Begini, Rasanya Dolan Ke Luar Negeri Sendirian?

Mungkin dari pengalaman kalian, hal ini bisa jadi hal biasa. Tapi bagi aku, ini luar biasa. Semua itu karena kemampuanku berbahasa asing yang tidak terlalu lancar alias masih sering gagap dan aku pun tergolong manusia yang ceroboh. Jadi takutnya nih, saking cerobohnya bisa terjadi salah baca jadwal penerbangan atau bertindak sesuatu yang menyebabkan hancurnya dunia persilatan. Kan bisa berabe!!!

Buktinya, perjalananku ke Melaka seorang diri pun gara-gara kecerobohanku yang salah memesan tiket. Duh, ini adalah satu kesalahan yang fatal. Aku hanpir saja merobek tiket kalau tidak mendapatakan izin cuti dari kantor. Aku pun harus iklas kehilangan uang penginapan dan tiket pesawat.

Tapi, kata orang itu benar. Rejeki gak akan lari kemana. Ya, kayak perjalanku ini yang nggak jauh dari kata “Bejo”.

Sempat merasa ragu untuk jalan seorang diri dan pada akhirnya aku yakin nekat!

Nih tampang sok-sok an yang nekat dolan sendiri. Hahaha

Aku Terbang di hari minggu pagi yang cerah untuk menuju Kuala Lumpur. Dengan hati riang dan sedikit was-was. Aku mengenakan setelan jeans dan kaos lengan panjang dengan alas kaki sandal jepit Haha. Ceritanya sih mencoba buat percaya diri dan asal nyaman aja.

Setelah tiba di bandara KLIA2 berusaha jalan sesuai itinerary yang aku miliki. Bukan aku yang bikin. Cari tiket bus untuk menuju Melaka, cari paket data untuk komunikasi, dan cari makan untuk mengisi perut yang kosong.

Ya, begini ini rasanya jalan seorang diri, sepi

Resiko pergi sendirian yaitu nunggu bus pun sendirian, ngalamun nggak jelas, liatin orang yang datang dan pergi dari bandara, nonton orang berantem dengan pasangannya bahkan nonton orang bermesraan di area publik. Saat itu aku terlihat seperti orang stress, cengar-cengir sendirian, ngakak nggak jelas sendirian. Padahal aku sedang menertawakan diriku sendiri.

Setelah sekian lama menunggu nggak jelas, akhirnya bus menuju Melaka datang. Semoga nggak salah bus ya! Karena di badan bus tidak tertulis “Melaka” sebagai tujuan akhir. Tapi beberapa ibu-ibu tanya kepadaku “Mau ke Melaka?” Aku pun menjawab “Iya” atau sekedar menganggukkan kepala. Andaikan aku salah naik bus di negeri orang aku nggak sendirian. Haha

Ekslusif bus menuju Melaka

Penampakan bus dari luar

Setelah sopir bus membuka pintu bus dan mempersilahkan kami masuk, aku pun kembali bertanya pada sang sopir untuk meyakinkan bahwa bus yang akan aku naiki menuju ke Melaka sentral. Ternyata benar, setelah aku berada di kabin bus, aku pun norak-norak bergembira melihat desain bus yang benar-benar ekslusif.

ini dalemnya

Bus tersebut mempunyai seat berkapasitas 1-2, karena aku sendirian aku dapat seat yang hanya diduduki oleh satu orang saja. Seatnya luas, jarak antara depan dan belakang pun jauh. Jadi rasanya kamu nggak akan merasa berdosa bila memundurkan sandaran kursi. Di bagian kaki pun ada tempat untuk meluruskan kaki. Benar-benar istimewa.

Susahnya mencari alamat penginapan

Saat datang pertama kali di Melaka rasanya seperti masuk dalam lorong waktu yang tak kunjung usai. Bangunan tua, kuliner yang lezat, dan keramahan masyarakat di sana membuat aku merasa pede untuk jalan seorang diri. Dan pada akhirnya aku pun berkata “Tempat ini aman buat solo traveler!”

Namun, sebelum kesan itu timbul….

Setelah turun dari bus, aku pun memutuskan untuk duduk sejenak dan berfikir. Kemana aku akan pergi? Jika mau pesan taksi online di mana aku harus menunggunya? Benar saja, setelah memesannya kami pun kebingungan dan saling mencari.

Aku sempat bingung di terminal Melaka Sentral. Pasalnya aku tak tahu kemana aku akan pergi setelah turun dari bus. Aku nggak ngerti di mana aku harus memesan dan menunggu taksi online untuk mengantarkanku ke hostel. Di terminal, aku pun enggan bertanya kepada seseorang di sana lantaran takut.

Beginilah suasana jalanan sekitar hostel

Kebingungan kedua adalah saat mencari hostel yang sudah dipesan. Alamatnya sih sudah jelas. Tapi kenapa setelah sampai di lokasi,  hostel  tempatku menginap tak kunjung terlihat. Sudah dua kali aku dan sopir taksi online menyusui jalan kampung pantai. Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk turun di jalan dan mencarinya sendiri dengan berjalan kaki.

GPS sudah terpasang dan lagi-lagi menujukkan tempat yang sama. Tapi memang tidak ada tanda-tanda hostel di sana yang terlihat hanyalah jajaran rumah toko. Duh, mana sudah menjelang petang dan jalan seorang diri. Takunya ada yang aneh-aneh. Rupanya hostel saya tertutup oleh kedaraan dan lucunya tidak adanya papan nama tertera di depan.

Duh, ribet juga yaa…

***

Jalan seorang diri memang harus lebih waspada dan berhati-hati. Meleng sedikit bisa berabe. Semua pengeluaran harus diatur dengan baik biar tidak habis ditengah jalan. Informasi yang kita miliki pun harus benar-benar komplit. Intinya adalah yakin bahwa kedatanganmu punya niat yang baik dan selanjutnya, hal postif akan mengikuti.

 

 

 

Share This:

14 thoughts on “Begini, Rasanya Dolan Ke Luar Negeri Sendirian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *