Heritage Traveling

Tujuh Menit Lalu Ketika Berada Di Museum Keraton Surakarta

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar sebuah cerita tentang kota Solo ?

S

Tentu saja kalian akan menjawab kota yang kaya akan budaya dan sejarah pada masa kerajaan Mataram. Begitu pula denganku yang baru pertama kali datang ke solo pada bulan april 2010. Ada hal menarik yang ingin aku ceritakan ketika aku pertama kali datang ke Solo waktu itu. Karena ini adalah awal dari perjalanan travelingku, sebelum aku jatuh cinta dengan yang namanya traveling.

Solo, tidak pernah ada habisnya jika kita membahas tentang kota yang satu ini. Selain kotanya yang bersih, rapi, ramah, banyak sekali menyimpan cerita-cerita sejarah. Perjalanan aku tempuh selama kurang lebih tiga jam melalui jalur darat dari Semarang. Aku tak sendirian waktu itu,  melainkan bersama delapan teman kostku. Destinasi utama ketika sampai di Solo adalah mengunjungi Museum Keraton Surakarta Hadiningrat. Karena tempat ini menyimpan sebuah sejarah.

Selangkah demi selangkah aku menyusuri setiap ruangan yang memamerkan benda-benda peninggalan di jaman kerajaan Mataram. Selain belajar mengenal tentang sejarah, tempat ini juga bagus untuk narsis. Aku merasa terkesima dengan setiap benda yang berada di etalase.

S

Ketika aku mengamati setiap benda yang di pamerkan, ada sesuatu yang membuat hidungku mengendus beberapa kali. Aku mencium bebauan yang menyengat.

“Bau apa sih ini?Bau nggak Is?” Tanyaku kepada salah satu teman yang berada di sebelahku bernama Euis.

“Mana?gak bau apa-apa.”

“Ini Is, bau wangi gitu. Masa gak bau?” Tanyaku lagi.

“Bau kemenyan mungkin. Kan banyak di taroh sesajen di sekitar sini.” Jawab Euis. Aku hanya mengangguk pelan sambil melanjutkan langkah untuk melihat ke tempat lainnya.

Suasana mistis di sekitar keraton memang sangat kuat sekali. Tapi aku tak menghiraukan dengan suasana itu. Langkah kaki yang ku ayunkan mulai sedikit gontai, sehingga aku harus mencari tempat untuk bersandar. Aku duduk di sebuah kursi panjang di depan ruangan.

“Capek Mi?” Tanya Euis yang tiba-tiba cemas denganku. Karena dari awal tadi aku begitu semangat dan antusias sekali dengan tempat ini. Aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Tujuh menit kemuadian aku merasakan hal yang aneh. Pundakku terasa berat, padahal aku tidak membawa beban apapun. Kepalaku terasa pusing dan ingin pingsan.

“Kok kamu pucat gitu?bener gak kenapa-kenapa?” Euis benar-benar cemas dengan keadaanku kali ini.

“Gak tau Is, mendadak kepalaku pusing dan pundakku terasa berat.”

Tak lama aku bersandar dari kursi panjang, kemudian aku keluar bersama Euis. Meninggalkan teman-teman yang lainnya dan menungunya di tempat parkir. Anehnya ketika sampai tempat parkir, rasa berat di pundak dan pusing hilang. Seolah aku tidak merasakan apa-apa. Mungkin aku memang kecapean atau memang ada ganguan dari penunggu yang tak kasat mata.  Sekarang, rasanya aku ingin kembali kesana lagi untuk mengorek lebih dalam tentang sejarah dan tradisi kebudayaan. Terutama mengintip kediaman Raja.

SisaSelasa : Apa yang terjadi 7 menit lagi?

Share This:

21 Comments

  1. Rivai Hidayat May 6, 2015
  2. Halim Santoso May 6, 2015
    • miyakamila May 6, 2015
  3. Dhev May 6, 2015
  4. Andra May 6, 2015
  5. mysukmana May 9, 2015
    • miyakamila May 11, 2015
      • mysukmana May 18, 2015
        • miyakamila May 18, 2015
          • mysukmana May 18, 2015
          • miyakamila May 18, 2015
          • mysukmana May 18, 2015
          • miyakamila May 18, 2015
          • mysukmana May 18, 2015
          • miyakamila May 18, 2015
          • mysukmana May 18, 2015
          • miyakamila May 18, 2015

Leave a Reply