Sopir Buta Arah Di Malang

“Nih, kamu yang pegang setir!” Perintah itu membuat saya seolah ingin tersedak biji salak (padahal tidak sedang memakannya).

“Tapi…saya gak tau jalanan Malang, mending kita naik angkot saja.” Saya mencoba membela diri dengan cara protes dan mencoba memberikan solusi lain. Namun, pembelaan dan ide saya tidak diterima oleh ketiga teman saya. Dalam hati saya hanya bisa mengumpat tanda kesal dan kawatir nyasar lantaran saya memang buta kota Malang. Sementara ketiga teman saya ingin diantar ke Museum angkut di kawasan Batu.

IMG_1821
Putar-putar Malang hanya berbekal GPS

Gila, Malang – Batu itu lumayan lho, sekitar satu jam, belum lagi medan yang dilalui pasti naik turun. Bayangan saya sudah menerawang tak tentu arah.

“Woy, buruan….keburu siang, nanti kita pake GPS!” Teriak kak Tiwi tepat di telinga saya.

Antara yakin dan tidak yakin, akhirnya saya mengiyakan ide gila mereka. Saya segera menyalakan mesin mobil dan mengendarai mobil berbody tinggi (Taft). Dalam hati, jangan salahkan saya jika nantinya nyasar dan jangan salahkan saya juga kalo mbah gugel php-in lokasi kalian. Karena menurut pengalaman saya jarang sekali berhasil mengemudi menggunakan GPS karena sinyal yang muncul tenggelam.

Setelah berhasil keluar gang komplek, kami memutuskan untuk mengisi bahan bakar. Dan benar apa dugaan saya, sinyalnya ngadat sehingga laju GPS untuk menentukan arah pun jadi terhambat. Entah apa yang ada dalam pikiran saya, tiba-tiba ingat tentang paket data #FreedomCombo dari IM3 Ooredoo yang saya dapatkan saat mengikuti Fun Blogging di Semarang minggu lalu. Tapi, kendala saya adalah ponsel yang saya miliki belum 4G.

 

Gara-gara acara ini saya Mengenal Freedom Combo
Gara-gara acara ini saya Mengenal Freedom Combo

GPS lancar Menggunakan sinyal 4G

“Ada yang hp-nya udah 4G?” Tanyaku sambil beranjak dari lokasi pengisian bahan bakar, kemudian menepi sebelum melanjutkan perjalanan.

“Ada kak, hp ku sudah 4G.” Jawab Aik yang sedang duduk di belakang. Tanpa pikir panjang saya segera mengeluarkan sim card IM3 Ooredoo yang bersarang di handpone saya, kemudian memindahkan ke handphone Aik. Beruntungnya, sinyal 4G di Malang sangat baik. Semoga bisa sedikit membantu memperlancar perjalanan kami.

Pertualangan di mulai GPS on
Pertualangan di mulai GPS on

Seperti layaknya orang buta yang jalan dengan di tuntun dan diberi aba-aba. Saya mengemudikan mobil bertubuh garang itu menuju museum Angkut. Hanya mendengar arahan dari Aik saya melaju dengan kecepatan 40km/jam. Untung saja, meski liburan panjang jalanan kota Malang menuju Batu tidak begitu padat. Jadi kami tidak memakan waktu yang lama untuk melintasi jalanan tersebut.

Kenyamanan menggunakan sebuah teknologi benar-benar saya rasakan hari itu bersama indosat. Sesampainya di Museum Angkut pun kami menghabiskan waktu dengan berfoto ria dan segera bisa upload foto-foto narsis kami ke sosmed, meski cuaca sedang buruk sekalipun kendala sinyal ngadat tidak menimpa kami. Karena saat itu di pertengahan jalan menyusuri Museum Angkut yang luas, kami sempat kehujanan.

Berfoto ria buat di upload di sosmed untuk bahan pamer ke teman. haha
Berfoto ria buat di upload di sosmed untuk bahan pamer ke teman. haha

Telpon dan Sms Gratis

“Lele, gimana kak Tiwi? Katanya mau nyusulin kita?” Tanyaku kepada kak Tiwi, mengingat teman kami dari Bandung juga ingin gabung jalan bersama kami. Namun sampai sore itu belum ada kabar darinya.

“Nggak tau dari tadi aku whatsapp malah jadinya simpang siur salah paham.” Jawab kak Tiwi cemas.

“Gak usah ribet deh, nomor Lele kan Indosat, coba deh telpon saja pake IM3 Ooredoo tadi. Ada sama Aik tuh.” Tanpa banyak komentar kak Tiwi pun menerima saran saya dan segera menghubungi Lele yang tak lama kemudian tersambungkan.

“Kok, gak berkurang Pulsanya?” Tanya kak Tiwi heran.

“Hahaha…pakai paket freedom combo kan telepon dan sms sesama Indosat gratis.” Jawab saya sambil tertawa ngakak.

Semua berkat si Kuning IM3 ooredoo yang menolong perjalanan kami
Semua berkat si Kuning IM3 ooredoo yang menolong perjalanan kami

Sepulang dari museum Angkut, kami mencari Lele dan janjian bertemu di salah satu hotel di Malang. Niatnya biar gampang aja, karena Lele datang menggunakan angkutan umum dari Kediri. Seperti biasa lagi-lagi perjalanan kami di pandu dengan GPS yang siap on ketika kami butuhkan.

“Belok kanan, Belok kiri, jalan lurus sepanjang 2oom, kemudian putar balik.” Begitulah arahan dari operator GPS yang memandu saya untuk berkendara di jalan keliling kota Malang. Sampai pada akhirnya kami kembali ke rumah dimana titik awal kami berangkat dan memulai pertualangan konyol kami.

Share This:

6 thoughts on “Sopir Buta Arah Di Malang

  1. aku pengen ke museum angkut belum sempatt.huhu..
    Pasti asyik ya mbak..apalagi ditemani Indosat Ooreedo…bebas hambatan…yihaaaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *