Pesona Bukit Pawuluhan Yang Tersembuyi

,

Jawa Tengah. Salah satu provinsi yang ada di tengah pulau Jawa ini, terdapat berbagai macam potensi wisata. Mulai dari wisata alam, wisata sejarah, wisata arena permainan yang banyak sekali bermunculan di berbagai daerah bahkan tak lepas pula wisata alam dengan minat khusus seperti mendaki gunung, rafting dan tubbing dan masih banyak yang lainnya.

Beberapa bulan yang lalu, saya melangkahkan kaki menuju Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Pekalongan ini berada tak jauh dari kota Pekalongan. Jika Kota Pekalongan terkenal dengan centra kerajinan batik dan wisata sejarah, kali ini saya dan kelima teman saya ingin menjelajahi keindahan wisata alam yang dimiliki oleh Pekalongan, khususnya kabupaten Pekalongan.

 

Perjalanan menuju kota Pekalongan dari Semarang memang hanya memakan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan. Namun, karena tujuan kami adalah kabupaten Pekalongan yang letaknya agak jauh dari pusat keramaian kota maka, total waktu yang kami tempuh hampir empat jam perjalanan. Kami mencoba menikmati kejenuhan perjalanan sambil memandangi pemandangan sekitar yang terang akibat sorot lampu kendaraan.

wajah lelah bercampur senang
wajah lelah bercampur senang

Malam itu kami akan menuju desa Klesem kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan. Hawa dingin pun mulai menyergap ketika kami sudah melewati desa gembong, nampak sebuah tumbuhan yang rimbun di kanan dan kiri jalan. Jalanan tersebut Nampak sepi oleh kendaraan. Mungkin karena sudah larut malam kami melewatinya. Sepanjang perjalanan saya hanya mendengar jangkrik-jangkrik yang mengerik dan suara serangga hutan.

Rencana kami sangat sederhana. Kami ingin mencapai puncak bukit Pawuluhan dan melihat indahnya sunrise dari atas bukit. Rencananya kami akan mulai naik ke bukit sekitar jam 03.00. Segala peralatan seperti senter, garmin, bekal makanan dan peralatan foto sudah kami sediakan. Sebelum melakukan aktifitas pendakian, kami memilih istirahat di rumah warga. Sembari melepas lelah perjalanan dan rasa kantuk yang mendalam.

Menerjang Lumpur Pagi Buta.

Dari rumah warga tempat kami istirahat menuju kaki bukit Pawuluhan masih terbilang cukup jauh. Masih sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan sepeda motor, dengan medan yang berkelok-kelok dan jalan yang sempit. Karena rasa capek yang sudah tidak tertolong lagi, kami pun terlambat bangun. Dari rencana awal kami akan berangkat jam 03.00, kami pun harus berangkat jam 04.00. Kami pikir, ini bukanlah suatu keterlambatan yang fatal. Kami harus tetap optimis dapat mengejar sunrise di atas bukit Pawuluhan.

pawuluhan

Perjalanan pun kami mulai, dengan semangat 45 kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju bukit Pawuluhan. Namun, sesampainya di ujung desa tempat kami menginap terdapat sebuah jalan yang rusak akibat tertimbun longsor. Ada sebagian bukit yang longsor dan menutupi badan jalan. Material-material lonsong tersebut terdiri dari tanah merah dan batu-batuan. Jadi bisa kalian bayangkan bila tanah tersebut terkena air? Tanah akan menjadi gembur dan susah untuk dilalui. Begitulah kondisi jalan yang akan kami lalui dengan sepeda motor.

Menjumpai jalanan seperti itu, rasanya saya sudah merasa cukup pesimis. Karena sepeda motor yang kami tumpangi adalah motor bebek biasa. Bukan motor trail yang memang dikhususkan oleh medan lumpur seperti itu. Ditambah lagi suasana pagi buta yang dingin dan gelap. Karena longsor, penerangan jalan pun terputus. Entah sejak kapan longsor ini terjadi? Dengan susah payah kami pun mendorong motor agar tidak terperangkap kedalam kubangan lumpur. Lupakan baju bersih! Hampir setengah jam kami berkutat di kubangan lumpur dan akhirnya kami berhasil.

Ada perasaan lega sekaligus kawatir, ketika kami berhasil melalui rintangan tersebut. Pasalnya jalan yang terkena material longsor tersebut merupakan jalan satu-satunya yang mesti dilewati. Duh, jadi nggak kebayangkan nanti pulangnya seperti apa?

Kami mencoba menghilangkan perasaan kawatir tersebut dan berusaha mengejar waktu agar dapat sampai di puncak sebelum matahari terbit. Namun, yang terjadi ketika adzan subuh berkumandang kami masih berada di jalan dan akhirnya kami pun harus berhenti untuk tetap melaksanakan ibadah sholat subuh.

Suara Kodok Dimana-mana

Sebagai anak pantai, saya merasa bergidik ketika mendengar kata trekking. Semacam momok yang siap menerkam dari kejauhan. Trekking adalah jalan kaki dengan medan yang terjal dan menanjak. Bagi anak-anak yang sering naik gunung, bukit Pawuluhan adalah medan yang mudah untuk dilalui. Namun, bagi saya? Ini susah men! Tapi saya tidak selemah itu. Berusaha adalah kunci sesuksesan sampai atas bukit!

Meskipun kami memulai perjalanan naik ke bukit setelah sholat subuh namun, suasana masih terbilang gelap. Suara kodok pun terdengar mengiringi kami selama di perjalanan. Karena sebelum mulai tanjakan pertama, kami melewati beberapa bidang sawah milik warga. Karena dari awal kami sudah terlambat melakukan perjalanan, mau tak mau kami harus mempercepat langkah agar sampai ke atas bukit sebelum matahari terbit.

pawuluhan
golden sunrise yang saya tangkap di tengah perjalanan.

Tapi faktanya, kami berjumpa dengan sunrise di tengah perjalanan. Selesai sudah harapan kami. Meskipun begitu, kami tetap melajutkan perjalanan ke puncak, meskipun matahari sudah mulai meninggi. Saya sempat menangkap fenomena terbitnya matahari yang begitu indah di tengah jalan. Jalanan yang licin membuat kami melambatkan langkah kaki. Kali ini hanya puncak sebuah bukit yang menjadi tujuan kami.

Rasa Lelah yang Terbayar Lunas

pawuluhan
Keindahan Dari atas bukit Pawuluhan yang kami dapatkan

Selesai sudah perjalanan kami, ketika kaki kami menginjak di atas bukit Pawuluhan. Lega rasanya ketika saya sampai di atas bukit ini. Trekking yang kami lalui sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2.8 kilometer saja. Tapi, kepuasan yang saya rasa begitu mendalam ketika saya mengedarkan pandangan mata ke sekitar bukit tersebut. Usaha dan jerih payah kami untuk sampai di sini terbayar lunas. Bukit yang benar-benar indah. Di atas bukit hanya ada kami berenam. Tak ada orang lain kecuali para petani yang sedang mencangkul sawah di bawah sana. Gundukan-gundukan bukit yang hijau, langit yang biru tampak mendominan. Benar-benar sebuah pesona alam yang tersembunyi di kabupaten Pekalongan ini. Pasalnya tak banyak orang yang tau akan tempat ini. Tapi, ketika kita sudah berada di sana, kita tak akan bisa berhenti mengucap kata Syukur dan kagum.

β€œTulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (twitter.com/visitjawatengah)”

Share This:

Tinggalkan Comment di Sini ya...! Tapi Jangan Tinggalin Link Hidup!!!

27 Comments


  1. // Reply

    Pekalongan memang punya banyak destinasi wisata yang menawan, tapi saya paling suka wisata kuliner dan belanja kalau ke sini hehehhe


  2. // Reply

    wah saya baru tau kalo pekalongan ada destinasi wisata alam, soalnya setiap saya mampir kepekalongan yang saya tau ya belanja batik, heheh
    boleh deh kapan-kapan waktu aku diajak kesini lagi kak πŸ™‚


  3. // Reply

    Mbaaakk… itu foto2nya kece2 semuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa :))


  4. // Reply

    nah akhirnya muncul wisata lain selain curug bajing petungkriyono yang lagi ngehits itu di pekalongan πŸ˜€


    1. // Reply

      hahah iya kak, petungkriyono juga udah pernah explore sekalian tubbing…hehe


  5. // Reply

    Kabupaten Pekalongan diberi kekayaan dan keindahan alam yang eksotis, banyak puncak dan curug disini yang belum banyak terekspose oleh banyak orang. Kandangserang salah satu kecamatan yang ada di Kab.Pekalongan yang memiliki keindahan alam, dan yang paling terkenal adalah Kecamatan Petungkriyono mulai dari wisata air (tubing/river), curug nya, hingga puncak gunung nya yang tidak kalah eksotis dari tempat lain di jawa tengah.


    1. // Reply

      betul kak, pertama kali masuk wilayah tersebut saya sangat kagum dan terheran akan pesonanya.


  6. // Reply

    Belum pernah ke Kabupaten Pekalongan, dan baru denger juga ada Bukit Pawuluhan (kemanaa ajaaa, hahahaa…)

    Kapan – kapan aku diajak jalan2lah kak hits… πŸ˜€


  7. // Reply

    Sepertinya menyenangkan ya kak… sekalian bikin trip kerehore dong kak :p


  8. // Reply

    Dengar kata Pekalongan udah sesuatu banget Mbak bagiku. Lha kok dulu mau dapat suami orang Pekalongan nggak jadi *lah curhat*


  9. // Reply

    Wahh keren yakk pemandangannya…jadi pengen kesana.


  10. // Reply

    Keren pemandangannya, tp ad gak ya naik gunung yg gak pake capek? Ga kuat e munggah e kui.. Hehee.. Mending shoping kulak an batik buat dijual…


  11. // Reply

    hay mbaa,aku ada rencana mau kesana,kira kira sunrise tuh jam brp mba pas disana ? krna rencana pas nyampe stasiun pgn langsung kesana, nyampenya jg kira kira jam 4.30 wib.


    1. // Reply

      wahh klo dari stasiun jam 4.30 itu udah siang mba. jarak stasiun ke desa kandangserang itu kurang lebih satu jam kalo nggak macet dan jalannya naik turun. ada baiknya ngecamp aja biar dapat sunrise dan sunset. rencana berapa orang emangnya mb?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *