Solo Traveling Ke Mengintip Heritage Di Kota Pahlawan

Solo traveling? siapa takut? Angkat kopermu, gendong ranselmu mari melangkah melihat indonesia yang memukau. Mungkin pengalaman travelingku tidak se-keren kakak-kakak travel blogger lainnya yang sudah melanglang buana keliling indonesia. Aku? pulau jawa aja belum tamat. Aku mah apa atuh…

Solo traveling? why not?
Solo traveling? why not?

Tapi yang namanya solo traveling sering aku lakukan. Kata teman-temanku sih aku tergolong Bolang (Bocah Ilang). Pergi sendiri, dan pulang sendiri. Banyak teman-teman pada bilang “Kurang kerjaan banget sih pergi-pergi sendiri.” Yah, bukannya kurang kerjaan, atau nggak ada yang diajak pergi. Tapi solo traveling bagiku lebih nyaman karena mau pergi kemana sesuka hati nggak ada yang protes dan nggak rempong menyesuaikan waktu, karena tujuan dan waktu kita sendiri yang mengaturnya.

Sebuah destinasi yang aku pilih dan aku anggap nyaman adalah Surabaya. Mungkin bagi sebagian orang kota ini kurang menarik buat dikunjungi, apalagi solo traveling. Panas cyinn….! Iya, benar kotanya memang panas, orang-orangnya kasar tapi hati mereka tidak sekasar dialeknya lhoo. Jangan salah, kota ini menyimpan banyak cerita lho, heritage-nya juga masih banyak dan masih ada.

Minggu lalu, aku mencoba untuk solo traveling ke Surabaya untuk yang kesekian kalinya, tapi kali ini beda. Biasanya aku jika kesana mengandalkan dijemput oleh saudara dan tidur nyenyak di rumahnya. Kali ini mungkin bisa dikatakan sedikit berbeda, karena aku mempunyai tujuan yang berbeda.

Berangkat dari Semarang menggunakan kereta malam. Bukan karena tidak ada kereta di jam siang hari tapi, aku masih ada acara yang harus diselesaikan sampai jam tiga sore, dan kereta setelahnya berangkat jam sembilan malam. Alhasil jika sesuai jadwal yang tertera di tiket, kereta akan tiba di Surabaya jam dua pagi dini hari. Tidak bisa aku bayangkan, cewek, sendirian, tengah malam di stasiun tanpa tujuan. Tenang, jika kita tidak menanamkan niat jahat pasti semuanya akan baik-baik saja, dan jangan lupa berdoa. Itu adalah kunci pedomanku.

Berbekal informasi yang aku dapatkan, dan mungkin setengah nekat. Aku melangkah menuju stasiun Tawang dari Tembalang jam tujuh malam, karena aku nggak mau ketinggalan kereta seperti pengalaman tahun 2000 di Jakarta. Ternyata kereta mengalami kemoloran satu jam, sehingga jadwal tiba di Surabaya tidak jam dua melainkan jam tiga pagi. Ini membuat aku agak sedikit bernafas lega. Dan sebuah tawaran penjemputan oleh seorang kawan, yang mengetahui diriku akan ke Surabaya melalui status BBM yang aku buat sebelum kereta berangkat membuat aku menjadi tenang. Artinya aku gak akan terlantar sendirian di stasiun. Karena tidak ada tujuan yang pas dari Stasiun kereta Pasar Turi, dan kebetulan perut ini meronta-ronta, aku memutuskan unruk pergi ke sebuah restoran jungfood 24 jam di dekat stasiun dan menunggu pagi tiba disana.

***

Kembang Jepun

Sepanjang Jalan Kembang Jepun
Sepanjang Jalan Kembang Jepun

Setelah istirahat sejenak melepas lelah saat perjalanan, kaki ini mulai tergerak untuk pergi mengelilingi kota Surabaya. Bersama salah seorang teman yang bersedia mengatarku keliling kota menikmati panasnya terik matahari dan padatnya kendaraan. Aku menuju Jalan Kembang Jepun. Kanan, kiri aku melihat sebuah bangunan tua yang masih berdiri kokoh dan di gunakan sebagai pertokoan. Kawasan ini adalah kawasan tertua di kota Surabaya dan merupakan pusat perdagangan. Jalan Kembang Jepun menjadi pembatas pembagian wilayah berdasarkan etnis. Pecinan berada di sebalah selatan, kampung Arab dan Melayu berada di sebelah utara kawasan itu. Bangsa belanda berada di sebalah barat Kalimas yang kemudian mendirikan sebuah komunitas “Eropa Kecil”. Terdapat sebuah gapura di kawasan itu yang bertuliskan Kya-Kya yang artinya Jalan-jalan. Jika malam hari kawasan ini akan berubah menjadi pusat kuliner. Kawasan yang mempunyai panjang 730 meter dan lebar 20 meter ini mampu menampung 200 pedagang. Tersedia  2.000 kursi dengan 500 meja makan.

HOS (House Of Sampoerna)

Gedung Utama Museum House Of Sampoerna
Gedung Utama Museum House Of Sampoerna

Masih berada di bagian utara kota Surabaya. Sepeda motor yang kami tumpangi melaju menuju sebuah museum. Sesekali mata ini terbelalak, melihat sebuah bangunan tua namu masih terawat, tertata rapih dan megah. Dari luar gedung tampak beberapa petugas keamanan yang sedang menjaga tempat ini. Sesekali aku menyeka peluh yang menetes di pelipis. Terik matahari siang ini memang begitu terasa panas sekali. Aku melangkah dengan Ima, seorang teman yang mengantarku kesini. Aku menuju gedung utama yang berada di tengah, sebuah pintu berkayu tebal dengan sebuah handle pintu yang terlihat unik dan kuno menyapa kami. Ima membuka pintu tersebut, lalu ada seorang penjaga museum yang cantik menyapa kami. Aroma tembakau dan cengkeh tak segan menusuk penciuman kami dan suhu dingin di dalam mengeringkan seluruh keringat yang menetes.

Replika Warung Kuno
Replika Warung Kuno
Mini Laboraturium yang digunakan untuk membuat racaikan tembakau dan cengkeh
Mini Laborat0rium yang digunakan untuk membuat racaikan tembakau dan cengkeh
Replika Warung yang merupakan ujung tombak perusahaan
Replika Warung yang merupakan ujung tombak perusahaan

Gedung utama ini menempati bangunan tua buatan tahun 1864, terdiri dari dua lantai. Lantai pertama memamerkan beragam alat-alat kuno yang tertata rapih. Teradapat sebuah replika warung sederhana milik PT Sampoerna, Liem Seeng Tee dan istrinya Siem Tjiang Nio. Di depan replika warung tersebut terdapat sebuah tembakau dari berbagai daereah lengkap dengan alat penggiling dan alat pengering tempo dulu. Diruang tengah terdapat sebuah replika warung pedagang kecil yang merupakan ujung tombak PT. Sampoerna. Terdapat juga sebuah lab mini untuk meracik tembakau hingga menjadi sebuah rokok. Di lantai dua di sediakan berbagai macam souvenir yang bisa di jadikan buah tangan, dan kita juga bisa melihat secara langsung proses pelintingan rokok sebelum terjadi proses pengepakan dari tangan ratuasan pekerja wanita yang terampil dan cepat.

Anekan Batik yang di pamerkan
Anekan Batik yang di pamerkan
Beberapa Keramik dan Lukisan
Beberapa Keramik dan Lukisan

Ada beberapa gedung lagi di sebelah kanan dan kiri gedung utama, yaitu art galeri, yang memamerkan beberapa patung keramik, lukisan, dan kain batik khas Jawa Timur. Tersedia juga sebuah kafe dan gedung yang khusus memamerkan berbagai macam koleksi mobil sang pemilik.

Makam WR Soepratman

Jika kita berada di Jalan Kembang Jepun, melajulah kerah timur melewati Jalan Kapasan, maka akan bertemu Jalan Kenjeran, disana terdapat sebuah makam seorang tokoh pencipta lagu Indonesia Raya. Wage Rudolf Supratman yang lahir pada tanggal 9 Maret 1903. Semasa hidupnya beliau menciptakan lagu untuk menggugah bangsa Indonesia agar terwuudnya cita-cita Indonesia merdeka. Atas jasanya beliau dianugrahi bintang Maha Putra Anumerta III.

Masjid Cheng Hoo

Masjid Cheng Hoo Surabaya
Masjid Cheng Hoo Surabaya

Setelah puas mengelilingi House Of Sampoerna, kami berpindah tempat menuju Jalan gading, Ketabang, Genteng, Surabaya. Disana berdiri sebuah masjid yang bernuasa Muslim Tionghoa. Masjid ini bernama Masjid Cheng Hoo Surabaya atau dikenal sebagai Masjid Muhammad Cheng Hoo. Masjid ini dibangun sebagai penghormatan pada Laksamana Cheng Hoo yang berasal dari Cina dan beragama Islam. Cheng Hoo melakukan sebuah perjalanan di Asia Tenggara untuk berdagang, menjalin persahabatan dan menyebarkan agama islam. Pada Abad ke-15 pada masa Dinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa dari Yunani mulai berdatangan untuk menyebarkan agama islam, terutama di pulau Jawa. Kemudian pada tahun 1410 Laksamana Cheng Hoo (Admiral Zhang Hee) atau yang lebih dikenal dengan Sam Poo Kong dengan armada yang dipimpinya mendarat di pantai Simongan, Semarang. Beliau juga merupakan utusan Kaisar Yu Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit yang memiliki tujuan yang sama, menyebarkan agama Islam. Jadi Disini kita bisa beribadah sekalian berwisata religi.

Tugu Pahlawan

Jangan lupa untuk mampir ke Monumen Tugu Pahlawan, yang terletak di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Monumen ini didirikan untuk mengenang jasa para pahlawan Surabaya pada saat berperang melawan sekutu pada tanggal 10 November yang dikenal sebagai hari pahlawan. Monumen ini juga merupakan icon kota Surabaya.

Tips memperoleh Penginapan Murah

Pengalaman solo traveling dengan menggunakan kereta malam tanpa adanya persiapan penginapan terlebih dahulu membuat aku berfikir ulang untuk lebih prepare agar tidak terlantar jika tiba di lokasi tujuan kita masih gelap atau dini hari. Prepare penginapan bisa dilakukan sebelum berangkat atau di jalan menuju tempat tujuan karena pemesanan melalui website travelio.com yang bisa di akses melalui laptop atau smartphone. Jadi tidak perlu bingung dengan cara memesan hotel yang murah sesuai dengan kantong kita, karena dengan travelio.com harga hotel bisa ditawar lhoo..!!

caranya mudah sekali, Pertama!

Buka website travelio.com yang kemudian akan muncul penampakan seperti ini, lalu masukkan kota tujuan, tanggal cek in, lama cek in ~> klik Cari Hotel

Petama Masukkan Kota Tujuan dan tanggal menginap
Petama Masukkan Kota Tujuan dan tanggal menginap

Kedua!!

Pilih Hotel yang sesuai dengan dekat dengan destinasi dan tentunga sesuai dengan budget, hehe

Tampilan hotel
Tampilan hotel
Pilih Hotel yang di inginkan
Pilih Hotel yang di inginkan
Informasi sekitar penginapan
Informasi sekitar penginapan

Ketiga!!!

Tawar harga penginapan yang diinginkan dan masukkan harga penawaran yang kita inginkan.

Masukkan harga penawaran yang diinginkan
Masukkan harga penawaran yang diinginkan

Keempat!!!!

Masukkan email dan password untuk melihat hasil penawaran atau lakukan registrasi.

Login atau register
Login atau register
Tunggu Proses Penawaran
Tunggu Proses Penawaran

Kelima!!!!!

Lihat hasil penawaran…. dan penawaran berhasil, kemudian lakukan pembayaran.

Horee Berhasil menawar..!
Horee Berhasil menawar..!

Cari penginapan yang strategis dengan lokasi yang menjadi destinasi kita. Kali ini aku akan memilih HOS Homestay yang terletak di Jl Gembong n0 40 J, Kapasan-Surabaya. yang terletak didak jauh dari Jalan Kembang Jepun, House Of Sampoerna, dan destinasi lainnya.

Tidak hanya itu, di House Of Sampoerna kita juga bisa menikmati Bus Wisata SHT (Surabaya Heritage Track) yang disediakan oleh HOS. Kita akan di bawa keliling menuju setiap sudut kawasan tertua kota Surabaya. Tapi ingat, jika datang di hari senin Bus SHT tidak beroprasi.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba “Travelio #YourTripYourPrice Solo Traveling Blog Competition”  yang di-host oleh wiranurmansyah.com  dan disponsori oleh Travelio.com

Share This:

2 thoughts on “Solo Traveling Ke Mengintip Heritage Di Kota Pahlawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *