Sebuah Pesan Sederhana Menyimpan Makna dari Batik Tulis di Kota Pekalongan

JejakJelata2

Definisi Batik adalah : Proses pemintang warna dengan menggunakan canting atau cap untuk menggambar dalam sehelai kain atau media lain, kayu atau benang.

Pekalongan adalah suatu daerah pesisir yang terkenal dengan batiknya. Tidak heran jika Kota ini mempunyai julukan sebagai kota Batik. Karena bisa di bilang memang disini adalah pusatnya batik. Banyak ragam batik yang terdapat di pekalongan yaitu batik tulis, batik cap, batik printing. Masing masing mempunyai ciri khas dan motif  tersendiri.

Perjalananku kali ini menuju ke sebuah Museum Batik Pekalongan yang berada di Jl. Jetayu No.3 Pekalongan. Dengan sebatas pengetahuanku yang terbatas tentang batik, aku tak ragu melangkahkan kakiku menuju Museum Batik tersebut.

Gedung Museum Batik Pekalongan, peninggalan VOC Kolonial Belanda
Gedung Museum Batik Pekalongan, peninggalan VOC Kolonial Belanda

Berharap akan mendapatkan pengetahuan tentang batik yang merupakan warisan budaya negeri ini.

Dari depan museum aku melihat sebuah gedung tua yang merupakan heritage kota ini yang berdiri gagah. Gedung ini merupakan peninggalan VOC Kolonial Belanda atau dahulu di kenal dengan “City Hall”. Usia gedung ini sangat tua. Pada tahun 1906 pada masa pemerintahan VOC digunakan sebagai kantor keuangan untuk mengontrol kegiatan tujuh pabrik gula di sepanjang Pantura Karesidenan Pekalongan.

Ruang Pamer museum batik pekalongan
Ruang Pamer I, Macam-macam pewarna alami

Museum ini memeliki tiga buah ruang Pamer. Ruang Pamer I di jelaskan tentang macam dan jenis Batik dari bergai ragam dari daerah pantura atau batik pesisiran, serta di pamerkan juga alat dan bahan untuk membatik yang semuanya serba tradisional.

Ruang Pamer  Batik Parang Barong Batik Tulis Pekalongan
Ruang Pamer II, Batik Parang Barong

Ruang Pamer II menampilkan koleksi batik dari berbagai  daerah nusantara khususnya daerah pesisir dan daerah pedalaman Yogyakarta dan Solo.

Ruang Pamer III
Ruang Pamer III

Ruang Pamer III menampilkan beragam batik Nusantara dan selalu diganti display-nya sesuai tema. Waktu aku berkunjung kesana tema yang di paparkan adalah hari jadi Kota Pekalongan.

Tidak hanya menyajikan batik yang di pamerkan di dalam sebuah ruangan. Museum ini juga menyajikan sebuah ruang Workshop Batik. Disana kita akan diajarkan bagaimana cara membatik dan bisa langsung praktek membatik.

Para Pengunjung sedang praktek membatik
Para Pengunjung sedang praktek membatik.

Pekalongan tidak hanya memiliki Museum batik yang mempesona melainkan memiliki sebuah kampung batik yang bernama kampoeng Wisata Pesindon. Mungkin dipikiran kalian adalah di kampung ini merupakan central batik di Kota Pekalongan. Memang benar, di kampun ini merupakan pusat para perajin batik tulis, cap dan printing.

Gapura Wisata Batik Pesindon
Gapura Wisata Batik Pesindon

Di era kemajuan seperti sekarang banyak di dirikan galeri batik yang dapat kita jumpai di sepanjang jalan. Buat para wisatawan yang ingin membeli buah tangan berupa batik bisa langsung membelinya di galeri, selain original harga yang di tawarkan juga tergolong murah, karena langsung dari pengrajin.

Kakiku terhenti di sebuah galeri batik “Larissa” milik pak Eddy yang sudah menjadi generasi ke empat yang meneruskan batik di keluarganya. Kepada beliau aku bertanya tentang batik dan proses pembuatan batik di belakang galerinya. Dengan sambutan yang ramah beliau menunjukkan proses membatik yang dilakukan beberapa karyawannya. “Satu buah Batik tulis itu hanya bisa dikerjakan oleh satu orang saja, untuk mendapatkan hasil yang maksimal.” Kata Pak Eddy menjelaskan tentang batik tulis.

Membatik dengan penuh perasaan
Membatik dengan penuh perasaan

Sepintas pandanganku beralih kepada seorang ibu paruh baya yang sedang asik membatik. Sebut saja bu Inah, beliau membatik sudah puluhan tahun, di usianya yang sudah renta ini, tidak sekalipun menyurutkan semangat beliau untuk memintang warna dan menggambar diatas selembar kain. Beberapa menit aku mengamati jari-jari bu Inah yang luwes menuangkan malam (baca: Lilin untuk membatik) keatas kain dengan menggunakan canting. “Membatik itu sulit ya bu?” Aku bertanya kepada bu Inah sambil mengamati beliau membatik. “Tidak ada yang sulit nak, jika kamu mau belajar, membatik itu butuh keuletan, telaten, dan kesabaran. Kalau saya dulu tidak pernah belajar membatik, mungkin saya tidak ada di sini untuk membatik.” Jawab bu Inah sambil membatik dan tanpa melihat ke arahku yang saat itu berada di depan beliau.

Selain proses batik tulis aku juga tidak mau ketinggalan dengan proses batik cap, walaupun di museum aku sudah melihat sepintas proses batik cap, tapi terasa tidak lengkap jika melewatkan proses pengecapan yang sesungguhnya.

Proses Membuat Batik Cap
Proses Membuat Batik Cap

Perjalananku menyusuri kota Batik dan mencari tahu tentang proses pembuatan batik memberikan sebuah pesan sederhana tetapi menyimpan makna yang mendalam.

Satu buah Batik tulis hanya bisa dikerjakan oleh satu orang saja, karena akan menghasilkan hasil yang berbeda jika pengerjaannya berpindah tangan. Menggambarkan bahwa karakter seseorang satu sama lain tidaklah sama atau bisa dikatakan unik. Kuasa Tuhan menciptakan manusia yang memiliki beragam keunikan dan ciri khas masing-masing. Membatik memang membutuhkan keuletan, kesabaran, dan telaten. Merupakan sebuah wujud usahan kita jika ingin menjadi sukses dan berhasil dalam mencapai sesuatu yang kita inginkan. Tidak hanya membatik yang membutuhkan ketiganya. Tetapi dapat di terapkan kedalam kegiatan kita sehari-hari agar dapat menjadikan motivasi dalam kehidupan kita. Aku merasa tercambuk ketika mendengar sebuah kalimat yang di lontarkan bu Inah, karena ambisiku yang terlalu tinggi sehingga aku melupakan sebuah kesabaran yang harus melekat, bukan hanya itu keuletan dan tlaten juga ikut menjadi tipis. Kesuksesan itu tergantung kepada diri kita sendiri sebagai tokoh utama dan sebagai pekalu utama untuk menjalani sebuah hidup.

Kota Pekalongan adalah kota Batik yang memberikanku sebuah mood boster positif. Sebuah kota kreatif yang kaya akan budaya. Lelah yang aku rasakan terbayar dengan pelajaran yang aku dapatkan di kota Batik ini.

Note :

Tidak mahal jika ingin berkunjung ke Museum Batik cukup membayar tiket masuk sebesar Rp. 1.000,- untuk anak-anak atau pelajar dan Rp. 5.000,- untuk dewasa. Terdapat juga paket pelatihan singkat membatik dengan berbagai variasi harga mulai dari Rp. 20.000,- sampai dengan Rp. 65.000,-

Share This:

11 thoughts on “Sebuah Pesan Sederhana Menyimpan Makna dari Batik Tulis di Kota Pekalongan

  1. kesabaran dan keuletan…smangaaat mbak aku juga lagi belajar itu sih kadang karena terlalu berambisi sampe lupa dua hal penting itu hehe . .

    1. Makasih mb Dew,,kapan aku bisa nerbitin buku kayak mbak Dew? haha.. Amiin mb next time kita ngetrip bareng lagi..

  2. Pingback: JejakJelata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *