Kenapa Harus Ada 3 Cerita Absurd Di Balik Sebuah Perjalanan?

Tentunya kalian semua tahu, bila setiap perjalanan pasti mempunyai kesan tersendiri. Begitu pula dengan setiap jengkal langkah kaki saya. Sepertihalnya kata Desi Anwar :

Berkelanalah jauh-jauh, lihat dunia,
Pelajari hal-hal baru, begitulah kata para bijak.
Namun kerap yang kita temui dalam perjalanan adalah
Sesuatu yang tak membutuhkan penjelajahan ke negeri jauh.

Seandainya saja kita mau melongok ke pojok-pojok terdekat dengan sepenuh hati,
Ke pekarangan bahkan kepada tembok-tembok sekeliling yang tak lagi tampak
Akan kita temukan kerinduan akan misteri agung sebagaimana yang akan kita temukan pada ujung-ujung dunia terjauh.

(Wall with painting, Prague 2005) – Desi Anwar

Terkadang kita pun harus sadar akan peranan kita di dunia ini. Menjadi  insan yang baik dan berguna pada sesama. Memaknai sebuah perjalanan adalah cara kita untuk bersyukur. Kali ini saya akan sedikit bercerita mengenai 3 pengalaman saya saat jauh dari rumah.

1. Jangan Berpasangka Buruk

Sejujurnya, saya bukanlah tipe orang yang berani menghadapi dunia baru. Rasa cemas dan was-was tentunya selalu menyelimuti pikiran saya. Terlebih bila saya sedang melakukan sebuah perjalanan seorang diri. Jangankan ke tempat asing, pergi ke tempat yang sering saya singgahi pun rasa takut itu masih melekat.

Oleh karena itu kenapa sebelum memulai perjalanan saya selalu mencari informasi mengenai tempat tersebut. Tentunya informasi tersbut saya dapatkan dari internet, tanya sana sini, bahkan dari buku yang saya beli. Namun ternyata mengantongi segudang informasi tak dapat menyingkirkan sebuah prasangka buruk yang saya alami. Sampai pada akhirnya seorang teman menasehati saya

cerita absurd

“Buang prasangka burukmu itu! Tak semua apa yang kamu bayangkan itu buruk. Percayalah, bila kamu positif thinking, maka tak akan terjadi apa-apa dan ketakutanmu akan hilang dengan sendirinya.”

Benar saja. Ketika saya mencoba berfikir positif, apa yang saya kawatirkan hilang dan semua berjalan baik-baik saja. Semua itu benar-benar saya buktikan ketika saya tidur di bandara sendirian dengan barang bawaan yang cukup berharga bagi saya. Tidur di restoran cepat saji, menumpang taksi online pagi buta dari Pasar Senen ke Cengkareng sendirian yang bagi sebagian wanita itu adalah sebuah tindakan nekat, namun bagi saya? Semua akan baik-baik saja.

2. Jangan Pernah Sepelekan Perut Mules

Saya adalah salah satu manusia yang tergolong cuek akan kesehatan. Jangankan membawa P3K saat berpergian. Bawa minyak angin saja tak pernah. Padahal obat-obatan adalah benda yang penting untuk dibawa, minimal minyak kayu putih atau vitamin.

Pada awalnya sih memng saya jarang sekali mengalami keluhan terhadap masalah pada tubuh. Paling-paling cuma flu ringan efek kecapean atau ngilu pada bagian otot. Hingga pada akhirnya saya mengalami gangguan pencernaan ringan (mules). Saking positifnya pikiran saya atau saking cueknya saya hanya menganggap mules itu adalah bagian dari sebuah kontraksi yang timbul lantaran ingin buang air besar. Ah, kalau nggak terlalu kebelet pasti dengan kentut semua akan normal kembali.

cerita absurd
meski kurang enak badan masih bisa narsis. Photo by pejalan ransel

Ternyata saya salah, entah apa penyebabnya ternyata rasa mules tersebut justru malah berujung diare. Yap, perlu kalian tahu diare saat traveling itu gak enak banget. Ya kalau kita dekat dengan WC kalau tidak? Aahahahaha. Gak perlu saya jelaskan ya!

Sudah dua kali terjadi sama saya. Pertama, ketika transit di Solo. Malam-malam harus nekat bangunin tentara jaga di pos Korem hanya untuk minta ijin menggunakan kamar mandi. Lalu yang kedua adalah ketika saya sedang caving di goa Barat. Bayangkan saja, saat kalian mules tapi kalian sedang main air atau sedang berendam. Usaha menahan hasyat pun semakin tipis dan air akan memicu perut kita semakin mules.

Karena dua pengalaman yang nggak enak itu, sekarang saya gak mau ceroboh lagi dalam hal obat-obatan. Jangan sampai ada kejadian sama yang terulang ke tiga kalinya. Oke, mungkin aku pernah menertawakan teman pejalan saya saat dia merasa mules dijalan dan ketika saya mengalaminya sendiri saya seolah merasa berdosa. Hahaha.

3. Ada Keebodohan Saat Traveling Itu Pasti Ada

Terkadang saya terkekeh mengingat beberapa kejadian konyol yang saya lakukan. Entah saya lakukan sendiri ataupun barengan sama teman pejalan. Namun semua itu secara tidak langsug memberikan sebuah pelajaran berharga bagi saya atau hanya sebuah hiburan belaka.

Salah satunya adalah jangan malu bertanya atau jangan sok tahu dalam urusan transportasi. Benar saja, saya nyaris tidak dapat bus lantaran saya salah menunggu bus di Terminal Magelang. Penyebabnya karena saya sok tahu dan tak mau bertanya.

cerita absurd

Kejadian berikutnya adalah salah stasiun. Kalau yang ini masalahnya adalah ketika kita kenyang maka otak akan mengalami kemunduran. Hahah (Sok tahu). Gara-gara tidak teliti dan tidak melakukan pengecekan ulang sebelum melangkah. Di Gambir, saya pun nyaris meninggalkan ransel saya di ruang tunggu gara-gara terburu-buru cek in karena takut ketinggalan kereta padahal jadwal keberangkatan kereta masih dua jam yang akan datang. Untung saja petugas peron menolak saya untuk cek in yang membuat saya kembali ke tempat duduk. Ketika itu saya baru sadar bahwa tas ransel saya ketinggalan.

Huft, sepertinya 3 point itu cukup lah ya, untuk mendiskripsikan pengalaman saya selama jauh dari rumah. Saya rasa itu sudah cukup dower kalo diceritakan secara lisan. Oke, cukup sekian dulu project #NHCLnulis untuk bulan Febuari di minggu ke-3. Nantikan tema tulisan selanjutnya yaa!

Tulisan ini dibuat untuk #nhclnulis bulan Februari 2017. Tema bulan Februari dari @ngobrolinjejak adalah “pengalaman sederhana yang berkesan dari perjalanan”.]

[#nhclnulis adalah proyek iseng sekelompok ‘zat kimia’ untuk ngomongin hal – hal yang serba #3 dari tema yang diangkat. Setiap bulan, berdasarkan tema yang sudah ditentukan di minggu 1, masing – masing akan membuat 1 tulisan, lalu diposting di blog atau instagram pada minggu ke-3. Temanya ditentukan sendiri bergantian oleh para ‘zat kimia’.]

[Tulisan para zat kimia lainnya di #nhclnulis bulan Februari 2017 bisa diliat di blog @ngobrolinjejak, @jemzamanda, @echinabila dan @atikakurniaa.]

Share This:

4 thoughts on “Kenapa Harus Ada 3 Cerita Absurd Di Balik Sebuah Perjalanan?

  1. ahaha tiap perjalanan pasti ada deh ya hal hal absurd gitu, pas ngalaminnya sedih pas udah lewat jd lucu

  2. setuju,, kdang kalau kita bisa peka, keluar beberapa ratus meter saja dari rumah, sudah bisa jadi cerita perjalanan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *