Destination Traveling

Menjelajahi Monumen Tugu Pahlawan

Terik matahari yang bersinar terang tepat di atas kepala saya sudah mulai lelah dan perlahan akan pulang ke peraduannya. Namun semangat saya tak urung padam. Meski kaki sudah merasa lelah dan perut sudah mulai berontak ingin di isi. Seperti halnya para pahlawan yang berjuang melawan penjajah di kota ini. Semangat yang tak pernah padam.

100_2333

Saya melangkah memasuki area sebuah Monumen Tugu Pahlawan. Sudah bisa ditebak saya sedang ada dimana. Saya berada di Surabaya. Perjalanan saya menyusuri kota ini memang tidak akan pernah lelah. Monumen Tugu Pahlawan ini berdiri kokoh sejak tahun 1953, untuk mengenang jasa arek-arek Surabaya yang telah sudi mengorbankan nyawa mereka demi mempertahankan bumi pertiwi.

Seperti biasa, ketika saya berada di tempat yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi saya selalu membayangkan sebuah tragedi yang terjadi beberapa tahun silam tersebut. Rasa kagum pun selalu terbersit dalam benak saya.

Tugu Pahlawan Yang Menjulang Tinggi

Tugu Pahlawan Yang Menjulang Tinggi

Mobil Bung Tomo ikut serta di pamerkan di sekitar museum

Mobil Bung Tomo ikut serta di pamerkan di sekitar museum

Monumen Tugu Pahlawan ini tidak hanya memiliki tanah lapang yang luas dengan rerumputan hijau dan taman yang indah saja. Namun memiliki sebuah museum yang menyimpan beribu cerita tentang pertempuran 10 November, yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan.

Bangunan Museum yang mirip dengan piramida

Bangunan Museum yang mirip dengan piramida

Sebuah museum dengan bangunan yang mirip piramid itu berada di dekat Tugu Pahlawan yang menjuang tinggi dan megah. Seperti semangat para pahlawan yang menjulang tinggi untuk menumpas para penjajah. Banyak sekali cerita dan peninggalan alat perang yang mengisi museum tersebut. Cerita tentang masa lalu, cerita tentang perjuangan, dan cerita tentang kemenangan.

100_2342

Senjata perang yang menjadi koleksi museum

Senjata perang yang menjadi koleksi museum

Banyak sekali diorama yang bercerita tentang masa perjuangan, ditambah dengan audio yang memvisualiasaikan kejadian pertempuran tersebut. Seolah para pengunjung diajak merasakan apa yang terjadi pada masa itu. Merasakan kegetiran suasana dan semangat para pejuang menumpas penjajah. Hanya menggunakan alat tradisional berupa bambu runcing.

 

Share This:

10 Comments

  1. Ika Puspitasari March 2, 2016
    • Mia Kamila March 2, 2016
  2. Noorma Fitriana M Zain March 2, 2016
    • Mia Kamila March 2, 2016
  3. Marita Surya Ningtyas March 2, 2016
  4. prananingrum March 2, 2016
    • Mia Kamila March 2, 2016
  5. Vita Pusvitasari March 4, 2016

Leave a Reply