Menemukan Fosil di Situs Patiayam

Replika Fosil Gajah Stegodon
Replika Fosil Gajah Stegodon

Pagi terlihat begitu cerah, setelah semalam hujan turun membasahi bumi. Tepat sekali hari ini adalah hari minggu, dimana semua aktifitas terlihat begitu santai. Untuk menyegarkan otakku dan sedikit melemaskan otot-ototku, aku memutuskan untuk jalan-jalan melihat daerah sekitar tempat tinggalku. Aku memang bukan local people, tetapi sangat sayang sekali jika aku melewatkan sepenggal sejarah dan situs-situs yang menjadi heritage di sini. Langkahku terhenti di sebuah desa perbatasan Kab. Pati dan Kab. Kudus. Disitu terdapat sebuah museum situs purbakala bernama situs Patiayam, yang tepat terletak di Dukuh Kancilan, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kab. Kudus – Jawa Tengah. Dari jalan Pantura, masuk ke utara sekitar 300 meter. Sepanjang perjalanan menuju situs tersebut, aku dimanjakan dengan pemandangan sebuah bukit yang tampak menjulang dan barisan padi yang hijau membentang.

Patiayam sendiri adalah nama bukit setinggi 350 mdpl. yang terletak sekitar 3 km dari museum Patiayam. Asal muasal bukit tersebut dinamakan Bukit Patiayam konon menurut Kanjeng Sunan Kudus, di bukit tersebut pernah dijadikan adu ayam jago dan salah satu ayam aduan mati karena kalah.

Museum Patiayam memiliki sekitar 2.700 koleksi fosil purbakala asli ditemuan di Bukit Patiayam. Museum tersebut ini dirikan pada tahun 2005 yang semula hanya bertempat di rumahIbu Siti Asmah (mengelola museum). Pada tahun 2011 Museum dipindahkan di Balai Desa Terban. Kemudian pada tahun 2014 Musium ini benar-benar memiliki bangunan sendiri dan sudah mendapat perhatian dari pemerintah.

PENEMUAN FOSIL

Situs purba Patiayam memiliki keunggulan komparatif  karena fosilnya yang utuh disebabkan penimbunan abu vulkanik halus dan pembentukan fosil berlangsung baik. Di sekitarannya tidak terdapat sungai besar sehingga fosil ini tidak pindah lokasi karena erosi. Situs Patiayam merupakan salah satu situs terlengkap. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya manusia purba (Homo erectus), fauna vertebrata dan fauna invertabrata. Ada juga alat-alat batu manusia dari hasil budaya manusia purba yang ditemukan dalam satu dari pelapisan tanah yang tidak terputus sejak minimal satu juta tahun yang lalu.

Overlay Peta Topografi, Peta Geologi dan Peta distribusi temuan Fosil
Overlay Peta Topografi, Peta Geologi dan Peta distribusi temuan Fosil

Penemuan Fosil atau Balung Buto (warga menyebutnya) bermula dari sebuah ritual yang dilakukan warga setempat. Pada tahun 1982, salah seorang warga Patiayam melakukan ritual, dalam ritual tersebut warga dukuh kancilan melihat sebuah sinar kebiru-biruan yang bergerak-gerak naik turun secara berulang. Kemudian warga memberi tanda diatas tanah dengan menggunakan ranting dimana sinar itu terpancar dan esoknya dilakukan penggalian. Dalam penggalian tersebut warga menemukan sebuah fosil gading gajah berukuran 2,7 meter yang sekarang di simpan di musium Ronggowasito Semarang.

Fosil Kerang Laut
Fosil Kerang Laut

Ada beberapa jenis fosil Fauna yang ditemukan yaitu berupa:

  1. Jenis kerang atau molusca (Gastropoda maupun Bivalvia)
  2. Jenis ikan hiu (Lamnidae dan Charcharhinidae)
  3. Jenis Penyu (Cheloniidae)
  4. Jenis Buaya (Crocodylidae)
  5. Jenis Harimau (Felidae)
  6. Jenis Badak (Rhinocertidae)
  7. Jenis Babi (Suidae)
  8. Jenis Kuda sungai (Hippopotamidae)
  9. jenis Gajah (Elephantidae dan Stegodontigae)
  10. Jenis Kerbaou dan banteng (Bovidae)
  11. Jenis Rusa (Cervidae)

Sumber : Museum Purba Kala Patiayam, Kudus, Jawa Tengah

Salah satu temuan hewan purba yang ada di museum ini adalah fosil Gajah Stegodon berupa gading sepanjang 3,7 m oleh Karmijan pada tahun 2008 ketika Karmijan sedang menggarap ladang perhutani di Gunung Slumprit, Patiayam, Kab. Kudus. Fosil ini merupakan temuan Karmijan pada “formasi Slumprit” (Pleistonsen bawah) yang terdiri dari lapisan batu pasir tufaan berwarna putih abu-abu denga kisaran umur 750.000 – 1,5 juta tahun. Lapisan ini kaya akan temuan fosil vertebrata dan moluska air tawar.

Fosil Gading Gajah Stegodon
Fosil Gading Gajah Stegodon

Tidak Puas dengan penemuan situs yang ada di dalam museum, aku melanjutkan perjalanan menuju lokasi gardu pandang yang terdapat situs penemuan yang masih berada di lokasi penemuan yang letaknya kurang lebih satu kilometer dari museum. Hanya dengan menggunakan sepeda motor kita bisa menempuh sampai ke lokasi. Tapi jika pengunjung menggunkan Mobil hanya bisa sampai di ujung rumah warga, kemudian naik ke lokasi tersebut dengan berjalan kaki.

Lokasi Atraksi Gardu Pandang
Lokasi Atraksi Gardu Pandang

Ada suatu hal menarik ketika aku masuk di atas gardu tersebut. Sekilas aku mencium sebuah bau wewangian seperti menyan atau sejenisnya. Konon katanya, mas Takim dan mas Aji yang mengantarku sampai lokasi “Memang kalau yang datang bukan warga asli sini pasti bau begituan mbak.” Jujur saja, secara sepontan bulu kudukku ikutan berdiri. Di bawah gardu itu terdapat fosil yang masih utuh dan sengaja memang tidak di pindahkan ke dalam museum.

Fosil yang masih berada di lokasi penemuan
Fosil yang masih berada di lokasi penemuan

Di bukit ini juga terdapat goa buatan manusia yang dulu katanya hasil dari penambangan pasir oleh warga setempat, tapi sekarang penambangan itu sudah dihentikan tapi beberapa masyarakat masih mendatangi goa tersebut hanya untuk mengambil kotoran kelelawar untuk dijadikan pupuk.

Goa dengan panjang 10m
Goa dengan panjang 10m
Goa dengan panjang 100m
Goa dengan panjang 100m

Sebenarnya, aku penasaran untuk masuk ke dalam goa yang panjangnya 100 meter tersebut, karena menurut cerita goa tersebut dalamnya sangat luas walaupun kita harus menundukkan kepala ketika hendak masuk. Tapi karena dari para guide yang lupa membawa alat penerangan aku akhirnya mengurungkan niatku. Di depan goa tersebut terdapat selokan kecil yang merupakan sebuah aliran air dan salah satu guide (mas Aji) menemukan sebuah fosil di situ.

Tampak terdapat pori-pori
Tampak terdapat pori-pori
Fosil yang ditemukan di saluran air
Fosil yang ditemukan di saluran air

Sampai detik ini pun masih dilakukan ekskavasi fosil-fosil purbakala oleh warga dan di simpan di dalam museum untuk dilakukan proses identifikasi dan observasi oleh badan Arkeologi. Pada tahun bulan febuari 2015 salah seorang warga menemukan gigi gajah elephas dan kaki gajah bagian atas exkapula yang masih dalam proses observasi.

Fosil yang masih berada di gudang penyimpanan
Fosil yang masih berada di gudang penyimpanan

Yang paling berkesan aku di beri izin unruk melihat fosil yang masih ada di dalam gudang. Memang semua fosil tidak di display-kan karena masih dalam tahap observasi dan keterbatasan tempat. Tapi secara keseluruhan museum ini terlihat sangat bersih dan rapi.

Selfie bersama Ibu Siti Asmah
Selfie bersama Ibu Siti Asmah

Banyaknya pengunjung hampair rata-rata 2000 pengunjung setiap bulannya dan mereka banyak yang berasal dari luar Kota Kudus. Masih banyak cerita seru di di Situs Patiayam, untuk lebih jelasnya silahkan berkunjung atau menanti cerita seru dariku.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Blog Competition #TravelNBlog 3 yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID.” http://travelnblog.net/travelnblog-3-blog-competition/

Share This:

10 thoughts on “Menemukan Fosil di Situs Patiayam”

  1. Hooo museum Patiayam itu lumayan megah juga ya? Saya pikir di situs Patiayam hanya ada bangunan Rumah Fosil saja?

  2. Bisa masuk destinasi kalo pas menjelajah pantura nih..
    Kalo malem bisa jadi Night At The Museum githu ngak ya?
    Eh tapi serem kalo bau menyan.. hiiih..

    Salam kenal Kakak yang suka ngupil di tempat umu.. *eh

    1. Salam kenal jg kak,, monggo mampir kak masih bnyak destinasi yg bisa di kunjungi di sekitar situ..
      Nb: ngupil di tempat umum itu sebuah kenikmatan buat traveler lhoo kak #ehh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *