Mengintip Kemegahan Candi Singosari Yang Terlupakan

,

Sebagian orang yang berpendapat bahwa datang ke sebuah situs sejarah merupakan hal yang sia-sia belaka. Terlebih lagi jika situs sejarah tersebut berupa sebuah candi peninggalan kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya di Indonesia. Buat apa kita data jauh-jauh hanya untuk melihat sebuah batu yang disusun? kalimat itu pernah saya dengar, ketika saya memberikan usulan kepada teman-teman kantor perihal sebuah destinasi acara piknik. Ya, hanyalah sebuah batu yang disusun, dalam batin saya kala itu yang tak mendapatkan suara pendukung. Tak heran jika situs bersejarah berupa candi itu sepi oleh para pengunjung dan wisatawan lokal.

candi singosari

Ada rasa iba, ketika kami, saya dan rombongan Komunitas Lingkar Baca Indonesia (KLBI) tiba di Candi Singosari. Candi megah yang ada di depan mata saya sepi pengunjung. Nampak seorang bapak tua menjaga pos di depan candi tersebut. Terik matahari di Malang siang itu seolah tak dapat dihalau oleh apapun. Entah apa yang kurang memikat? Padahal untuk datang pun pengunjung tak dibebani tiket masuk yang mahal, hanya bayar dengan suka rela.

Namun, kalau bukan kita sebagai generasi penerus siapa lagi yang akan menjadi pengunjung yang setia meramaikan tempat ini? Bukan hanya datang lalu pergi, tapi setidaknya tahu kenapa ada candi berdiri megah di sini. Candi Singosari ini merupakan sebuah makam Raja Kertanegara sebagai Bhirawa atau dewa Syiwa. Candi Singosari ini merupakan sebuah candi Hindu – Buddha peninggalan kerajaan Singosari. Ada pula yang menyebut candi ini sebagai “Candi Ken Dedes”.

candi singosari

 

Awalnya, saya pun tak banyak tahu mengenai candi ini. Namun, kedatangan saya seolah membukakan pikiran saya untuk ingin tahu asal muasal candi ini. Dari sebuah awal keingintahuan, paling tidak saya mendapatkan sedikit ilmu pengetahuan tentang cerita masa lalu dari kerajaan Singosari dan tentunya tentang candi Singosari yang saya datangi. Candi ini tak jauh dari pusat kota Malang yang kurang lebih berjarak 11 km. Berada di desa Candirenggo, kecamatan Singosari.

Rasa iba saya berubah menjadi rasa senang, ketika selang beberapa menit kami masuk kehalaman candi Singosari, disusul oleh beberpa pengunjung, dan beberapa dari pengunjunng tersebut merupakan wisatawan asing. Yah, meski tak banyak dan saya masih beranggapan bahwa pengunjung-pengunjung tersebut memiliki minat khusus seperti kami. Orang-orang yang tertarik dengan sejarah. Tapi bagi saya, apa yang saya lihat siang itu sudah cukup.

Foto bersama Anggota KLBI
Foto bersama Anggota KLBI

Bangunan yang terbuat dari tumpukan batu adesit setinggi 15 meter itu memiliki arti penting bagi sejarah dan budaya lokal Indonesia. Bangunan cagar budaya yang patut kita jaga dan lestarikan. Candi yang kaya ornamen, arca, dan relief ini jangan sampai hangus oleh masa. Seperti beberapa arca yang hilang dan berpindah tempat entah kemana.

Selain candi Singosari masih banyak lho candi-candi peninggalan kerajaan Singosari yang lain! Mau tau penelusuran saya ke candi-candi tersebut? jangan lewatkan update terbaru dari artikel ini!

Share This:

Tinggalkan Comment di Sini ya...! Tapi Jangan Tinggalin Link Hidup!!!

9 Comments


  1. // Reply

    Salut sama usaha kamu untuk menumbuhkan kembali rasa cinta kepada sejarah bangsa. Tetep semangat dan terus inovasi supaya rasa cinta tanah air generasi muda terus tumbuh dan berkembang. Saalam


    1. // Reply

      Terimakasih kak Rudy, Semoga tempat-tempat heritage di Indonesia tetap terjaga kelestariannya.


  2. // Reply

    saya termasuk orang yang suka dengan yang berbau masa lalu, termasuk cerita mengenai Ken Dedes – Tunggul Ametung (dulu ada sandiwara radionya lho judulnya ‘Pelangi di Langit Singosari”) juga peninggalan Pompei-nya Indonesia alias Tambora, dan pernah beberapa kali sengaja datang ke beberapa candi diantaranya Cangkuang, Prambanan, Borobudur dan beberapa candi2 kecil daerah Yogyakarta serta juga yang ada di daerah Dieng ataupun benteng2 kerajaan. Dan saya pernah bercita2 menjadi arkeolog, namun seiring berjalannya waktu dan keadaan, cita2 itupun hilang entah kemana, sekarang harus puas hanya menjadi karyawan swasta ajah dan kalau ada kesempatan saya masih suka untuk berkunjung.


    1. // Reply

      kalo bicara tentang peninggalan sejarah masa lalu di Negeri ini, seakan g ada habisnya kak. Yah, paling tidak ikut serta melestarikan biar tetap eksis..hehe


  3. // Reply

    candi singosari, sederhana yg megah ya. aku paling suka tour k candi. tapi blm sempet ke sini, sayang sekali


  4. // Reply

    Wah saya tinggal di Malang, terbilang dekat dengan candi ini. Tapi belum pernah kesana. Hehehhee

    Iya memang siapa lagi kalau bukan kita yang bisa meneruskan kebudayaan bangsa.

    Sekarang tempat tempat begini kurang di minati kali yaa sama anak muda. Kurang kekinian mungkin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *