Rute Angkutan Umum Menuju Selo Boyolali

Sial! Hujan deras mengguyur kota Semarang sore itu membuatku hampir mengurungkan niat untuk berangkat ke Desa Wisata Samiran, Selo, Boyolali. Sementara teman-teman lainnya sudah berangkat ba’da salat Jum’at. Hanya aku yang masih tertahan hujan dan beberapa tugas kantor.

Berjemur biar nggak njamur! Photo by om Wahid

Rasanya sayang banget kalau aku membatalkan untuk ikut ke Selo, dolan berasama teman-teman di Desa Wisata Samiran. Pasalnya aku ingin banget ikut memerah susu sapi pagi hari di sana!

Memutuskan untuk bermalam di Salatiga

“Udah, kamu nginep aja di Boyolali, paginya baru berangkat ke Selo!” Aduh, firasat udah nggak enak kalau begini. Benar saja, kabarnya untuk naik ke Selo harus sebelum Ashar, karena kalau ba’da Ashar kabut sudah turun dan kendaraan umum untuk menuju ke Selo dari Boyolali sudah tidak ada.

Waladalah...trus aku pie? Mana udah terlanjur naik BRT (bus trans Semarang) untuk menuju Sukun, Banyumanik (tempat pemberhentian bus jurusan Solo dan Jogja).

Kepalang tanggung, akupun segera mencari tempat tumpangan untuk bermalam di Salatiga atau Boyolali. Paling gampang nginep di Salatiga. Singkat cerita, aku pun bermalam di rumah Bulek Tun (buleknnya Esti) hehe. Makasih bulek sudah mau direpotin. (Kali aja bulek Tun Baca)

Semarang – Salatiga pun aku tempuh dengan durasi 1 jam 30 menit. Esok paginya aku berencana untuk melanjutkan perjalanan ke Selo, Boyolali.

Salatiga – Boyolali – Selo bersama pak sopir

Pak Sopir bawa daku ke Selo..!

Pagi itu, tanpa mandi (cuma gosok gigi dan cuci muka) lantaran air di bak mandi bulek Tun sedingin air es, aku sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tapi, bulek Tun mencegahku, dengan alasan “Mbak, sarapan dulu, ngeteh dulu!” Walahh, malah betah kan yak? Haha.

Mau nggak mau, aku pun manut sama bulek Tun. Demi menghargai beliau karena sudah dibuatkan teh panas dan sarapan. Lumayan untuk menghalau hawa dingin dan mengobati lapar. Aduh bulek ini nikmat banget!

Setelah selesai sarapan dan ngeteh, aku pun pamit sama bulek Tun untuk melanjutkan perjalanan ke Selo.

Di sinilah pertualangan dimulai!

Salatiga – Boyolali
Lanjut….!

Dari Salatiga ke Boyolali, aku melanjutkan perjalanan naik bus jurusan Solo dan mengakhiri perjalanan di terminal Boyolali. Aku cuma membayar Rp. 10.000 untuk trip tersebut.

Setelah turun di terminal Boyolali, aku tak menemukan satu pun kendaraan umum jurusan Selo. Hanya ada angkutan berwana oranye dengan rute keliling kota. Setelah bertanya dengan si sopir, dia justru memberikan info kalau saya harus naik angkotnya sampai pasar Sunggingan dan oper naik bus mini menuju Cepogo. Nggak jauh dari terminal kok pasarnya, dan hanya membayar Rp. 3.500.

” Kalau jam segini, bus untuk menuju Selo udah susah mbak, coba mbaknya agak pagi pas bareng bocah sekolah! ” Tuturnya.

Timbang banyak mikir, aku manut saja. Toh, bapaknya juga udah kasih info yang saya butuhkan. Positif aja sih mikirnya.

Boyolali – Cepogo

Coba liat, kerangka busnya sudah banyak yang berkarat!

Bersama nenek-nenek penjual sayur aku melanjutkan perjalanan menuju Cepogo. Aku memulai perjalanan dari pasar Sunggingan. Setelah naik minibus yang sedang nge-time itu, aku lantas bertanya pada si Sopir. ” Pak, leres niki jurusan Cepogo? (Pak, benar ini jurusan Cepogo?)” Tanyaku dengan menggunakan bahasa Jawa.

Si sopir menatapku heran sebelum menjawab pertanyaan ringanku itu. “Nggeh, mbak, mbak’e ajeng teng pundi? (Iya mbak, mbaknya mau kemana?)” Jawabnya.

“Kulo badhe teng Selo pak.” Timpalku menjelaskan kalau aku mau pergi ke Selo. Dan, pak sopir yang memakai baju pink itu memberikan info kalau aku harus oper lagi dari pasar Cepogo menuju Selo dengan kendaraan yang serupa (bus mini).

Beliau juga menjelaskan kalau kendaraan menuju Selo sudah habis kalau siang begini. Harusnya aku berangkat bersama anak-anak sekolah. Berarti apa yang dikatakan sopir angkot tadi benar. Tuhh kan, nggak boleh suudzon!

Ohya..! Dari pasar Sunggingan ke Cepogo kita harus bayar Rp. 5.000. Itungannya murah sih, karena jaraknya lumayan jauh. Tapi yang bikin aku mengeryitkan dahi adalah kelayakan busnya. Itu bus udah macam bus tempur, besi-besi doang. Untungnya jognya masih ada busanya jadi masih terasa empuk untuk diduduki.

Bonus nonton tipi layar datar yaa gaes!

Meskipun begitu, tak luput dari pandanganku sebuah tv layar datar ukuran 15″ terpasang di langit-langit bus. Haha. Sungguh tak berfaedah!

Cepogo – Selo
“Sampun mbak, mangke mbak’e numpak bus seng ngarep niku nggeh, niku mangke dugi Selo! (Sudah mbak, nanti mbaknya naik bus yang di depan itu, ya!)” Kata pak Sopir sambil menunjuk salah satu minibus yang penampakannya agak lumayan bagus dari minibus miliknya.

Setelah membayar uang sejumlah Rp. 5.000, aku pun turun. Tanpa babibu, aku pun menuju bus yang sudah direkomendasikan sama pak sopir tadi. Tapi, kok, supir busnya nggak ada? Wahhh, bakal lama nih jalannya.

Pemandangan yang sempat aku tangkap saat bersama bang Opang menggunakan kamera hape.

Aku adalah penumpang pertama yang masuk busnya. Disusul lagi dengan ibu-ibu paruh baya masuk. Sepertinya dia baru selesai belanja. Datang lagi nenek-nenek dengan membawa bakul rotan dan beberapa kantong plastik berisi belanjaan.

Aku sempat bertanya pada nenek itu yang rupanya satu arah dengan tujuanku. Tak lupa aku menanyakan ongkos yang akan aku bayar untuk menuju Selo. Info yang aku dapatkan, aku cukup membayar dengan selembar uang lima ribuan.

” Ngojek nggeh saget mbak, tapi nggeh radi awis. ( Naik ojek juga bisa mbak, tapi ya agak mahal)” Tuturnya.

Nggak sabar……..!

Aku melirik jam tangan sudah makin siang aja! Trus ini jalannya kapan? Sopir busnya aja nggak tau ada di mana?! Grrrrhhhh.

Yowes! Aku turun aja! Aku memberanikan diri menuju pangkalan ojek. Terjadilah penawaran sengit antara aku dan si opang. Dihhhh! Sebelnya aku kalah dan harus rela keluar duit Rp. 25.000.

Akhirnya, aku bersama abang Opang naik ke Selo melewati tanjakan dan tikungan tajam. Duhh, gimana jadinya kalau perjalanan sore hari dengan kabut yang tebal ya?

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menikmati pemandangan yang indah, udara yang sejuk dan bersama si abang Opang. Hingga pada akhirnya aku sampai di polsek Selo. Di belakang polsek Selo itu sebuah Desa Wisata Samiran berada.

***

Senyum ceria dan puas saat ketemu dengan teman-teman

Akhirnya aku bisa melepas lelah dengan teman-teman blogger deswita di sana. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dan menguras energi. Huft!

Jadi, buat kalian yang mau datang ke Desa Wisata Samiran Selo Boyolali dengan menggunakan kendaraan umum. Kamu bisa mengawalinya dari terminal Boyolali. Ingat, usahakan pagi untuk menuju Selo, bersama dengan anak-anak sekolah. Biar kamu tidak dua kali kerja naik bus mininya.

Tapi kalau sudah kelewat siang. Kamu harus melalui rute Boyolali – Cepogo – Selo. Seperti yang sudah aku jabarkan di atas. Sebenarnya angkutan untuk menuju ke Selo banyak, hanya saja penumpangnya yang tidak ada. Kebanyakan mereka menggunakan kendaraan pribadi.

Baca juga beberapa pengalaman menarik menuju Desa Wisata Samiran, Selo Boyolali lainnya :

Berkunjung ke DEWI SAMBI (1) : Gancik Hills Top

Menelusur Indah Merbabu-Merapi di Dewi Sambi

Share This:

52 thoughts on “Rute Angkutan Umum Menuju Selo Boyolali”

  1. Wah, bener2 perjuangan menuju Selo.. salut Mia.. mungkin kalo kamu mandi dulu, sopir bus nya cepat datang Mi.. *UPS..hehe…

  2. Lah murah kalo 25ribu. Khan jauh dan jalannya nanjak terus. Pasti boros bensin.

    Bebek goreng di kiri jalan sebelum pertigaan new selo enak dan murah

  3. Sebenernya kalo ada angkot ke tempat2 seru macam Selo lebih asik lagi acara piknik dibanding harus pake kendaraan pribadi macam mobil atau motor,,, males nyetir,, wkwkwkwk. Tp ya itu angkot jarang karena nggak ada penumpang, sedangkan penumpang nggak yakin dg ketersediaan angkot jadinya nggak ‘njagakke’ angkot. Belum lagi kelayakan angkot,, mengingat jalanan tempat2 eksotis macam Selo ini penuh dengan tikungan & ditemani jurang. Lingkaran setan.

    1. Yaa begitulah, tapi emang sebelum kita dolan ke sana kudu cari2 info juga sihh. Setuju dengan kagalauan km kak, krna aku kadang juga berfikir seperti itu. Haha

  4. Naik Angkot itu seru apalagi kalo ramean jadi ceritanya makin seru. Trus dateng dan singgah ke tempat tempat keren yang tak banyak dilirik orang Bisa jadi pengalaman tersendiri. Btw Aku kok horor lihat stir mobil nampak reot itu yaaaa

  5. Masih di Jawa namun masih sulit untuk sarana transportasi. Tapi hal seperti inilah yang menantang yang membangunkan Adrenalin, ya Mbak Mia. Yang membuat perjalanan ke Selo jadi tambah memikat

  6. wow pengalaman seru ya.
    Dulu KKN disana, yang serem kabut malam, dingin bikin ngantuk :D. Belum jalan berlubangnya g keliatan

  7. Infonya lengkap nih mbak, cocok nih infonya buat aku yang kalo mau jalan-jalan selalu naik angkutan umum karena aku nggak punya kendaraan pribadi. Makasih sharingnya mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *