Ritual Ruwat Bumi Di Gunung Tidar

,

Satu persatu anak tangga saya panjat dengan manja. Suasana alam yang rindang dan terkesan lembab sejenak menyita perhatian saya. Perlu saya akui bahwa, berulang kali saya datang dan bermalam di Magelang baru pertama kalinya saya meniti ribuan anak tangga untuk sampai di puncak gunung Tidar. Puncak Gunung Tidar. Iyah, nggak usah lebay karena puncaknya nggak setinggi gunung Merapi.

gunung tidar

Satu, dua anak tangga, kaki saya tak segan berhenti dan mengambil nafas panjang (pencitraan sebagai pendaki gunung saya gagal). Sepanjang jalan, saya tak pernah berhenti bergumam. “Lebih baik saya trekking dari pada harus naik ribuan anak tangga.” Huft, dasar manja .

Sepertinya, siang itu saya harus berusaha menggenjot langkah saya agar cepat sampai di atas. Ruwat Bumi akan segera dimulai atau malah sedang berlangsung? Ahh, pokoknya harus sampai atas segera! Kemauan dan niat saya ternyata kalah oleh kaki dan nafas saya yang mulai tersengal-sengal. Mau tak mau saya harus melambatkan ritme jalan saya dan meniti anak tangga dengan pelan.

Hati pun riang dan mata berbinar-binar ketika saya sampai pada anak tangga terakhir. Entah berat badan saya yang sudah mulai gempal atau memang tenaga yang mulai berkurang. Tapi sudahlah, yang penting saya sudah berhasil sampai di puncak, maksud saya sampai di atas Gunung Tidar. Terlebih lagi saya bertemu dengan duo blogger hits dari Solo, koh Halim dan blogger hits dari Jogja, kak Sitam. Mereka yang nampak kompak dengan setelan kaos merah dan celana coklat, histeris ketika melihat saya dari kejauhan.

Tarian Caraka Walik

gunung tidar

Akhirnya kami berkumpul untuk menyaksikan serangkai acara Ritual Ruwat Bumi. Terlihat dalam pandangan saya, bahwa area tanah lapang yang rindang tersebut telah penuh dengan peserta Ritual Ruwat Bumi dengan beberapa tumpeng yang ada di hadapan mereka. Sepertinya, acara memang sudah berlangsung ketika saya sampai di atas. Namun, rupanya saya tak terlalu ketinggalan akan acara tersebut, karena saya masih sempat menyaksikan pementasan tari Caraka Walik yang dibawakan oleh kelima penari dari sanggar Sekar Dahlia.

Menurut informasi yang saya dapat, tarian ini dipentaskan setahun sekali. Kecuali, pada tahun 2105 silam. Tarian ini memang tak begitu terkenal oleh masyarakat. Mungkin, kalian juga baru pertama kali mendengarnya bukan? Sama, saya pun begitu. Dengan iringan Mantera Gayantri, para penari nampak begitu luwes membawakan tarian tersebut. Tak heran, bila penonton terhipnotis oleh olah gerak mereka. Tak terkecuali saya yang sedari tadi terpaku sambil mengarahkan lensa kamera ke arah penari tersebut.

Kembul Bujono

Setelah serangkaian tarian Caraka Walik rampung dipentaskan, doa pun dipanjatkan kepada sang Maha Kuasa. Saya berserta teman lainnya duduk di atas terpal tak jauh dari sumber suara. Tak lama kemudian, tumpeng-tumpeng yang ada di hadapan peserta pun di buka dan dimakan bersama-sama. Urusan makan saja nomor satu. Haha.

gunung tidar

Acara makan tumpeng bersama inilah yang dinamakan Kembul Bujono. Tua, muda, kaya, miskin tak menjadi pembatas, yang ada hanyalah keceriaan makan bersama dan menikmati hidangan tumpeng yang sudah dibawa oleh masing-masing peserta. Kalau kata orang jawa, nasi tumpeng ini adalah berkah. Pasalnya sebelum dimakan ada sebuah doa yang dipanjatkan. Amiin, mudah-mudahan menjadi berkah ya!

gunung tidar

Tak hanya peserta, masyarakat yang datang pun diperbolehkan untuk makan bersama. Banyak sekali anak-anak yang ikut berebut ikan dan nasi tumpeng tersebut. “Bagi-bagi ayam, bagi telur, bagi tempe, bagi ini, bagi itu”. Yak, sorak soray anak-anak itu turut memeriahkan acara makan tumpeng sore itu.

Mitos Terhadap Gunung Tidar

Pernah dengar mengenai mitos Gunung Tidar nggak sih? Alah, ngaku…! Pasti diantara kalian pernah mendengarnya, kan? Itu lho, Mitos kalau paku bumi raksasa di atas gunung dan bila dicabut akan timbul bencana yang menimpa pulau Jawa.

gunung tidar

Menurut legenda, Gunung Tidar dikenal sebagai “Pakunya Tanah Jawa”. Gunung ini terletak di ketinggian 503 Mpdl. Sejarah kawasan ini tak lepas dari sebuah kemiliteran dan perjuangan bangsa. Dulu pada masa perang tempat ini dijadikan tempat persembunyian tentara perang untuk sebuah pertahanan.

Tapi, selain itu di area gunung Tidar terdapat beberapa situs makam, diantaranya adalah makam Syaikh Subakir yang konon adalah penakluk Gunung Tidar. Selain itu ketika kita sampai di puncak gunung Tidar, kita akan bertemu dengan makam kyai Semar. Menurut cerita rakyat yang beredar makam kyai Semar adalah tokoh pewayangan. Namun ada yang mempercayai pula, bahwa kyai Semar tersebut adalah sosok jin penunggu gunung Tidar kala itu. Entah mana yang benar, saya pun kurang tahu.

gunung tidar
petilasan kyai Semar

Setelah serangkaian acara Ruwat Bumi di Gunung Tidar, kami pun berbondong-bondong untuk kembali turun. Ah, turun ini, tinggal turun beres. Namun, kenyataannya tak semudah turun yang sesungguhnya. naik dan turun melalui ribuan anak tangga adalah hal yang melelahkan. Entah kenapa, kaki saya mendadak tremor alias gemetar (faktor u).

Menyaksikan Ruwat Bumi di Gunung Tidar, merupakan pengalaman pertama saya. Untuk itu saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada Disporabudpar yang telah mengundang kami untuk mengikuti acara One Day Trip Festival Tidar 2016.

Share This:

Tinggalkan Comment di Sini ya...! Tapi Jangan Tinggalin Link Hidup!!!

20 Comments


  1. // Reply

    Kemarin pas naik tangga dihitung jumlahnya nggak? Kakkakaka. Enakan kamu agak sepi pas naik, lah kami berdesakan 😀


    1. // Reply

      buahhahaha….sepi jadi kelihatan kalau ngosngosan…coba berdua pasti ada yg semangatin..#ehh


  2. // Reply

    Wahah…untuk di atas bisa dapat makanan gratis ya, jadi ngos-ngosan semasa naik bisa terobati.

    cms nya pakai wordpress ya kak? coba dimaintance lagi kak, beberapa kali akses perlu direfresh dulu baru kebuka.

    ditunggu cerita nginap di Grand Artos yak… 😀


    1. // Reply

      buahahha…sampe atas kenyang sampe bawah lapar lagi…hahha

      #makasih kak masukannya..heheh


  3. // Reply

    Seru kayanya bisa ngeliat langsung acara ruwat bumi. Kapan2 pengen juga. Eh tapi naik tangganya itu loh, bisa diskip nggak? Hahaa…


    1. // Reply

      khusus kak Unyil nanti digendong deh….

      *digendong ama monyet….buaahhahaha


  4. // Reply

    Kalo lewat magelang pasti nglewatin gunung tidar ini, penasaran oh jadi seperti itu diatasnya 😀
    seru acaranya


    1. // Reply

      ahhh jangan lewat doang, mampir rasakan kenikmatan manjat tangganya…..hahaha


  5. // Reply

    Aku masi penasaran kenapa namany harus Kembul Bujono ?

    Tradisi-tradisi Indonesia emang luar biasa banyak sekali.

    Tapi ttp yang tertanam adalah gontong royongnya dan kerukunanny.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *