Jangan Pernah Sungkan Untuk Singgah di Kota Baru, Nak!

Pepatah mengatakan bahwa, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Begitulah, jika ada yang bertanya kepadaku, kenapa aku suka traveling. Papa lah yang mengajariku buat mencicipi kehidupan baru di tempat yang baru.

Masih nyata terngiang dalam ingatanku saat beliau berkata “Kamu ndak mau datang ke kota baru untuk mencicipi sepintas tentang kehidupan di sana. Kalau kamu nggak tertarik tinggal lama, paling tidak singgah sebentar.” Tapi saat itu aku berontak karena aku nggak mau meninggalkan kota Surabaya lantaran kepentingan dinas papa.

“Coba lihat, papa udah pernah pergi ke beberapa negara di dunia ini.” kata papa kepadaku sambil menunjukkan beberapa foto di dalam album yang sudah usang sampulnya. Aku? hanya tersenyum kecut pada saat itu. Sekarang, aku baru mengakui bahwa Papa seorang yang hebat.

***

Sampai pada akhirnya anak gadisnya teracuni dan terjerumus di dunia traveling. Tapi yang terjadi adalah papa jadi makin over protective. Setiap jengkal kakiku beranjak dari beranda rumah, papa selalu mengirimkan pesan singkat kepadaku hanya untuk bertanya ” Sudah sampai mana, Ya?”

Jika aku lupa memberinya kabar atau lupa membalas pesan singkatnya beliau pasti ngomel  dan langsung menghubungiku via telepon. Ya, memastikan bahwa anak gadisnya dalam keadaan aman. Hingga pada suatu saat….

“Pah, bulan Mei aku mau pergi ke Vietnam ya!” Kataku saat papa dan mama asik nonton tayangan favoritnya di televisi, sementara aku mengambil posisi duduk di antara mereka.

“Ngapain???” Jawab papa dengan nada yang agak tinggi.

Sontak akupun kaget mendengarnya. Bukanya papa nggak pernah melarangku pergi kemanapun aku mau? Bukannya kemaren-kemaren menatangku untuk pergi ke luar negeri. Tapi kok….?

“Kamu nggak boleh pergi ke sana!!! Papa nggak setuju! Negara bahaya!” Lanjut papa dengan nada yang semakin meninggi.

“Lho….kenapa? Aman kok pah, lagian aku nggak menemukan berita konflik di sana saat ini. ”  Kataku meyakinkan.

“Pokonya nggak boleh!!! Kamu boleh pergi ke negara lain asal jangan ke Vietnam.”

Rasanya campur aduk mendengar pernyataan papa yang tidak mengizinkanku untuk pergi ke Vietnam. Padahal semua rencana sudah tersusun matang. Besoknya aku kembali merayunya kembali namun papa pun tetap melarang. Entah apa penyebabnya.

Namun akhirnya sebuah izin untuk pergi aku kantongi. Tapi untuk ke Thailand, bukan ke Vietnam. Duh, aku terpaksa bohong demi mendapatkan izin. Untung saja papa tidak mengecek tiket pesawat yang aku miliki. Hanya khawatir kalau nantinya akan memeriksa paspor setelah pulang traveling.

Sebenarnya aku pun nggak ada maksud buat membohongi papa, cuma ingin membuktikan pada beliau bahwa negara tersebut sudah aman. Takut kualat sih sebenarnya, takut jika di sana benar-benar terjadi konfilik atau terkena musibah lain. Duh…amit-amit.

Benar saja, meskipun pernalananku selama di Vietnam lancar-lancar saja, tapi aku dan teman-teman sempat hampir kejambretan. Apakah mungkin karena aku membohongi beliau? Entahlah. Hehe

***

Traveling kini sudah menjadi bagian dari hidupku. Nggak ngetrip sebulan rasanya udah kayak setahun. Mungkin memang lebay kedengarannya. Tapi ya begitulah, singgah di kota baru itu benar-benar mengasikkan. Kita bisa dapat pengalaman baru, cerita seru bahkan teman baru.

Kadang niatnya cuma singgah, tapi malah jadi betah lantaran jatuh cinta dengan budaya daerah setempat. Punya semangat traveling adalah modal utama untuk bisa mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah terjamah oleh kaki ini. Modal untuk berbagi kepada semuanya tentang keindahan dunia ini.

Sampai sekarang masih banyak rencana untuk pergi ke beberapa tempat itu. Biasanya, sepulang traveling aku selalu cerita kepada papa, sebelum jari-jemari ini menari di atas keyboard dan membagikan cerita kepada kalian.

Meskipun penebar semangat buat traveling sudah berpulang.  Tapi, semangatku akan terus mengalir melangkahkan kaki ke tempat-tempat baru dan eksplore keindahan negeri ini dan menikmati kemegahan dunia ini.

***

Tulisan ini muncul lantaran rasa rindu yang mendalam terhadap sosok yang bijaksana dan selalu menjadi panutan anak-anaknya. Kini akupun hanya bisa berdoa dan menitihkan air mata saat melihat dan mengenang beliau.

 

Share This:

12 thoughts on “Jangan Pernah Sungkan Untuk Singgah di Kota Baru, Nak!

  1. Tetap semangat kak, beliau sudah bahagia disana 🙂
    I feel you kok, meski dulu ga terlalu deket banget sm bapak, tp ketika beliau berpulang ttp aja sedih.

    Mirip seperti ayahnya kak mia, bapakku juga dulu yg mengajarkan aku bagaimana menjeja tempat-tempat baru. Menyapa setiap orang yg ditemui sepanjang perjalanan.

  2. Bener pah aku boleh ke negara manapun selain Vietnam? *trus coba sebutin Sudan gitu hwhwhw.

    Ternyata darah penjelajah itu menurun ya. Aku kayaknya nurun dari ayah juga deh, semasa bujang udah kemana-mana. Alhamdulillah anaknya main lebih jauhan dari beliau.

    Hayo main lagi yang jauhan Mia, biar papanya bangga punya anak berani hehe amiiin.

    1. iya bang nurun, klo bang Yayan kan menanag tuh. Aku masih kalah sama papa. Apalah aku yang dibandingan beliau pernah keliling Eropa hahaha. Ini planingnya maen yang jauh bang…haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *