Traveling Berantakan? Nikmatin Aja!

traveling

Kalian pasti membayangkan jika sebuah kegiatan traveling adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan? Sama! saya pun selalu membayangkan demikian. Berekpektasi bahwa traveling kali ini bisa have fun, nyenengin, dan happy ending. Wajarlah, namanya juga traveling, liburan, piknik dan apapun itu sebutannya yang jelas harapannya adalah senang-senang.

Tapi, kenyataannya tidak semulus ekpektasi kita. Kadang juga malah lebih buruk dari harapan dan bayangan kita. Banyak peristiwa-peristiwa yang kita hadapi saat menempuh sebuah perjalanan. Entah itu kita jalan sendiri maupun sama temen. Kejadian absurd dan nyebelin seketika dapat merubah mood baik kita menjadi jelek. Seperti ketinggalan kereta, hampir kena jambret, dimaki-maki orang saat belanja dan masih banyak kejadian lain yang lebih absurd.

Singakat cerita, saat saya melakukan perjalanan ke Bali. Entah kenapa ajakan teman ke Bali menggunakan kereta api sebagai transportasinya saya ijabani. Konsekuensinya adalah akan duduk selama berjam-jam di kursi kelas ekonomi dalam gerbong kereta. Bayangkan, mulai matahari terbit sampai tengah malam saya baru sampai di Ketapang Banyuwangi. Sebenarnya, lamanya perjalanan sih, bukan jadi masalah buat saya, toh saya menikmati kebosanan itu. Tapi pemandangan di dalam kereta yang bikin saya mual-mual dan pengen kentut. Gimana gak mual? Bangku di depan saya duduk sepasang bule yang mesra-mesraan. Bukan baper  cuma merasa gimana gitu, ahh! Susah dijelaskan. Di situlah awal sebuah kekacauan mood saya. Tapi menurut saya itu hanyalah sebuah pelengkap dalam perjalanan.

traveling

Malam sebelumnya sebuah peristiwa pun sudah mengawali. Lantaran bingung mencari tempat transit untuk keberangkatan kereta pagi dari Solo. Ditambah lagi dengan perut yang mendadak tidak bersahabat alias mules. Rencana awal kami ingin ngemper di stasiun. Tapi segera kami urungkan gara-gara satpam stasiun yang galak. Bukan kami tak boleh tidur di ruang tunggu stasiun. Tapi, toilet berada di dalam stasiun. Karena tidak ada kereta yang berangkat dan tiba di malam hari, maka satpam stasiun tidak mengijinkan  memakai toilet tersebut yang katanya “Toiletnya kusus untuk penumpang!” dan kami dianggap sebagai calon penumpang. Meski sempat debat kusir denganya soal ijin menggunakan toilet, akhirnya kami dapat memakai toilet tersebut. Tetap saja rasa Bete sudah bersarang di dada dan kami memutuskan untuk pindah mencari tempat transit.

Tempat transit yang saya pilih adalah restoran cepat saji 24 jam di Solo Grand Mall. Pikir saya ini tempat yang paling strategis. Kalau lapar tinggal pesan, butuh toilet pasti ada dong, mau tidur pun bisa diatur. Tempatnya pun ramai tidak perlu kawatir terjadi apa-apa. Namun masalah datang kembali ketika lewat tengah malam. Perut saya kembali tak bersahabat dan membutuhkan toilet. Dengan santai saya mencari toilet di dalam resto tersebut dengan bertanya sama mas-mas witers yang lagi bersih-bersih. Saya pun terkejut dengan mata agak melotot, wajah memerah lantaran menahan sesuatu yang mau keluar, mendengar masnya bilang “Maaf mbak Toilet kami gabung sama Mall, dan Mall-nya sudah tutup. Kalau mau di belakang Mall ini, tapi harus naik motor.” Sial…!!!

traveling

Mencoba untuk tetap cool di depan mas-nya, saya pun keluar ruangan. Menghirup udara segar, tengak-tengok, cari lokasi sambil nahan sesuatu. Tiba-tiba pandangan saya mengarah ke sebuah bangunan di depan Mall. Tanpa pikir panjang saya pun segera menyebrangi jalan yang tampak lengang dengan kendaraan dan masuk kedalam bangunan tersebut lalu buru-buru menemui bapak-bapak di pos pejagaan, untuk minta ijin menggunakan toilet. Untung bapaknya baik, memberikan ijin dan nggak takut sama saya. Heheh. Akhirnya saya pun numpang di toilet kantor Korem, untuk melaksanakan panggilan alam.

Kalau dari awal sudah banyak kejadian aneh, belakangan bakal terjadi lagi!

Dan, entah kenapa saya percaya bahwa setiap kejadian absurd sudah terjadi di awal, pasti akan ada hal absurd lain yang terjadi setelahnya. Singkat cerita, hal-hal absurd terjadi lagi ketika saya melakukan perjalanan pulang. Bukan maksud menyalahkan siapa-siapa, hanya buat pelajaran saja. Bahwa sebelum kita melakaukan perjalanan kita harus mengusai medan, minimal kita udah gali info tentang rentetan perjalanan yang akan kita jalani. Terutama mengenai transportasi.

Karena kami naik kereta, pasti rentetan perjalanannya seperti ini. Semarang-Solo (Via Bus), Solo – Banyuwangi (via kereta),  Banyuwangi ketapang – Bali gilimanuk (via kapal), Gilimanuk – Denpasar (via bus). Oke, awal perjalanan berangkat tak ada masalah, karena kami ngikutin orang yang searah dengan kami. Namun, malapetaka datang pada akhir trip pulang dari Bali. Karna kurangnya informasi dan hanya mengandalkan “kayaknya” inilah yang terjadi! Karena kurang pahamnya jadwal bus dari Denpasar menuju Gilimanuk, kami pun seenaknya ngolor-ngolor waktu. Sementara kami harus sampai di Banyuwangi paling lambat jam 21.30 Wib karena kereta kami berangkat jam 22.00 Wib. Pada jam 15.00 Wita kami masih leha-leha dan memutuskan pulang jam 15.30 Wita. Dalam perkiraan kami, masih ada sisa waktu banyak ketika paling lambat kami berangkat dari Denpasar sekitar jam 16.00 Wita, dan kira-kira sampai Gilimanuk sekitar jam 20.00 Wita, 4-5 jam perjalaann. Estimasi waktu penyebrangan satu jam jadi tiba di Ketapang 20.00 Wib.

traveling

Faktanya, setibanya kami di terminal Ubung Denpasar, bus jurusan Gilimanuk sudah berangkat, dan itu bus terakhir. Sisanya ada, tapi berangkat jam 18.00 Wita dan setelahnya. Gak terbayangkan kami sampai Gilimanuk jam berapa? Karena estimasi perjalanan Denpasar – Gilimanuk adalah 5 jam perjalanan ditambah macet di jalan. Kami pun sudah pesimis dan mulai memikirkan strategi baru. Plan B, dengan cara pesan tiket kereta baru untuk pulang dari Banyuwangi ke Semarang buat besok, karena untuk malam itu hanya ada satu kereta yang berangkat. Huft! Sebuah keputusan yang amat tergesa-gesa. Sementara kami mendapatkan bantuan untuk berusaha mencari tumpangan bus yang berangkat paling awal menuju Gilimanuk.

Tiket kereta dirasa sudah aman. Namun, pada akhirnya kami dapat tumpangan bus yang ke Gilimanuk dengan catatan menjadi “penumpang gelap”. Hanya ada bus jurusan Denpasar – Madura  yang berangkat paling awal dari bus lainnya. Apa boleh buat? Dikata nekat, memang nekat. Dikata ceroboh dan teledor, iya. Intinya, kalau bisa kami harus selamatkan tiket yang sudah kami pesan sebelumnya. Tiket kereta Banyuwangi – Surabaya jam 22.00 Wib dan pulang malam itu juga. Karena itu merupakan kereta terakhir malam itu.

Benar-benar perjalanan yang menegangkan. Karena jadi penumpang gelap, kami harus rela bayar dan duduk di kabin bus paling depan, sebelah sopir dan kenek bus. Obrolan-obrolan tak penting pun terjadi dengan sang kenek bus, mengiringi laju bus yang kencang disertai dengan teriakan-teriakan histeris penumpang di belakang, karena si sopir yang sering melakukan pengereman mendadak. Naik bus serasa naik jet coaster! Tapi tidak apa-apa, karena sopirnya ngebut, kami hanya menempuh perjalanan sekitar 3 jam 15 menit. Kami tiba di pelabuhan sekitar jam 20.30 Wita. Tanpa ikut antrian bus menyebrang, kami pun segera turun dan ikut kapal yang hendak melakukan penyebrangan paling cepat. Sialnya, kami dihadang dengan petugas karena tidak membawa karcis. Kesalahan terjadi sejak dari awal, dengan menjadi penumpang gelap, kami tidak melewati loket karcis untuk penumpang tanpa kendaraan. Setalah debat memohon, memelas, menjelaskan dan sedikit salam tempel dengan petugas sebagai pengganti karcis, kami pun diperbolehkan naik, karena jika harus ke loket karcis, kami harus keluar dulu.

Jantung berdebar tak sabar, menanti kapal akan segera merapat ke dermaga. Saya melirik jam tangan sudah menunjukkan jam 21.50. Bayangan saya, cuma ada waktu 10 menit buat jalan ke stasiun Banyuwangi. Sementara tenaga saya tinggal sisa-sisa saja. Energi saya seolah habis karena rentetan kejadian sebelumnya. Rasanya ingin melompat saja, biar cepat sampai di depan stasiun kereta. Ditengah rasa panik yang pelik, saya tersadar ketika saya melihat jam di ponsel saya berubah dan menujukkan pukul 20.50 Wib. Saya pun kembali melirik jam tangan saya, yang ternyata masih menunjukkan Waktu Indonesia Tengah. Pffft…!

Akhirnnya saya pun berjalan santai, menikmati malam dan hiruk pikuk kota. Tiket kereta masih terselamatkan dan kami masih punya waktu untuk mengurus refund tiket yang terlanjur dipesan untuk keberangkatan besok pagi.

Share This:

3 thoughts on “Traveling Berantakan? Nikmatin Aja!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *