Cerita Ku Fiksi My stories

Perih

Seperti biasa aku berada di sebuah kafe, menikmati malamku ditemani sebuah kopi hitam kali ini aku menambahkan sedikit krimer. Sambil ku hisap dalam-dalam rokokku dan mengepulkan asapnya ke udara. Sebuah lagu cinta di putar oleh pemilik kafe untuk menghibur para pengunjung.

“Ahh, lagu ini. Mengingatkanku tentang Seila saja.” Aku bergumam.

sesekali pandanganku memenuhi setiap susut ruangan. Aku menatap satu persatu properti yang ada di dalamnya dan merekam kedalam otakku.

“Heii, ngalamun saja.”

Suara Tara tiba-tiba membuyarkan lamunanku yang datang menghampiriku. Memang aku menunggu dia di sini. Bukan kencan, tapi hanya sekedar nongkrong cari kesibukan.

“Gue lagi menikmati lagunya.”

“Ingat Seila ya? kemarin gue ketemu sama dia.” Kata Tara.

“Dimana?bukannya dia mau merit yaa?”

“Elu kudu bersyukur Ben, bisa putus dengan Seila. Gue denger kabar terahirnya dia jadi simpenan om-om gitu. Ternyata dia matre. Deket kalo ada duit, kalo udah kere di tinggal.” Tara nyerocos tanpa jeda.

Menurutku sih dia melakukan itu karena kepepet aja. Seperti yang pernah di lakukan sama aku dulu. Tapi aku yakin dia tidak seburuk itu. Hatinya baik. Ramah. Supel. Banyak teman-teman mereka yang senang bergaul dengannya.

Mungkin memang ada baiknya dia mutusin aku minggu lalu. Yaa, secara aku tidak bisa menuruti semua kemauannya. Tidak seperti pacar-pacarnya yang sekarang. Aku hanya seorang designer yang pekerjaannya tidak pernah lepas dari kata kadang “kadang rame” kadang “sepi”. Yaa memang sebaiknya begitu. Mensyukuri aja apa yang aku punya semua. Bagiku kejadia minggu-minggu lalu tak layak untuk aku sesali.

Cintaku dengan Seila seperti luka yang di siram daengan air garam. Perih…

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Share This:

Leave a Reply