Rangkuman Cerita Perjalanan Absurd

,

Jalan-jalan merupakan hobby saya. Sebenatar, sepertinya sudah menjadi passion saya. Banyak orang yang mengeluhkan hobby saya ini, tapi saya cukup bersikap cuek seperti biasa. Toh, mendengarkan cemooh orang lain tidak ada gunanya buat kemajuan karir saya. Eh, sebentar tadi bukannya bahas hobby jalan-jalan saya kenapa jadi membahas cemooh orang? Maaf, saya memang sering keceplosan curhat. hehe.

IMG_8257

Oiya, pada tulisan saya saat ini, saya akan bercerita sedikit tentang beberapa kejadian yang menurut saya absurd dan memalukan pada saat saya melakukan traveling. Oke, mungkin ini agak sedikit membuka aib saya… haha.

Kita Mulai saja……

  • Salah turun angkot. 

Kejadian ini bermula ketika saya pulang jalan bersama teman saya kak Uci (komunitas travel Kaskus). Pada bulan Juli tepatnya setelah lebaran idul fitri saya ikut pulang si Om ke Kota Bumi Tangerang. Niatnya memang cuma ingin maen. Namun sayang jika waktu cuti saya terbuang sia-sia hanya untuk duduk manis di rumah om. Sedangkan tante selalu memberikan kebebasan buat saya jika mau pergi bersama teman-teman saya yang ada di Jakarta. Oke, sejak itu saya putuskan buat janjian ketemu dengan kak Uci di Menteng.

Salah satu destinasi yang saya kunjungi ketika di Menteng
Salah satu destinasi yang saya kunjungi ketika di Menteng

Singkat cerita dia akan melakukan perjalanan city tour di menteng alih-alih buat melakukan survey untuk kegiatan 17 Agustus yang di selenggarakan oleh anak-anak travel kaskus. Sambil belajar sejarah katanya dan saya sadar ilmu sejarah saya dangkal. Perjalanan saya dari Tangerang (Kota Bumi) sampai Menteng Jakarta pusat berjalan mulus tanpa hambatan dengan menggunakan kereta komuterline. Pulang pun demikian, bagi saya tidak ada masalah saat di kereta dan perjalanan menuju Tangerang Kota kembali. Namun, hal memalukan muncul ketika menyambung perjalanan dengan menggunakan angkot dari Stasiun Tangerang ke Kota Bumi.

Dalam pikiran saya, hanya teringat apa kata tante “Kak, nanti jangan lupa naik angkot yang sama, warna biru, ada garis kuning di bawah, nomor 3 dan jurusan ke Kota Bumi. Ingat ya, kota bumi jangan salah arah.” Dan saya pun berhasil naik angkot tersebut. Tapi, ketika saya mulai naik angkot hari mulai gelap meski penerangan kota berfungsi dengan baik. Namun pengelihatan saya dan daya ingat saya mulai turun. Seolah saya tidak mengingat jalan yang saya lewati ketika berangkat tadi. Saya hanya bilang kepada abang supir angkot jika ingin turun di “kantor pemasaran Kota Bumi”. Yeee…alhasil saya di turunkan di pasar Kota Bumi. Tanpa pikir panjang dan menutupi rasa bego alias pura-pura jaim (biar nggak di kira salah jalan) saya pun turun. Dalam hati berontak dan mengumpat kesal. Sampai pada akhirnya saya telpon tante dan beliau tertawa ngakak lantaran beliau lupa mengatakan bahwa saya harus turun di Sabar Subur (Swalayan megah dekat komplek rumah tante).

  • Nggak Nyasar itu Nggak Asik

Dalam istilah traveling atau melakukan sebuah perjalanan kata “nyasar” itu sebenarnya tidak ada. Yang ada adalah kita berada di suatu tempat yang belum pernah kita jamah. Singkat cerita ketika saya melakukan perjalan di bulan Desember. Bisa dikatakan ini adalah trip terakhir saya di tahun 2015. Saya memutuskan untuk pergi ke Baduy, masalahnya singkat. Perjalanan saya mulai bersama ke lima teman saya, start dari museum negeri Banten dengan mengendarai sepeda motor dengan total 3 kendaraan. Saat itu saya berboncengan dengan Ijal menggunakan motor matic.

Nih Perjalanan ketika nyasar menuju Baduy
Nih Perjalanan ketika nyasar menuju Baduy

Setelah berkoordinasi kami pun berangkat beriringan, estimasi waktu perjalaanan dari Serang ke Rangkasbitung kurang lebih 3 jam perjalanan. Namun beda dengan kami yang menempuhnya selama 4 jam lantaran menggunakan acara nyasar. Kami saling berpisah di pertigaan jalan. Awalnya saya dan Ijal mengikuti arah motor Wawan dan Eha yang ada di depan kami. Kami yakin arahnya lewat situ. Namun sepanjang perjalanan kami tidak menemukan jejak bang Rifal dan Vania. Baiklah kami berempat berusaha cari jalan sendiri. Oke kami sepakat bakal barengan sampai Ciboleger. Namun, di tengah jalan Wawan meninggalkan kami, dan kami kehilangan arah di pertigaan.

Untungnya Ijal menguasai bahasa setempat jadi kami masih bisa bertanya pada penduduk sekitar, karena GPS pada ponsel kami tidak berfungsi karena susah sinyal. Hampir setiap perjalanan kami bertanya pada warga namun itu pun tidak mudah, karena kami juga kesulitan untuk menemui para warga. Karena kita berada di kawasan yang jarang penduduk dan banyak dijumpai perkebunan dan hutan-hutan. Yah, setelah berjuang mati-matian akhirnya saya dan Ijal sampai juga dan itu rasanya plong banget. Sementara yang lain udah menjamur menungu kami.

  • Mata Berkunang-kunang dan Hampir Pingsan.

Ini adalah tragedi yang sampai saat ini masih membekas di benak saya. Masih bersankutan dengan cerita di atas. Setting lokasi masih di Baduy. Karena kami datang terlalu sore akibat saya dan Ijal berhasil nyasar, rencana untuk bermalam di Baduy dalam pun pupus lah sudah. Kami hanya menikmati malam di Baduy luar di desa Gajeboh. Untuk mengobati kekecewaan, kami memutuskan untuk pergi ke Cibeo (Baduy dalam) esok harinya dengan di antar oleh anak pemilik rumah singgah kami.

Wajah ku tertangkap kamera saat hampir pingsan tapi tetap nyengir saat di foto
Wajah ku tertangkap kamera saat hampir pingsan tapi tetap nyengir saat di foto

Start awal perjalanan kami mulai jam 8.00. Bukan, sekitar jam delapan lebih sekian menit sekian detik. Di sepanjang jalan kami asik berfoto. Hingga kami tidak menyadari seberapa terjal dan licinnya medan yang kami lalui. Hingga pada akhirnya kami menemukan sebuah tanjakan manja. Tidak licin namun berbatu dan bertanah merah. Entah apa yang saya rasa, ketika kaki saya melangkah beberapa langkah, jantung saya berdenyut sangat kencang dan tiba-tiba mata saya berkunang-kunang tidak jelas dan hampir saja saya hilang kesaadaran.

Entah kenapa trekking ini membuat saya nampak lemah dan bodoh dihadapan teman-teman saya. Hingga pada akhirnya mereka membully saya tiada henti.

  •   Berebut Tempat Duduk Dengan Penumpang Lain di Kereta

Mungkin cerita ini masih sangat fresh di ingatan saya, karena baru terjadi beberapa minggu lalu. Ya, saya dan teman-teman saya pergi ke Malang denga tiket yang sudah disiapkan oleh mereka. Saya tinggal ngikut saja. Karena kereta masih mempersiapkan keberangkatan banyak penumpang yang turun dari gerbong. Saat itu kami ada di gerbong 8. Setelah kami mencocokan nomor kursi dengan tiket kami pun segera menata barang bawaan kami. Dan mulai duduk saling berhadapan.

Selang berapa menit sebelum kereta berangkat tiba-tiba, ada dua orang laki-laki berbadan tinggi tidak kekar datang menghampiri kami sambil berkata “Mbaknya nomor berapa?ini tempat duduk saya!”. Jlep, seperti ada sembilu yang nenancap di otak saya. Sebenarnya bukan salah saya tapi salah teman-teman saya. Nomor tiket saya dan salah satu teman saya (Ache) sudah benar, namun dua orang teman saya (Tiwi dan Aik) berpencar ke bangku lain.

Kereta yang kami tumpangi saat kejadian memalukan itu terjadi
Kereta yang kami tumpangi saat kejadian memalukan itu terjadi

Tapi entah kenapa pandangan salah satu lelaki itu nampak nyolot menghadap saya yang mengenakan masker menutup wajah dengan mata saya yang agak melotot menatapnya. Kemudian Tiwi mencoba menjelaskan dan sedikit memohon agar kedua laki-laki itu mengalah dengannya dan merelakan bertukar tempat duduk. Laki-laki satu dengan ikhlas memenuhi permintaan Tiwi namun beda halnya dengan laki-laki yang memandangku dengan tatapan aneh itu. Dia mencoba ngeyel untuk mendapatkan tempat duduknya. Namun lagi-lagi Tiwi memohon dengan welas asih. Sementara tatapan mata saya masih tertuju kepada lelaki itu hingga dia mengalah dan pergi dari hadapan kami.

Rasa malu mengguyur perasaan saya malam itu, tapi dalam hati saya ngakak tiada henti. Semoga kejadian ini cukup terjadi sekali. Namun tidak pada kenyataannya. hahahaha

Hemmmp,,,begitulah beberapa cerita absurd saya saat melakukan perjalanan dan mungkin masih banyak lagi, namun sejujurnya saya capek nulisnya. Lain kali bisa baca postingan saya di cerita perjalanan yang akan saya posting setiap hari (jika tidak ada kendala dadakan).

JejakJelata, Friday 8 April 2016

 

Share This:

Tinggalkan Comment di Sini ya...! Tapi Jangan Tinggalin Link Hidup!!!

4 Comments


  1. // Reply

    Hahhaa aku kesel tau kalau ada orang main ambil tempat duduk. Salah siapa pas booking ngga milih seat sekalian


  2. // Reply

    Naah…aku paling a suka pindah2 tempat duduk atau orang yg pindah2 tempat duduk..hehe.. *kecuali darurat 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *