Toboali yang Selalu Berkesan di Hati

“Kamu ke Bangka acara apa? Diperjelas dulu, hati-hati kamu, sekarang banyak sekali modus kejahatan yang kasih iming-iming begitu.” Kata papa yang masih terngiang di telingaku.

Keseruan trip yang kami lakukan di Toboali

Kini aku berada di dalam pesawat dan menatap dalam ke luar jendela yang gelap dan berkabut sebelum mendarat di Bangka untuk ke dua kalinya. Rasanya sudah tak ada lagi yang khawatir seperti itu kali ini. Ya, saat aku akan berangkat pun aku hanya berpamitan kepada mama yang hanya berpesan kepadaku untuk berhati-hati di jalan.

Datang ke Bangka memang sudah bukan kali pertama buat aku. Tapi trip ini adalah trip pertama yang aku lakukan setelah libur ngetrip beberapa bulan. Sejak papa sakit sampai papa pergi ke Surga. Rasanya malas banget untuk mengawali pergi ngetrip.

***

Pemandangan pulau Bangka dari balik jendela burung besi

Bangka……!

Saatnya liburan Sist! Kamu buang wajah murungmu itu, ayo bersenang-senang!

Aku mencoba menyemangati diri sendiri kali ini. Pasalnya aku nggak mau larut dalam duka. Udara pantai di Bangka menyapaku malam itu. Terlebih lagi si Tya yang tersenyum manis menyambutku di pintu kedatangan. Ah, senangnya, kami berpelukan melepas rindu. Akhirnya aku bisa liburan di Bangka lagi.

Menyusuri jalanan pulau Bangka dari Pangkal Pinang ke Toboali malam hari

Sebuah motor bebek siap melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri pulau Bangka, dari Pangkal Pinang menuju Toboali. Aku bersama bang Zani tergolong nekat untuk mengambil keputusan ini. Menyusuri jalanan yang sepi dan gelap bukanlah sebuah perkara yang asik.

Deg-deg-an, miris, takut dan dingin tentunya. Pikiran buruk selalu melintas, yang takut di begal lah, takut ban bocor lah sampai takut kehabisan bensin. Perjalanan siang aja banyak pom bensin yang nggak beroprasi apalagi malam?

Aku yang tak biasa membonceng dengan jarak jauh pun merasa capek pinggang. Pantat jadi panas, kaki pun kesemutan. Dasar manja!

***

Akhirnya aku bertemu dengan kawan-kawan trip Toboali

Pagi Toboali, itulah yang aku ucapkan setelah bangun tidur. Aku pun bergegas ke lobby hotel untuk mendapatkan sinyal wifi. Sial! provider yang aku bawa nggak support di Toboali. Terpaksa deh aku hanya bisa online ketika di lobby hotel saja.

Keseruan kami saat berkumpul di Lobby hotel

Saat aku asik berkutat dengan ponselku, om Don Hasman melintas di depanku. Spontan aku menyapanya. Ah, meski aku belum ketemu sebelumnya tapi aku yakin, aku nggak akan salah orang. Setelah berbasa-basi memperkenalkan diri beliau mengajakku bertemu om Mike.

“Nah, itu Mike yang bulat dan besar.” Kata om Don sambil sedikit terkekeh.

Aku pun segera menghampirinya dengan wajah sumringah. Rasa bahagia pun pecah pagi itu. Suasanan rindu, suka bercampur jadi satu. Rasanya seperti baru saja mendapatkan hujan saat kemarau panjang. Halah! Trip ini benar-benar merenggut rasa dukaku dan mengembalikan keceriaanku.

Keseruan Kami nggak pernah luntur

Rasanya lama aku nggak tertawa sekencang ini, nggak bahagia seperti ini. Teman-teman baru yang aku temui pun membuatku nyaman.

Ratusan bahkan ribuan pengunjung memadati pantai Nek Aji

Pantai Nek Aji siang itu penuh dengan ratusan pengunjung. Terik matahari pun seolah terabaikan. Banyak sekali kontes dan hiburan di sana. Salah satunya adalah lomba melukis tudung saji. Hemmmp….masyarakat Bangka Selatan ini sangat kreatif ya!

Tudung saji yang setengah jadi itu pun sudah nampak bagus. Aku pun berfikir kalau aku yang ikut pasti aku akan menggambar sponge bob, tokoh kartun berwana kuning berbentuk kotak. Hahaha.

Benteng Toboali yang kini tak lagi sepi

Bergeser dari pantai Nek Aji ada sebuah bangunan tua yang sudah tersisa puing-puing saja! Bangunan ini adalah benteng Toboali. Konon bangunan ini adalah bangunan bekas Belanda gitu. Tahun lalu aku datang ke sini, tempat ini sangat sepi, tak satupun pengunjung kutemui.

Namun sekarang? Sudah banyak pengunjung yang berfoto dan berkunjung ke tempat ini. Apakah ini berkat adanya sosmed? Entahlah, mungkin saja begitu! Tapi melihatnya saya sudah merasa cukup senang.

***

Toboali seolah mengajarkanku tentang arti sebuah kebahagiaan, kehangatan dan keakraban. Tanpa adanya perbedaan kami bersuka cita menikmati suasana dan kebersamaan layaknya keluarga. Makan bersama dan tertawa bersama.

Terlebih aku makin terasa tertampar ketika melihat semangat om Don yang luar biasa. Tanpa mengeluh beliau terlihat sangat energik dan semangat! Tak ada kata capek dalam kamus hidupnya meski umurnya sudah tak muda lagi.

Serunya berfoto dengan om Don Hasman | pict by Zaky

Suasana Toboali City On Fire tahun lalu memang berbeda dengan tahun ini! Mungkin acaranya nggak jauh beda, namun suasana yang terasa sangat berbeda dan makin berkesan. Meskipun nggak bersama teman-teman yang dulu sih.

Teman-teman baru pun kini lebih asik daripada yang dulu. Bukan niat buat membandingkan lho! Entahlah perjalananku di Toboali kini terkesan menyenangkan dan berhasil membuatku gagal move on. Meskipun hasilnya suara abis lantaran serak gara-gara kebanyakan tertawa dan teriak-teriak girang.

Ini hanyalah sepenggal cerita kebahagiaanku saja saat trip ke Toboali, masih banyak cerita berkesan yang masih tersimpan dalam hati. Biar nggak ketinggalan udah pantengin terus update terbaru dari blog ini! See you…..!

Share This:

8 thoughts on “Toboali yang Selalu Berkesan di Hati

  1. Ah, memang travelling bisa bikin hati terhibur.
    Saya belum pernah ke Toboali. Tampak menarik. Banyak peninggalan sejarahnya. Selain Naik motor dari
    Tanjung Pinang bisa naik apalagi ya Mbak ?
    Salam kenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *