My stories

Buku Harian Ayah

Buku harian, mungkin akan terdengar sepele dengan kata itu, atau sering kali kita anggap remeh dan cemen “Ah cuma buku harian” dan mungkin sering di anggap menjijikan.Buku harian adalah suatu wadah atau tempat untuk melupkan isi hati kita, keresahan bahkan suatu kejadian yang sedang kita alami. Yaa sih kedengarannya memang sepele, cuma buku harian. Mungkin isinya cuma luapan kegalauan kita saat ini. Tapi pernah nggak sih kita berfikir jika buku harian kita yang pernah kita tulis saat ini (misal) di baca oleh anak cucu kita kelak?

Minggu kemarin “Delapan febuari duaribulimabelas” tanpa sengaja aku menemukan sebuah buku harian milik ayah. Meskipun Ayah sudah tiga kali mengajak kita pindah rumah, tapi Ayah masih menyimpan buku itu. Tidak bagus sih bentuknya tapi buku itu masih terlihat utuh dengan sampul tebal berbahan kulit sintetis berwarna coklat lekat bertuliskan tahun pembuatannya “1986”. Buku itu terlihat awet, tak selembarpun aku menemukan halaman yang copot atau sobek hanya saja beberapa halaman terlihat berlubang karena rayap. Yahh memang buku itu sudah usang.

Ku buka sampul depan yang tebal itu, dan kutemukan halaman pertama buku lengkap dengan identitas Ayah yang di tuliskan dengan tinta hitam yang sudah menguning. Halaman demi halaman ku buka satu per satu. Seolah penasaran dengan isi dari buku harian itu.

Rupanya Ayah pandai bercerita.

Dalam buku hariannya, Ayah bercerita tentang kehidupan Ayah mulai dari pertama beliau menjadi seorang tentara yang secara tidak langsung mengubah kehidupan Ayah dari seorang pengembala dan berubah menjadi seorang pengabdi negara. Semua diceritakan secara beruntun lengkap dengan tanggal penulisan. Bagi Ayah, apa yang sudah di gariskan sama Tuhan itu adalah rencana terbaik buat kita walaupun terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Cara Tuhan menyayangi kita sangat beragam bentuk dan cara. Ayah bercerita tentang perjalanannya menuju Belanda, demi tugas negara.

Dari kenangan pahit di negri orang sampai kepulanggannya ke Indonesia dan bertemu dengan seorang wanita yang di cintainya (Ibu). Bahkan tanggal pernikahan Ayah dan Ibu tercatat jelas di situ. Bahkan yang menjadi aku merasa terharu adalah rasa kebahagiaan Ayah ketika aku di lahirkan di dunia. Ayah menuliskan “Suatu anugrah bagi kami Tuhan, Engkau telah memberikan seorang putri cantik untuk melengkapi hidup kami” lengkap dengan tanggal kelahiranku dan tempat kelahiranku. Terimakasih ayah sudah memujiku (maaf mendadak GeEr). Aku jadi terharu.

Bagiku engkau adalah sosok Ayah yang tegas, berwibawa dan sabar. Sabar dengan segala bentuk kenakalanku. Beliau tak pernah marah hanya saja melontarkan sebuah nasehat kepadaku, yang sering kali aku abaikan. Ayah adalah sosok yang selalu aku rindukan. Cinta dan kasihnya tak dapat tergantikan oleh apapun selain Ibu.

Buku harian Ayah, menuliskan sepenggal cerita sejarah perjalanan Ayah ketika beliua masih muda.

Share This:

Leave a Reply