Alam Destination Traveling

Menumbuhkan Rasa Cinta Terhadap Wisata Jawa Tengah

Cinta – banyak sekali pemahaman tentang sebuah cinta dalam kehidupan kita. Dicintai dan Mencintai, sebuah perpaduan yang terkesan indah dan menyenangkan. Rasa cinta biasanya diungkapkan dengan cara saling menjaga dan saling memiliki kepada pasangannya. Begitu pula rasa cinta terhadap alam dan cagar budaya yang mempunyai nilai-nilai tersendiri untuk dijadikan sebuah tempat wisata. Kita tidak bisa mengungkapkan rasa cinta kita hanya sekedar mengaguminya saja, melainkan juga menjaga dan merawat agar tetap terlestarikan.

suasana yang memanjakan mata

Suasana yang memanjakan mata sepanjang jalan menuju Sukolilo

“Mama, kita mau kemana?” tanya seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun kepada mamanya yang tengah mengenakan helm.

“Ikut tante Mia jalan-jalan. Adek ikut? Ayok!” jawab sang mama.

Pagi menjelang siang, matahari sepertinya malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Udara yang terasa sejuk dan membuat suasana menjadi adem. Dengan mengendari sebuah motor scoopy yang terlihat trendy aku bersama mama Datik dan Pipin anaknya menuju sebuah perkampungan yang ada di sebelah selatan kota Pati – Jawa Tengah. Rencana awal, aku ingin pergi sendiri bersamanya. Tetapi Pipin yang tengah bermain bersama temannya tiba-tiba merengek ingin ikut. Alhasil kami pergi bertiga.

Pergi mengajak anak-anak? Huft, rempong pastinya. Tidak bisa membayangkan jika ditengah jalan merengek minta pulang dan lain sebagainya. Tapi dugaanku salah.

Motor melaju dengan kecepatan 40km/jam. Kami pergi ke desa Kedumulyo kecamatan Sukolilo. Sepanjang jalan kami di suguhkan dengan pemandangan bukit-bukit kapur dan hijaunya persawahan yang membentang luas, membuat syaraf mata menjadi fresh.

Goa Wareh

Goa Wareh yang di simbolkan dengan gambar pewayangan

Sendang Goa Wareh yang di simbolkan dengan gambar pewayangan nampak air yang jernih

Destinasi pertama kita adalah menuju Goa Wareh yang terletak tepat di desa Kedumulyo Kecamatan Sukolilo. Goa Wareh ini terdapat dua bagian goa. Goa yang pertama ini terdapat sumber mata air yang konon tidak pernah habis dan selalu mengalir walaupun  pada musim kemarau, hanya saja debit air yang berkurang. Air sendang goa ini menjadi sumber mata air oleh penduduk sekitar. Dengan panjang goa sekitar 1km lebih.

Goa Wareh di lihat dari atas.

Goa Wareh di lihat dari atas.

Dan Goa yang kedua berada di atas bukit. Untuk menuju kesana harus melewati sebuah tangga. Kaki kecil Pipin melangkah menyusuri anak tangga. Sebuah kidung nyanyian keluar dari mulutnya yang mungil. Dengan rasa sedikit cemas sesekali aku menayakan kepadanya apakah dia merasa lelah. Tetapi raut wajahnya yang polos dan senyumnya menunjukkan sebuah keceriaan. Walaupun sesekali dia mengusap peluh yang menetes di dahi.

Aku mencoba masuk ke dalam goa yang kedua dan aku tidak terdapat sebuah mata air, tetapi aku menemukan sebuah stalaktit dan stalakmit dan panjang goa kisaran sekitar 300m. Hanya saja yang membuat aku miris dan mengelus dada. Aku melihat sebuah aksi vandalisme di dinding goa oleh tangan-tangan jahil dan tidak bertanggung jawab.

Tampak Goa ke dua yang sering digunakan untuk menyepi.

Tampak Goa ke dua yang sering digunakan untuk menyepi.

Goa kosong yang terletak di bagian atas bukit

Goa kosong yang terletak di bagian atas bukit

Jalan menuju Goa Kosong di atas bukit

Jalan menuju Goa Kosong di atas bukit

Menurut cerita dari sesepuh di Goa Wareh yang sempat aku temui saat itu (pak Atmo) menuturkan bahwa di sekitar goa tersebut setiap bulan apit (kalender jawa) diadakan sedekah bumi dengan sebuah pementasan wayang dan ketoprak sehari semalam suntuk. Untuk mengingat para leluhur kita dan rasa syukur kita terhadap Tuhan.

“Mama, adek berenang ya.” Kata Pipin yang senang ketika melihat air sendang goa yang jernih.

Tidak hanya Pipin, banyak anak-anak seumuran dia yang sedang berenang di sana. menikmati kesegaran air sendang goa.

Goa yang sudah sejak dulu ada di desa ini sering sekali di kunjungi oleh para peziarah Syeh Jangkung. Mereka biasanya melakukan ritual mensucikan diri dengan cara mandi dan berendam di dalam goa. Tidak hanya pengunjung dari jauh yang ingin mandi di situ, tetapi warga sekitar juga kerap sekali mandi dan banyak sekali anak-anak yang berenang sambil bermain di goa tersebut.

Serunya anak-anak yang sedang bermain air di sendang goa

Serunya anak-anak yang sedang bermain air di sendang goa

Air sendang yang ada di goa tersebut terasa dingin dan jernih. Tapi sayang ketika kami berkunjung kami mendapati warga yang tengah mandi di situ dan menggunakan sabun, padahal sabun mengandung bahan kimia yang dapat merusak alam dan air dapat terkontaminasi.

Pemandangan yang lagi-lagi memanjakan mata dari atas bukit Goa Wareh

Pemandangan yang lagi-lagi memanjakan mata dari atas bukit Goa Wareh

Seharusnya kita sadar dengan berbagai macam perbuatan yang merusak alam dan sudah selayaknya kita menjaga dan merawat tempat-tempat wisata agar terjaga kelestariannya. Disinilah rasa cinta kita diuji. Tidak hanya merasa kagum dengan keindahan tempat tersebut melainkan harus bersedia menjaga dan merawatnya. Jika bukan kita, siapa lagi?

Jika kita ikut berperan untuk menjaga sebuah tempat-tempat wisata maka para pengunjung akan merasa senang dan jumlah pengunjung akan semakin bertambah, serta dapat menambah swadaya masyarakat desa setempat.

Eksis dengan anak-anak yang mandi di Sendang

Eksis dengan anak-anak yang mandi di Sendang

***

Mengajak anak-anak pergi ke sebuah tempat wisata ternyata asik, yang ada di pikiran mereka hanya main, main dan main. Tidak lupa, kita sebagai orang tua turut mengajarkan mereka bagaimana cara menjaga kelestarian alam, seperti mengajarkan agar tidak membuang sampah sembarangan, tidak pipis sembarangan dan mengenalkannya akan sebuah sejarah.

Air Terun Tadah Hujan

keindahan Air Terjun Tadah Hujan jika di lihat dari atas

keindahan Air Terjun Tadah Hujan jika di lihat dari atas

Air terjun tadah hujan menjadi sebuah destinasi kedua yang kami kunjungi setelah Goa Wareh. Masih terletak di kecamatan Sukolilo kabupaten Pati, tepatnnya di dukuh Sangrahan desa Sukolilo. Jaraknya agak lumayan jauh, mengarah ke selatan melalui jalan utama menuju kabupaten Purwodadi.

Setelah sempat tersesat dan tanya sama beberapa warga setempat akhirnya kami sampai di sebuah taman. Aku memarkirkan kendaraanku. Dam suara gemuruh air terjun terdengar di telingaku.

“Pin, kamu dengar tidak suara itu?” kataku kepada Pipin.

“Air terjun yaa tante, horeeee….” Jawab Pipin sambil sorak sorai.

Untuk menikmati air terjun tersebut kita harus turun kebawah melewati jalan setapak yang sudah di sediakan. Tapi jalan yang kami lalui amatlah terjal. Sehingga Pipin dan mama Datik tidak ikut turun. Mereka melihat dari atas. Sementara aku turun karena penasaran dan ingin menikmati keindahan air terjun tersebut dari bawah.

Air Terjun Tadah hujan terlihat indah dari bawah

Air Terjun Tadah hujan terlihat indah dari bawah

Begitu aku sampai di bawah dan berhasil mengambil gambar, aku merasa ada yang aneh dengan air tejun tersebut. Di bawah sekitarnya terdapat gumpalan bebatuan padas besar bekas reruntuhan longsor. Sungai yang dilalui air terdapat beberapa sampah plastik.

Setelah aku merasa puas dengan pengambilan gambar aku segera naik ke atas dan bertemu kepada bapak penjaga air terjun tersebut. Beliau menuturkan bahwa beberapa minggu yang lalu air terjun ini sempat mengalami longsor sekitar 3 meter didekat air terjun. Dan sebelumnya, sekitar lima tahun yang lalu terjadi longsor disebelah utara dibagian jalan setapak menuju air terjun, dan terpaksa dibuatkan jalan setapak baru, sehingga agak curam dan terjal, tetapi cukup aman untuk dilalui. Asal jika berkunjung jangan menggunakan alas kaki yang licin dan memiliki hak tinggi. hehe..

Jalan setapak menuju air terjun

Jalan setapak menuju air terjun

Menjaga dan melestarian alam itu sangatlah perlu. Tidak hanya disekitar lingkungan kita tetapi disemua lingkungan. Terutama ketika kita berkunjung ke sebuah tempat wisata yang membutuhkan perlindungan kita. Dengan adanya rasa cinta terhadap tempat wisata – terutama alam- kita bisa melakukan beberapa hal positif diantaranya menjaga tempat tersebut, merawatnya agar tidak mencoret-coret, membuang sampah di tempat sampah dan masih banyak lagi.

Bekas tebing yang longsong

Bekas tebing yang longsong

Walaupun  tidak utuh tapi masih terlihat indah

Walaupun tidak utuh tapi masih terlihat indah

Air terjun tadah hujan sebelumnya memiliki sendang yang bagus di bawah air terjun, bernama kedung njurug tetapi saat ini sendang tersebut tertutup oleh bebatuan padas longsoran dari tebing yang berada di atas. Di bagian atas air terjun terdapat taman bermain anak-anak dan ada kolam renang, yang nampaknya sudah tidak dipakai lantaran penjaga merasa was-was akan terjadi longsor lagi, karena tempatnya berdekatan dengan tebing yang longsor beberapa bulan yang lalu.

Awalnya sebuah kolam renang dan berfungsi dengan baik.

Awalnya sebuah kolam renang dan berfungsi dengan baik.

“Sebelumnya para pengunjung bisa menikmati air terjun dari atas dan melewati kedung yang terletak di atas, tapi setelah longsor saya memasang pagar demi keselamatan.” kata pak penjaga menuturkan.

Rasa menyesal bersarang dalam dada, karena tidak bisa menikmati keindahan sebelum terjadinya longsor. Seandainya saja aku datang dua bulan yang lalu mungkin aku bisa menikmati indahnya suasana air terjun tersebut. Sekarang yang dapat kita lakukan adalah menjaga, merawat dan melestarikan wisata alam dan budaya yang ada di Indonesia. Indonesia kita kaya akan budaya dan kekayaan alamnya. Dan Jawa Tengah  juga memiliki potensi alam dan budaya yang sangat menarik. Ya, karena aku memang tinggal di Pati-Jawa Tengah, paling tidak rasa cinta kepada wisata Jawa Tengah harus diterapkan. Sehingga suatu saat bisa mengajak beberapa teman lainnya yang berasal dari luar kota untuk datang dan menikmatinya.

Pemandangan dari atas, nampak seluruh kota Pati

Pemandangan dari atas, nampak seluruh kota Pati

Bebatuan longsor yang nenutupi kedung

Bebatuan longsor yang nenutupi kedung

Ungkapkanlah rasa cinta kalian dengan cara menjaga, melestarikan dan memiliki tidak hanya sekedar menikmati. Karena dengan ungkapan rasa cinta kita secara tidak langsung dapat meningkatkan rasa syukur kita terhadap Tuhan sang pencipta alam semesta ini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA UTAMA BLOG VISIT JAWA TENGAH 2015

PERIODE : 1 Juni – 4 Juli 2015

Banner Lomba Utama

Share This:

3 Comments

  1. Dewi Rieka July 6, 2015

Leave a Reply