Sejarah Arsitektur Modern “Kunstkring”

, ,

Di balik kemacetan kota Jakarta yang begitu menjemukan ada sekilas tentang warisan budaya yang masih tertanam begitu megah.

Bangunan yang berdiri megah dikawasan Menteng Jakarta Pusat
Bangunan yang berdiri megah dikawasan Menteng Jakarta Pusat

Mataku terbelalak ketika kereta api yang aku tumpangi melintas pelan di atas rel menuju stasiun gambir. Aku melihat sisi kiri jendela, ada sebuah bangunan megah dengan nuansa Eropa. Rasa penasaran itu terungkap ketika aku bersama temanku yang mengenal tentang sejarah jalan menyusuri kawasan Menteng. Ada sedikit ketidak tertarikan ketika mendengar kata Menteng. “Yakin mau ke Menteng?Jauh -jauh dari Semarang cuma jalan-jalan ke Menteng?” Gumamku. Seringnya melihat acara FTV di televisi tentang gambaran kawasan Menteng yang menurutku tidak ada bagusnya, raasanya malas menerima ajakan kak Uci untuk pergi kesana.

Balkon bagian depan terdapat beberapa kursi tamu yang bisa kita nikmati dengan sajian menu yang tersedia.
Balkon bagian depan terdapat beberapa kursi tamu yang bisa kita nikmati dengan sajian menu yang tersedia.

Hari minggu ketika semua aktifitas di kerjakan di tempat tidur alias molor. Aku bergegas untuk menemui kak Uci di Menteng. Rasa kantukku tergantikan oleh rasa jemu memandang orang-orang yang saling berjubel di dalam ranggkain gerbong KRL.

Setibaku di Stasiun Gondangdia, aku di ajak oleh kak Uci menuju Sebuah bangunan membuat mataku tidak mau berkedip. Kunstkring, adalah bangunan yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi yang tertanam di kawasan Menteng tersebut. Rasa penasaranku terbayarkan sudah. Suatu tempat yang sekarang menjelma menjadi sebuah retaurant- tea lounge- art & cultural venue. Siapa yang sangka bahwa bangunan ini memiliki sejarah tersendiri.

Sejarah Arsitektur Modern

Gedung Imigrasi merupakan gedung bertingkat pertama di Jakarta yang dibangun dengan konstruksi beton bertulang. Kunstkring adalah sebuah gedung yang pernah dipakai sebagai kantor imigrasi sehingga sering juga disebut gedung X imigrasi.

Gedung ini dibangun pada tahun 1913 oleh arsitek Belanda, Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Gedung itu semula digunakan sebagai gedung Lingkaran Seni Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indische Kunstkring). Pemerintah Hindia Belanda menggunakan gedung ini sebagai tempat penyelenggaraan lukisan kelas dunia. Di tempat itu juga pernah dipajang sejumlah karya asli para perupa terkenal di dunia, antara lain Van Gogh, Marc Chagall, Pablo Picasso, yang dipinjam dari berbagai museum di Eropa.

Gambar bangunan ketika masih di gunakan untuk markas Majelis Islam A'la
Gambar bangunan ketika masih di gunakan untuk markas Majelis Islam A’la

Pada tahun 1942 – 1945, bangunan ini menjadi markas Majelis Islam A’la Indonesia sampai Indonesia merdeka barulah gedung ini beralih fungsi sebagai kantor imigrasi dan telah dikuasai oleh pemerintah RI.

bebrapa lukisan dari seorang seniman terpampang di ruang galery
bebrapa lukisan dari seorang seniman terpampang di ruang galery

Pada Tahun 1998 – 1999, gedung peninggalan Belanda tersebut menjadi terbengkalai dan terjadi penjarahan besar-besaran terhadap bangunan tua yang sudah kosong tanpa tuan. Sampai pada akhirnya Buddha Bar bekerja sama dengan pihak dinas museum DKI di tahun 2008 kemudian dibangun sebuah restoran.

sebuah ruang makan yang di juluki sebagai ruang Soekarno, karena terdapat foto-foto beliau
sebuah ruang makan yang di juluki sebagai ruang Soekarno, karena terdapat foto-foto beliau

Share This:

Tinggalkan Comment di Sini ya...! Tapi Jangan Tinggalin Link Hidup!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *