Bulu Babi, Pulau Gosong dan Susur Sungai Candu Lasem

Ati-ati pak’e, akeh bulu babine….hiiiiiii…..!” Kaya Yoga si bocah kecil yang turut menyusuri sungai Babagan.

Bocah kelas satu SD itu nampak khawatir dengan bapaknya yang tengah mendorong perahu yang kami tumpangi. Perahu kami memang sedang mendarat di pulau Gosong. Pulau yang penuh dengan karang-karang mati. Meskipun kami sudah sampai di pulau Gosong yang merupakan destinasi terakhir dari kegiatan susur sungai, kami memilih tidak turun dari perahu.

Yoga (7), anak si bapak nelayan yang nampak asik bermain air ketika kami berhenti di muara sungai

Selain banyak bulu babi berkeliaran, kami takut merusak karang-karang yang masih hidup di pinggiran pulau. Ya…sudah, kami hanya tinggal di atas perahu sambil menikmati teriknya matahari.

***

Susur sungai Babagan merupakan salah satu potensi wisata yang layak dijadikan sebuah aktraksi baru.

Keseruan kami saat susur sungai

Semua orang tahu, kalau Lasem merupakan destinasi wisata yang berpotensi dengan cerita masa lalunya. So, kalian yang punya rencana atau keinginan untuk datang ke Lasem pasti sudah tahu di sana kalian mau ngapain. Ya kan?

Cerita masa lalu Lasem memang sungguh menggoda iman para traveler untuk bersambang ke sana. Legenda candu, tiongkok kecil serta pusakanya yang berupa batik tulis Lasem seolah tak akan pernah habis dikupas tuntas dalam waktu sekejap.

Rute sungai yang gagal kami lewati karena pendangkalan

Saat kalian datang dan ingin tahu lebih dalam tentang Lasem, ada baiknya kalian ikut susur sungai. Bukan tanpa alasan, melainkan untuk menambah pengetahuan tentang sejarah Lasem. Pasalnya sungai yang akan kalian susuri merupakan sebuah jalur perdagangan dan penyelundupan candu atau opium.

Tentunya kalian pernah mendengar bahwa saudagar dari Tiongkok datang dan mendarat di Lasem pada abad ke-18. Melalui sungai inilah proses perdagangan berlangsung dan sebenarnya sungai ini bukanlah sungai alami melainkan sungai buatan. Itu sebabnya di sekitar sana ada sebutan desa Soditan, yang konon berasal dari kata “sodet” yang berati proses pembelahan secara sengaja.

Bekas galangan kapal pada jaman Belanda dulu

Uniknya lagi, di tepian sungai tersebut banyak terdapat bekas galangan kapal lho! Galangan kapal ini dibuat oleh Belanda pada masa Kolonial. Jika kamu beruntung kamu pun bisa melihat bangkai kapal yang diperkirakan sudah ada sejak zaman old, yaitu zaman kolonial.

Susur sungai ada kaitannya dengan rumah lawang ombo

Saat kalian datang ke Lasem, tentunya kalian akan melihat banyak sekali rumah-rumah tua yang masih berdiri kokoh. Salah satunya adalah omah lawang ombo, atau kebanyakan orang mengenalnya dengan rumah candu. Nah, rumah ini ada kaitannya dengan susur sungai lho.

Begini….

Saat kamu masuk ke dalam rumah candu, pasti kamu akan melihat sebuah lubang mirip sumur dengan diameter 1,5 meter. Konon, sumur itu dulunya berdiameter kurang lebih 3 meter. Ceritanya, dulu sumur tersebut terhubung dengan sungai Babagan dan sebagai sarana untuk menyelundupkan candu.

Melalui susur sungai, kamu bisa mendapatkan cerita tentang bagaimana candu itu dibawa dari dermaga hingga menuju rumah candu. Tapi sanyang, saat saya dan teman-teman menyusuri sungai Babagan, kami tidak bisa sampai depan rumah candu karena debit air sangan rendah sehingga perahu yang kami tumpangi sering kandas.

Pulau Gosong menjadi salah satu destinasi terakhir susur sungai Babagan

perjalanan kami dimulai dari sini

Mulai dari gerimis hingga terik, kami puas-puaskan untuk susur sungai Babagan. Tak jarang pula kami mengemil bekal yang sudah dibawa dari homestay. Gelak tawa kami selalu pecah pada setiap obrolan. Kalau sudah begini rasanya sudah lupa dengan semua masalah duniawi. Hahaha.

Masih bisa action dengan payung pink yang unyu

Capek? Rasanya kata itu dipendam dulu untuk tidak diungkapkan. Meskipun sebenarnya sesekali timbul dalam raut wajah kami.

“Lanjut pulau gosong yuk!” Ajakan kak Eksan pemandu kami seolah membangkitkan semangat kami.

Bulu Babi yang masih hidup bisa kami lihat jelas dari atas perahu

Saat menuju pulau gosong gerimis sudah reda dan beralih terik matahari yang mulai menyengat kulit kami. Angin laut yang panas pun tak pernah segan menerpa wajah kami. Tapi kami masih saja menikmatinya. Bahkan kami pun masih sempat bercanda-canda ria.

Di tengah perjalanan menuju pulau gosong kapal kami lagi-lagi kandas. Sehingga penumpang cowok pun turun untuk mendorongnya. Untungnya masih bisa teratasi dan perjalanan bisa dilanjutkan sampai pulau Gosong.

“Teman-teman, kalau mau turun silahkan, tapi jangan injak karang yang masih hidup yaa, hati-hati juga banyak bulu babi.” Mas Eksan kembali mengintruksi kami. Tapi anehnya, kami justru mager di atas perahu sambil mengamati bulu babi yang masih hidup. Sementara aku yang norak tak berhenti teriak-teriak sambil memotret bulu babi. Hahah. Dasar norak!

***

Setelah puas norak-noraknya kami pun kembali ke tambatan hati perahu. Beginilah kami menikmati Lasem dari sisi yang berbeda. Dari laut lepas, kami bisa melihat perbukitan hijau dan birunya laut. Betapa kaya Lasem ini.

Oh ya, jika kamu ingin menikmati susur sungai ini kamu cukup menyewa perahu sebesar 350 ribu saja dan bisa ditumpangi paling banyak 8 orang. Kalau kalian berasal dari luar kota dan naik bus AKAP Semarang – Surabaya, kamu bisa turun di jembatan Babagan. Dari sana kamu bisa melanjutkan perjalanan menuju desa Dasun dengan naik ojek pengkolan atau ojek online (ada tapi masih jarang).

Share This:

17 thoughts on “Bulu Babi, Pulau Gosong dan Susur Sungai Candu Lasem

  1. Keren ternyata ya. Sering ke lasem tapi ga pernah denger cerita soal babagan, pulau gosong dan bulu babi. Hehehe