Paotere, Ujung Pandang, Dan Kisah Masa Lalu

Panggilan boarding pagi itu memaksaku untuk melawan kantuk dan rasa lelah. Setelah shalat subuh aku pun bersiap untuk masuk ke dalam pesawat dan melanjutkan perjalanan menuju Ujung Pandang. Dulu, Makassar ini dikenal dengan nama Ujung Pandang. Dan aku pun lebih suka menyebutnya dengan Ujung Pandang. Degdegan rasanya, padahal ini kan bukan pertama kalinya aku naik pesawat. Mungkin karena aku ngantuk kali ya, atau karena kota tujuan? Entahlah perasaan itu muncul secara tiba-tiba.

Selama dua jam aku terbang, lengkap dengan goncangan yang sedikit membuatku merasa mual. Setelah pesawat landing, aku pun bergegas dan memastikan diri apakah benar aku sekarang ada di Ujung Pandang? Takutnya halu! Haha. Ternyata benar, dan tak sengaja bulir air mata menetes dari ujung mataku yang masih terasa mengantuk. Sontak aku ingat seseorang!

Ujung Pandang dan kenangan yang belum terurai

“Dulu, tustel saya hilang di Ujung. Entah jatuh atau entah dicuri, yang jelas hilang!” Suara itu terngiang nyata dalam telingaku. Nyata dengan logat bahasa yang khas. Dan aku pun masih ingat saat menimpalinya “Lalu papa beli lagi dong?” Jawabku sambil terkekeh memeluknya.

Hubungan kami memang dekat dan sangat dekat. Aku selalu senang dan ingin mendengarkan beliau cerita mengelilingi Indonesia dan mengelilingi dunia. Mendengarkan cerita tentang laut dan ombak. Beliau selalu cerita bahwa kota Ujung Pandang seperti rumah kedua baginya. Tempat singgah sebelum dia pergi melanjutkan perjalanan. Banyak sekali cerita yang belum terurai tentang kota ini.

“Bagus nggak sih kotanya? Sama Surabaya besar mana?” Aku selalu membandingkan kota-kota lain dengan Surabaya, kota yang spesial di mataku. Kota yang sangat berat aku tinggalkan, kota yang menyimpan beragam kenangan indah dan kota yang selalu aku rindukan.

Pelabuhan Paotere seolah menjadi pembangkit kenangan

Sebelum berangkat, aku berusaha mencari titik-titik kenangan itu tertinggal. Salah satunya adalah pelabuhan. Aku memang nggak tahu persis Papa banyak menghabiskan waktu di mana saat singgah di Ujung Pandang. Namun yang aku tahu, tak akan jauh dari pelabuhan. Entah pelabuhan yang mana pun aku tidak tahu.

Di bawah terik matahari yang panas, aku melangkahkan kaki di Pelabuhan Paotere. Sebuah pelabuhan kecil yang eksotis. Meskipun panasnya membuat kepala menjadi sedikit keliyangan, aku berusaha menikmatinya. Mencoba membuka pelan-pelan kenangan yang belum tentu aku bisa temukan.

Sebelum masuk ke kawasan pelabuhan aku sempat melihat sebuah lorong dengan dinding berwarna abu-abu lengkap dengan logo kemaritiman. Hatiku merasa damai, seolah merasakan sebuah kehangatan kasih sayangnya. Aku hanya bisa bertanya dalam hati, apakah benar ini salah satu tempat yang pernah papa kunjungi dulu?

Pelabuhan ini nampak tua dalam pandanganku. Pagi itu banyak sekali kapal yang bersandar dengan beragam aktivitas. Aku pun melihat beberapa oplet tua yang masih terlihat sangar mengangkut barang-barang. Paotere siang itu seolah membangkitkan memori indah tentang papa. Seolah mengobati rinduku padanya.

Sempat terlintas dalam benakku, andaikan sepulang dari kota ini aku bisa bercerita langsung padanya tentang apa saja yang sudah aku temui di sini. Pasti seru! Entahlah, susah buat diungkapkan dengan sebuah kata, yang ada hanyalah bulir air mata yang terus mengalir ketika ingat semua tentangnya. Semua kenangan tentangnya, dan semua semangat yang pernah beliau ajarkan kepadaku agar bisa terus melangkah meski berada dalam kepedihan.

Tak lupa juga aku berterima kasih banget kepada patner kerjaku yang sudah aku repotin selama menginjakkan kaki di Ujung Pandang. Dia seorang yang baik, pa. Sayangnya papa belum sempat mengenalnya, hanya mendengar ceritanya saja. Haha.

 

Share This:

One thought on “Paotere, Ujung Pandang, Dan Kisah Masa Lalu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *