Interaksi Dengan Teman Baru Saat Traveling

Jika kamu sedang traveling apa sih yang akan kamu cari disana? Pengalaman? Cerita? Atau teman? Atau yang lain? Sebagian besar pasti mencari semua itu. Banyak sekali sih, apa yang akan kita dapatkan pada saat kaki kita melangkah keluar rumah. Pergi menjauh dari rumah. Suasana baru, pengalaman baru, dunia baru, teman baru bahkan sebuah hal yang tak pernah kamu pikirkan. Ketika kaki saya mulai melangkah keluar, saya mencoba menikmati setiap detil perjalanan, menghitung langkah kaki dan mendengarkan irama detak jantung. Selain diri saya sendiri, saya akan bertemu beragam sosok manusia dengan karakter yang berbeda, wajah yang berbeda, profesi yang berbeda, bahkan kegiatan yang berbeda.

teman traveling

Kita tidak bisa menghindar untuk bertemu orang-orang tersebut. Entah kita hanya memandangnya saja atau pun akan berinteraksi dengannya. Jika rabu kemarin saya posting tentang beragam type teman traveling, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang beberapa orang yang pernah saya temui dan sekedar interaksi dengannya. Beberapa pengalaman itu sepertinya sayang jika saya pendam dalam ingatan saja. Semoga kalian nggak bosen membacanya. Karena mungkin agak sedikit panjang. Hehehe. Tapi nggak usah bayangkan kalau saya ceritakan lewat lisan yaa! Yang ada nanti sampai coffee shop tutup belum kelar, kemudian ada yang teriak ngomong “Us, dhiyam!”. #toyorpalasendiri.

Ketemu Gerombolan Ibu-ibu Komplek di KRL

Sekitar setahun lalu, saat saya pulang dari Menteng menuju Tangerang. Saya berada dalam sebuah gerbong KRL yang saya naiki dari Duri menuju Tangerang. Setelah bergelut dengan rasa cemas menunggu kereta, akhirnya saya pun berada dalam gerbong yang penuh sesak dengan ratusan manusia. Begitulah Jakarta, jauh dari kata sepi. Kalau nggak macet ya, berjubel di dalam KRL atau Busway. Gak lama saya berdiri dengan posisi badan yang tergencet, miring, dan nyaris berdiri dengan satu kaki. Tiba-tiba ada yang menepuk pinggul saya dengan lembut “Mbak duduk sini!” Sontak, saya pun kaget dan sempat berfikir macam-macam. Karena pesan mama, “Kalau ada orang menepuk pundak, balas tepuk kalau nggak kamu akan terhipnotis!” Wehh, ni orang mau hipnotis, nih. Saya nggak sedang ngelamun yaa akan saya balas toyor kepalanya biar hipnotisnya nggak mempan! “Mbak mari duduk sini, anak saya minta dipangku!” Dengan nada lembut seorang ibu dan senyum manisnya, semanis es teh yang sama minum di Cikini sebelumnya. Haha. Sambil mengangguk tanda setuju, saya pun duduk di sebelah ibu-ibu tersebut.

Saat saya pergi sendirian, saya selalu membatasi diri untuk berinteraksi dengan orang lain yang baru dikenal. Yah, jaga-jaga takut ada apa-apa. Karena di Indonesia tidak ada superhero yang bakal nyelametin kita tiba-tiba, saat kita sedang ada masalah. Namun, entah kenapa waktu itu saya memberanikan diri untuk tanya kemana tujuan ibu tersebut dan obrolan demi obrolan pun mengalir. Mulai tanya “Mau kemana?” sampai membahas harga sembako yang terus melambung. Ibu tersebut yang sedang memangku anaknya yang tertidur pulas bercerita, bahwa dia sedang melakukan perjalanan pulang dari Ragunan bersama ibu-ibu komplek yang duduk di sebelah kirinya. Pantesan, suasana dalam gerbong riuh ramai. Macam ibu-ibu komplek pindah arisan di kereta. Sepanjang perjalanan pun saya habiskan untuk mendengarkan mereka ngobrol seru tanpa jeda. Sesekali mangguk-mangguk dengan senyum tipis, ketika sang ibu tersebut mengarahkan wajahnya kepada saya.

Interaksi
Menawar Oleh-oleh

Ketemu Sesama Indonesian di Vietnam

Sebuah persoalan utama saat kita ke Luar Negeri adalah masalah bahasa. Yap, kita harus speaking English ketika ngobrol dengan orang, karena bahasa tersebut merupakan bahasa internasional. Kecuali dengan teman sendiri yang sedang traveling bareng sama kita. Selain itu, banyaknya turis dari berbagai negara kadang membuat telinga kita menjadi gagal paham mengenai percakapan-percakapan yang terlontar dari mulut mereka. Malam itu, saya dan ketiga teman saya yang paling kece Dhev, Je, dan Amga sedang menunggu bus di sebuah agen travel di kota Saigon. Kami akan melakukan perjalanan menuju Nha Trang. Di dalam kantor agen travel, kami menunggu bersama penumpang lain yang sendang menunggu bus dengan berbagai tujuan.

Kantor agent travel tersebut sudah layak disebut halte. Banyak orang yang datang dan pergi. Aktivitas menunggu kami pun tak lepas dari sebuah kegiatan “ngobrol”. Yah, kadang pakai bahasa Jawa kadang pula bahasa Indonesia. Disisi lain kuping saya pun ikut bekerja keras untuk menangkap percakapan orang lain di luar percakapan kami. Tanpa saya sadari, duduklah seorang mas-mas yang tiba-tiba menyapa kami “Mau pada kemana?” Dengan amat terkejut saya pun menengok ke arah mas-mas tersebut. Mas-mas itu berusia sekitar 30 tahun. Wajahnya sudah terlihat dewasa gitu, dan face-nya lumayan cakep. Hehe. “Mas-nya orang Indonesia?” Tanya Je kapadanya. “Kami mau ke Nha Trang.” Jawab saya segera (keburu digebet Je), sambil menahan ekspresi tertegun melihatnya. Akhirnya kami pun ngobrol ngalor ngidul mengenai destinasi yang ada di Vietnam. Tak lama kami ngobrol, datanglah salah seorang temannya yang nggak kalah cakep, dan mas itu pun memperkenalkanya kepada kami. Kami pun berkenalan dengan mereka berdua, tapi karena terlalu lama tertegun saya lupa bertukar sosmed sama dia (nyesel banget).  Rasanya saya sudah jauh pergi dari rumah, jalan ke negara orang ujungnya ketemu orang Indonesia. Tapi disisi lain ada rasa senang, yeee..! Ketemu orang Indonesia juga akhirnya setelah seharian jalan dan banyak yang mengira kami orang Malaysia dan orang Philinpines.

Private Trip Sama Orang Korea

Interaksi
Berfoto dengan Harry turis Korea

Jika di Saigon kami bertemu dengan traveler dari Indonesia, kali ini kami jalan bareng dengan turis Korea di Nha Trang. Singkat cerita, kami mengambil paket tour setengah hari. Entah kenapa peserta tour ini adalah kami berempat dan salah seorang turis dari Korea. Kami diantar oleh mini bus dengan seorang sopir dan seorang tour guide. Seperti biasa ketika bertemu orang baru pasti yang dilakukan adalah saling pandang, lempar-lempar senyum, dan aksi malu-malu mau nyapa atau nggak.

Ketika kami berada di Long Son Pagoda, kami saling berpencar dan bertemu di depan patung Budha putih berukuran 79 feet. Saat itu, saya melihat Je sedang berteduh dengan turis Korea itu di bawah payung biru. Salah satu tujuan saya pergi keluar negeri adalah pengen memperlancar kemampuan bahasa asing saya. Meskipun tak selancar Je sang translator kondang. Haha

interaksi
Foto Je dengan Harry di Long Son Pagoda
Interaksi
Dhev terlihat asik ngobrol sama Harry di Phonagar Tower

Dengan segenap kemampuan dan keberanian akhirnya saya pun memberanikan diri untuk kenalan sama turis Korea yang bernama Harry itu. Harry? yah, namanya Harry dan saat berkenalan dia menekankan ejaan H-a-r-r-y sambil mengumpamakan namanya seperti nama seorang tokoh film Harry Potter. Akhirnya saya pun berhasil ngobrol ngalor ngidul dengannya. Inilah alasan Je, kenapa dia tidak mau membantu saya untuk berinteraksi dengan orang-orang asing di sekitar saya saat di Vietnam. Asalannya yaa, biar belajar, biar tambah fasih dan tambah berani. Gitu katanya, ahh…Je memang teacher paling top deh.

Sepasang Kekasih Beda Negara

Gak usah galau membaca sub bab ini, mentang-mentang malam minggu. Iya, author-nya jomblo, malam minggu bukannya kencan malah ngeblog! Babahno (baca : biarin). Seperti yang pernah saya ceritakan sebelunya di pembahasan traveling yang berantakan. Saya pernah bertemu sepasang bule yang sedang pacaran di gerbong kereta dan duduk berhadapan dengan saya!

Yah, awalnya sempat sebel sih melihat tingkah mereka yang tak tau tempat. Mesra-mesraan di tempat umum. Iya, saya akui kalau saya baper melihatnya. Tapi mau nggak mau yaa, nikmatin aja. Sampai pada akhirnya kami pun ngobrol. Tak hanya ngobrol, kami pun sempat berkenalan dengan bule cewek yang bernama Naomi. Yah, mirip dengan nama orang Jepang. Dia berasal dari Holland, dan sengaja datang ke Indonesia karena dia punya waktu senggang setelah lulus SMA dan menunggu waktu masuk perguruan tinggi. Sedangkan temannya berasal dari Jerman. Pantas saja, saya dengar dari obrolan mereka menggunakan bahasa Inggris bukan bahasa dari negara asal mereka.

Turis asal Belanda
Turis asal Belanda

Ada sesuatu yang buat saya merasa senang, ketika ngobrol dengan Naomi. Sebab, dia cerita tentang travelingnya di Indonesia. Dia cerita, sebelum dia melanjutkan perjalanannya ke Banyuwangi saat itu, dia sempat berkunjung ke Bandung dan Jogja. Dia pamer beberapa foto ketika di Bandung, dia merasa nyaman dan enjoy menikmati kota Bandung. Selain itu dia cerita tentang Jogja yang kaya akan seninya. Merasa bangga, ketika ada seorang Turis yang merasa kagum dan memuji negeri tercinta ini.

Bertemu dengan orang pada saat traveling memang memberikan kesan tersendiri bagi kita masing-masing. Bagaimana dengan cerita kalian?

Share This:

2 thoughts on “Interaksi Dengan Teman Baru Saat Traveling

  1. Berinteraksi dengan orang baru pas traveling bisa jadi dapat teman baru, pengalaman baru, kaliiii juga dapat jodoh ya kak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *