Serpihan Cinta Di Malioboro

malioboroMalioboro adalah nama suatu tempat yang selalu ramai dengan pengunjung. Dari mulai anak-anak hingga dewasa, Mulai dari miskin hingga kaya, bahkan dari dalam negeri maupun Manca Negara. Semua bisa di temukan di sini.

“Nanti kita cari penginapan di Malioboro aja.” Kata Yani, yang serentak menyadarkanku dari sebuah lamunan mengenai Malioboro.

Dua tahun silam, ada sebuah cerita di Malioboro. Sepenggal cerita cinta tanpa balas. Kini cerita itu hanyalah sebuah cerita yang mungkin saja hanya bisa terpendam, atau terpaparkan di lain bahasan.

***

Mencari Penginapan Di Malioboro

“Ini malam minggu, pasti penginapan pada penuh.” Kata Cik Fang yang mulai gusar mengenai penginapan. Sementara aku masih merasa baper (Baca: Bawa Perasaan) tentang tempat ini.

Mobil yang kita kendarai melaju pelan memasuki kawasan sosrowijayan, dimana berjajar hotel dan guest house menyapa para tamu. Tak ketinggalan kafe-kafe kopi yang menyajikan live musik dan keramahan para pramuniaga.

Setelah memakan waktu hampir lima belas menit untuk mencari penginapan akhirnya kita memutuskan untuk istirahat di Selaras inn hotel. Sebuah hotel yang berada di Jalan Sosrowijayan no. 45, Yogyakarta. Lokasi yang strategis karena dekat dengan Malioboro. Hotel tiga lantai berbentuk minimalis dan bersih. Denga tarif Rp. 390.000,00 kita bisa mendapatkan sebuah kenyamanan di sini, dengan fasilitas wifi dan sarapan pagi. Aku satu kamar berdua dengan Yani, sedangkan Cik Fang berempat dengan Suami, mamanya dan Jose si anak yang masih berumur sekitar dua tahun kurang.

Siasana dalam kamar Selaras inn
Suasana dalam kamar Selaras inn

Setelah selesai mengurus admisnistrasi cek in, kita langsung memasuki kamar masing-masing, untuk mandi dan sekedar istirahat sejenak dari perjalanan panjang dari Semarang.

Setelah selesai bersih-bersih dan istirahat kita memutuskan untuk jalan-jalan menyusuri Malioboro yang tak pernah mati oleh pengunjung dan tidak kenal kata malam. Aku, Yani dan Cik Fang melangkah keluar. Kali ini Cik Fang lupa akan statusnya yang sudah beranak satu.

Langkah demi langkah kita ayunkan menyusuri Sosrowijayan menuju Malioboro. Baru sekitar 50m handphone Cik Fang berdering. Rupanya telepon dari mamanya yang memberikan kabar bahwa Jose anak Cik Fang nangis mencari mamanya. Aku dan Yani mengerutkan dahi bersamaan.

“Dari pada bengong di jalan kita masuk kopi shop aja yuk.” Aku mengajak Yani masuk ke dalam Kopitiam yang saat itu ada live musik dan memesan sebuah kopi sambil menunggu Cik Fang yang kembali ke hotel aku dan Yani ngobrol ringan. Tak lama menunggu Cik Fang datang bersama Jose yang di gendong neneknya. Walaupun ada sedikit gangguan oleh ulah Jose tapi kita tetap merasa hepi malam itu. Dan menganggap gangguan itu adalah sebuah variasi atas sebuah perubahan status diantara kita bertiga yang sedang melepas rasa kangen karena lama tidak bertemu.

Jalan Menyusuri Maliboro

Langkah demi langkah kita ayunkan menyusuri Malioboro. Kali ini benar-benar bertiga. Jose? dia sudah tidur sama neneknya. Cik Fang malam itu berasa masih gadis. Menyusuri trotoar yang penuh dengan pejalan kaki, pedagang dan seniman. Selintas pikiranku ingat saat buih-buih cinta mulai muncul di sini dua tahun silam.

Tak beda dengan Yani yang sedang dilanda kegalauan malam itu. Rupanya ada cinta terpendam yang tidak terbalas mengusik hatinya. Selebihnya kita tetap hepi malam itu.

Tidak terasa langkah kita kian jauh, hingga sampai monumen serangan 1 maret 1949. Di kawasan itu kita bertemu dengan seniman jalanan jogja, yang sengaja beraksi dan para pengunjung memberikan uang seiklasnya.  Ada yang menarik perhatian kita yaitu sebuah komunitas reptil yang sedang memamerkan hewan peliharaannya dan mempersilahkan pengunjung untuk berfoto dan memegang hewan-hewan koleksi mereka.

selfie bersama iguana jumbo
selfie bersama iguana jumbo
selfie dengan ualar piton albino yang unyu-unyu
selfie dengan ualar piton albino yang unyu-unyu
Foto selfie yani dan Cik Fang
Foto selfie yani dan Cik Fang
selfie dengan yang punya hewan
selfie dengan yang punya hewan
Pedagang tas lukis yang beraksi di pinggiran malioboro
Pedagang tas lukis yang beraksi di pinggiran malioboro

Sebuah percikan cinta yang muncul dan sebuah kegalauan yang meluap-luap malam itu berakhir di sebuah becak yang kita tumpangi untuk kembali ke hotel. Membawa sebuah pesan bahwa seberat apa perjuangan cinta yang kita hadapi jangan pernah berhenti untuk mengayuhnya, meski letih kita harus bisa menikmatinya. Menikmati setiap detail cerita yang penuh makna.

Sebuah salam untuk Malioboro dari serpihan cinta yang tak berbalas. Next time, I’ll come back with love in Malioboro.

Share This:

8 thoughts on “Serpihan Cinta Di Malioboro”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *