Jadi Target Mata-Mata Pilkada di Guci Tegal Tengah Malam

“Bang Theo, kita diikutin orang bang!!! Bangun bang!!!” Teriak Aryo panik, sambil menginjak pedal gas.

Sementara aku, mencoba menenangkan diriku agar tidak ikut panik dan membangunkan teman lainnya. Pagi itu kami memang sangat lelah, tak terkecuali aku yang sedang duduk di samping sopir dan menjadi navigator jalan.

Saat itu, kami sedang melakukan perjalanan menuju obyek wisata pemandian air panas Guci Tegal. Perjalanan kami mulai dari Wonosobo sekitar jam 22.00. Kami berencana untuk istirahat di Guci Tegal dan paginya akan melepas penat dengan mandi air panas di sana.

Inilah kira-kira rute perjalanan kami

Pertualangan kembali dilakukan setelah keluar dari Kota Wonosobo.

Bagiku, menempuh perjalanan panjang malam hari itu bukanlah perkara mudah. Butuh stamina yang kuat dan mata yang tajam buat melihat kondisi jalan. Apalagi kami sudah cukup lelah setelah puas eksplore Wonosobo dan Dieng.

Mobil dikendarai oleh Aryo. Sementara yang lain bisa sedikit meregangkan otot di bangku belakang. Doa tak pernah lupa kami panjatkan sebelum berangkat. Jika waktu sholat tiba, kami pun selalu berhenti mencari masjid. Sekalian istirahat.

Jujur, ini adalah pertama kali aku melewati jalur Wonosobo – Tegal via Purbalingga di malam hari. Sepanjang perjalanan, aku nggak berhenti istiqfar dan baca ayat kursi. Haha. Berharap perjalanan kami lancar tanpa halangan apapun. Mengingat, kami sudah mengalami kejadian buruk sebelumnya.

Jalan yang kami lewati untuk menuju Guci Tegal ini sangat-sangat sempit dan banyak tikungan mesra (hanya berlaku untuk pengendara roda dua). Beberapa kali kami harus berhenti dan mengurangi kecepatan saat bersimpangan dengan mobil lain. Aku yakin, pemandangan persawahan di kanan dan kiri kami itu adalah jurang, karena malam, jadi tidak begitu nampak. Coba deh bayangkan sendiri, tengah malam jalan di jalanan seperti itu. Apa yang kamu takutkan? Kalau nggak begal, ketemu setan, kan? Aku sih milih ketemu mantan aja deh kalo gini. Tinggal senyum kecut dan nunjukin kalau aku bahagia tanpamu. Beres! Haha.

Gak tahu gimana kalau bensin habis tengah jalan atau ban bocor!

Amit-amit ya! Kalau pas jalan tengah malam gini pikiran negatif kayak gitu buang aja deh. Meskipun pada kenyataannya jarum indikator bensin kami sudah hampir mendekati huruf “E”. Jadi, sepanjang jalan, kami rela menggunakan AC (Angin Cemilir), yang mungkin lebih jahat dari Air Conditioner.

Sepanjang jalan kami berusaha mencari tempat pengisian bahan bakar. Namun, kami tak berhasil menemukannya. Malam itu, rasanya seperti berada dalam lorong waktu yang panjang dan gelap. Suasana cukup mencekam, terlebih saat Aryo berkata “Kak, gue mencium aroma nenek-nenek.”. Jujur, bulu kudukku berdiri seketika, ditambah dengan semilir angin malam yang menerobos dari sela-sela kaca jendela yang sedikit terbuka.

Untung saja, suara merdu mbak Nella Karisma, pelantun lagu dangdut kekinian dari handphone Aryo berhasil memecah keheningan dan ketegangan. Semoga dan semoga, bensin dalam tangki masih bisa sampai di Guci. Pulangnya? mungkin bisa dipikir nanti. Bukankah setiap masalah pasti ada jalan keluarnya? Anggap saja sebuah proses agar lebih dewasa. Haha.

Tema obrolan tentang pilkada dan piala dunia yang tenggelam

Pintu masuk Guci (gambar diambil pada siang hari, saat pulang)

Semangat dan lelah seolah sudah menyatu pada raga kami. Hingga beberapa obrolan penting mengenai pilkada dan piala dunia pun terlewat. Padahal jika kita berselancar di sosial media tentu kedua topik tersebut sudah menjadi trending topik. Kami, hanya memikirkan bagaimana bisa sampai Tegal dengan cepat dan selamat. Tidur dan paginya berendam masal di kolam. Semoga saja penjaga Guci tak lupa merebus air untuk kami berendam. Haha.

Saat mobil kami memasuki wilayah Guci, rasanya lega! Artinya, jalanan sempit dengan tikungan mesra berhasil kami lalui. Suasana masih gelap, jam menunjukan pukul 01.00 dini hari. Kami pun melihat beberapa kendaraan yang lalu lalang dan bertemu segerombolan orang di titik-titik tertentu. Kami pikir, wisatawan yang kendarannya tengah mogok di jalan.

Perjalanan kami pun dirasa aman-aman saja. Sedikit rileks dari sebelumnya. Teman-teman yang berada di belakang pun terlihat cukup pulas tidurnya. Aku? Lumayan bisa bernafas dengan lega. Gapura “Selamat Datang di Pemandian Air Panas Guci” pun sudah kami lalui. Tandanya kami sudah dekat. Aryo pun mengurangi laju kendaraan dan kami sempat berhenti sejenak untuk mencari lokasi area parkir.

Tiba-tiba….

Ada dua orang mengendarai sepeda motor berhenti tepat di samping sopir. Keduanya mengengok ke dalam mobil dengan penutup kepala dan hanya terlihat sepasang mata saja. Aku dan kedua orang itu sempat beradu mata. Aryo, yang tengah panik langsung menginjak pedal gas dan melaju kencang meninggalkan mereka sambil teriak-teriak panik membangunkan teman-teman yang lain.

Sementara aku, hanya bisa speechless. Kami sempat kejar-kejaran dengan kedua orang bermotor itu, sampai aku melihat mereka melaju naik mendahului kami. “Berhenti cari tempat yang ramai Yo!” Kata Theo yang rupanya sudah terbangun dan tengah mengawasi situasi.

Selang beberapa meter dari tanjakan, kami berhenti tepat di depan sebuah penginapan. Di sana terlihat ada beberapa penjaga penginapan yang sedang berjaga dan menawarkan kami penginapan.

“Ada kamar kosong mas.” Kata salah satu pemuda yang ada di depan hotel tersebut. Dengan wajah panik kami pun akhirnya mengadu kepadanya kalau kami dibuntuti orang. Aduh, masa iya kami mau dibegal? Duh, serem tau gak sih? Coba deh, kalian bayangin kalau ada di posisi kami? Apa yang akan kalian lakukan malam itu? Aku sih cuma bisa komat-kamit baca doa.

Menanggapi aduan kami, penjaga hotel pun segera mengejar pengendara motor itu. Nggak lama lagi mereka pun kembali. Namun, sebelum mereka kembali Theo sempat bertanya tentang mobil putih yang berhenti tepat di belakang kami. “Itu mobil siapa?” Katanya. Nah, mana aku tahu, itu mobil siapa? Setahuku kami cuma dibuntuti sama orang bermotor saja.

Masuk daftar target mata-mata pilkada

Setelah semalam diduga sebagai mata-mata pilkada

“Mas, jadi gini, mobil ini dicurigai sebagai mata-mata pilkada. Sebaiknya salah satu dari kalian ikut saya betemu orang tadi!” Kata mas penjaga hotel setelah kembali dan bertemu kepada kami.

What? Mata-mata pilkada? Kocak banget nggak sih? Kami mata-matain apa dan siapa, coba? Apa urusan kami sama pilkada? Apa karena mobil kami plat B? Pengan ngakak, tapi lagi panik? Geram, pengen noyor bapak-bapak yang menatapku tajam tadi. Serius!

Akhirnya kami berunding dan kami sepakat untuk menemui orang bermotor tadi bersama-sama. Masa iya salah satu dari kami? Kalau di sana terjadi apa-apa gimana? Ya, meskipun kami rame-rame ke sana pun belum tentu aman juga. Tapi setidaknya kan risikonya tidak terlalu besar. Belum juga kami menuju ke sana, bapak-bapak bermotor itu kembali dan menemui kami. Ternyata ada dua motor dan masing-masing dikendarai dua orang. Dan, mobil di belakang kami juga bagian dari mereka.

Sebelum kami menjelaskan kepada bapak-bapak tersebut. Mereka minta maaf terlebih dahulu kepada kami. Iya deh Pak, masih bulan syawal jadi kami maafkan. Mereka ternyata insecure kepada kami, mereka mengira kami adalah mata-mata salah satu kandidat pilkada lantaran kami melaju cepat dan sesekali berhenti seolah-olah sedang mengawasi sesuatu. Padahal kami sedang cari jalan. Sementara kami pun curiga dan takut kalau mereka adalah begal yang ingin merampok kami.

Ternyata bapak-bapak tersebut adalah banser yang tengah jaga malam mengamankan situasi pilkada. Kabarnya ada beberapa isu negatif yang beredar di daerah sana.

***

Ekspresi setelah buang sial dan buang daki. Haha

Setelah semua aman, kami pun melanjutkan perjalanan mencari tempat parkir. Kami akan istirahat dan menunggu pagi di dalam mobil. Tarik napas panjang deh. Saat matahari terbit kami akan berendam buang sial dan buang daki. Haha.

Oh, ya! Sedikit pesan buat kalian nih, kalau sedang melakukan perjalanan malam, sebaiknya isi full BBM, biar nggak ada alasan buat buka jendela. Jangan lupa berdoa sebelum berangkat dan yang paling penting adalah positif thinking.

Share This:

27 thoughts on “Jadi Target Mata-Mata Pilkada di Guci Tegal Tengah Malam”

  1. Mayan menegangkan, bikin otot menggelinjang nih critanya…tp di bbrp spot, msh ada kesalahan ketik redaksional yg ckp mengganggu. *Bataltegang

  2. Kapan ya dapet serangan fajar haha *malah ngarep (-__-,)
    Sudah lama banget ga ke Guci, apa kabarnya sekarang? makin ramai sekali sepertinya 🙂

  3. Mengisi penuh bahan bakar dalam perjalan malam itu perlu, apalagi melewati daerah yang belum pernah dilewati. Mungkin kalian emang mencurigakan, jdinya perlu diikuti..wkwkwkk

  4. Dari tampang_tampangnya emang mencurigakan nihh.. Lol. #becanda

    Berani banget yakk.. Jalan malam malam tanpa persiapan buat jalan malam

  5. Jadi kejar2an kaya di tipi2 ya kak?wkwk
    Apa neh klo leh tau judul ftvnya klo beneran di tayang di tipi x.x
    Tp untung pd akhirnya selamat semua ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *