama-sama menunggu flight pagi sepertiku.

Sial, satu potong ayam yang aku pesan sudah mulai dingin dan napsu buat menggigitnya pun sudah hilang. Tak lama Theo datang dengan tas kerilnya yang menjulang tinggi tapi terkesan kopong. Dan satu tas parasut kecil digendong di depan. Kalau boleh aku tebak, isinya drone dan laptop. (Berati kamera di keril dan masuk bagasi dong? Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Saat itu aku nggak nggeh).

Aku baca tulisanku sendiri di majalah ini untuk mengurangi rasa tegang

Rencanaku pagi itu adalah cuma ingin tidur di pesawat. Udah jangan ingatkan aku tentang apapun kecuali memejamkan mata di kursi pesawat yang entah terasa nyaman atau tidak. Aku duduk di tengah, Theo sudah request di sebelah jendela. Bodo amat, mataku sudah tak kuat bertahan. Sejak pantatku nempel di kursi, mataku pun otomatis terpejam. Terserah mau take off seperti apa aku rasanya sudah tidak peduli sampai pada akhirnya pesawat mengalami turbulance 2 kali di atas. Jujur saat itu aku terbangun dan mulai komat-kamit baca doa. Meski mata tetap terpejam.

Kondisinya berawan dan kurang baik (kata mbak pramugari lewat pengeras suara)

Alhamdulillah Allah masih beri keselamatan bagi kami dan akhirnya kami mendarat di bumi Sulawesi selatan dengan selamat sehat dan sentosa.

Perdebatan diskusi dimulai di depan tempat pengambilan bagasi. Diskusi itu tak lain adalah masalah “kemana kita setelah ini?” Dasarnya aku orangnya kelewat woles jadi merasa tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan Theo yang seolah2 menyudutkan (menurutku). Pertama aku sudah mulai lapar. Kedua aku masih terasa ngantuk. Ketiga kalau ngantuk dan lapar hinggap jadi satu, tolong jangan tanya macem-macem karena sudah pasti otakku gak akan bisa sinkron buat berfikir. Hahah (ini cuma alasan) tapi beneran.

Damri adalah transportasi yang paling murah untuk keluar dari Bandara Hasanudin Makassar

Transportasi bandara
Penampakan bus Damri yang membawa kami keluar dari Bandara

Untuk keluar dari Bandara pun kami masih berdebat berdiskusi. Mau naik apa? Secara taksi online di haramkan buat pick up di kawasan Bandara Hasanudin Makassar. Mau naik taksi pun mahal sekali. Tapi kalau aku jalan sendirian itu pun bisa aku tempuh lho dengan tujuan restoran cepat saji terdekat. Hahaha.

Setelah cari info sana-sini Theo pun mendapatkan informasi tentang Bus Damri. Paling tidak harganya lebih murah. Untuk tujuannya dia pun sudah tentukan. Bus ini ada setiap 15 menit sekali. Tapi jangan ditanya dia bakalan nunggu penumpang berapa jam? Satu jam ada, mungkin. Tarifnya flat, jauh dekat 28.000 (harga per Oktober 2018).

Trayeknya dari Bandara ke Kota dan melewati jalan-jalan berikut : Bandara Internasional Sultan Hasanuddin – Jalan Perintis Kemerdekaan – Jalan Urip Sumoharjo – Jalan Gunung Bawakaraeng – Jalan Kartini – Jalan Kajalalido – Jalan Arif Rate – Jalan Sultan Hasanuddin – Jalan Patimura (Pasar Baru) – Jalan Ujung Pandang – Jalan Ribura’ne.

Penginapan di Makassar hanya 100 ribu dengan fasilitas hotel bintang 3

Cari penginapan di Makassar nggak sesusah cari jodoh kok. Coba buka aplikasi OTA kalian masing-masing. Cari harga paling murah dengan fasilitas paling mewah. Pasti banyak sekali ditemukan. Mulai dari harga seratus ribuan sampai tigaratus ribuan. Sesuaikan saja dengan bujet kalian masing-masing. Untuk masalah penginapan disarankan jangan go show karena pasti jatohnya akan mahal, tapi kalau dompet tebel gak masalah sih. Haha

Makassar itu luas, kalau bisa kalian pilih penginapan yang dekat dengan destinasi yang ingin kalian tuju. Meskipun transportasi di sana cukup mudah layaknya di Jakarta, tapi traffic-nya pun cukup padat seperti Jakarta. Kalau kalian nggak mau buang uang di transportasi kalin bisa pilih penginapan di kawasan pecinaan Makassar yang ada di tengah kota.

Sewa motor di Makassar bisa jadi alternatif transportasi yang paling murah

sewa motor makassar
Ini penampakan motor yang kami sewa buat keliling Makassar

Sewa motor di Makassar bisa kamu jadikan alternatif berikutnya kalau mau irit. Cukup bayar 75.000 per hari (harga per Oktober 2018 ya, suatu saat bisa berubah) kalian bisa putar-putar Makassar sampai pusing. Banyak kok jasa sewa motor di Makassar. Tapi, kalau boleh aku sarankan kamu bisa sewa motor di Gracia Rental, dengan menghubungi bapak Robert Agung di 0852-5615-9818 atau 081-355-116-449. Nggak cuma motor yang bisa kalian sewa, tapi mobil pun bisa. Tarif sewanya pun bisa harian, mingguan bahkan bulanan. Alamat Gracia Rental ini ada di Jl. Abdullah Daeng Sirua Lr 7B no. 27 Makassar.

Kalau mau sewa bilang aja abis baca blognya jejakjelata.com gitu. Haha

Satu hal yang mengejutkan bagi kami saat menyewa motor di Gracia adalah kami tidak dimintain jaminan identitas. Wohh, si bapak percaya banget dengan kami yang jelas-jelas sebelumnya kami belum pernah menyewa apa lagi bertemu dengannya. Suatu kepercayaan besar yang harus kami jaga betul-betul. Untuk proses penyerahan motor pun bisa dibilang nggak ribet. Motor diantar ke hotel lengkap dengan helm, STNK dan kartu nama “Gracia Rental” padahal kami sat itu sedang keluar makan.

Saat ngembalikan pun kami nggak perlu repot untuk ketemu orang rentalnya. Motor kami tinggalkan di parkiran Mall (ini sesuai kesepakatan bersama antara kami dengan pemilik rental). Motor kami parkir di basement, letakkan helm dengan aman di jog motor atau dijepit di jog. Lalu, STNK, kartu parkir, dan uang jasa rental, kartu nama dan kunci tinggalkan di dalam jog motor (jujur yaa, ingat kita sudah diberikan kepercayaan sama beliau). Jangan lupa foto motornya dan kirimkan via whatsapp biar si pemilik nggak bingung cari posisi motornya.

***
Berfaedah, kan informasi yang aku kasih. Haha. Bilang iya gitu lhoo. Biar aku semangat buat update blog. Haha. Masih banyak lho yang mau aku tulis tentang Makassar dan Sulawesi Selatan. Kalau penasaran rajin-rajin aja cek blog aku. Haha. Share kalau memang bermanfaat. Haha.

Share This:

3 thoughts on “Sewa Motor di Makassar Bisa Jadi Alternatif Transportasi Murah”

  1. Bener-bener pengabdi konten sejati. Jam 01.00 WIB masih kuat nulis. Kalo aku sudah tak tutup laptop dan tidur dulu deh sebentar hahhaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *