Ranjau Darat

Anyaway busway. Seperti biasa gue menjalankan rutinitas yang gue jalani sebagai AO. Bersama belalang tempur gue yang kali ini sudah di sucikan dan basah karena hujan gue mulai muter2 keliling2 kecamatan Juwana karena hujan gue gak mau muter jauh2. Kecamatan Juwana ini ada di kota Pati central java sapa tau ada yang nggak ngerti tentang keberadaan daerah yangterkenal dengan bandeng prestonya. Bandeng denga duri lunak pemirsah ada yang mau recommended patut di coba katanya produk nya sudah go internasional. Dan gue kalah dengan seekor bandeng.huhuhuhu. So kembali ke aktifitas gue. Karena hujan yang gak reda2 gue putuskan untuk agak lama ngobrol dengan nasabah. Dan ketika gue lihat jam yang melingkar di tangan gue. Busyettt ternyata sudah jam sepuluh gue tengok ke luar sudah lumayan reda dan gue pun pamit. Karena gue inget gue mesti mampir ke BCA buat transfer pembayaran clutch. Cluctch itu adalah sebuah tas jinjing tanpa tali dan mirip dengan dompet. Gue beli dari temen gue yang sekarang ada di Jakarta katanya sih itu pruduk dia yang bikin handmade dan di desain dia sendiri. Karena gue gak pnya ATM bca dan gue males kena cas di ATM bersama, gue lari ajah ke counter bca-nya sapa tau ada teller yang bisa di lihatin lumayan mata gue udah butek dengan kacamata gue yang silindernya gue rasa semakin bertambah parah. Gue masuk ke dalam mengambil sebuah slip setoran berwarna biru dan memencet tombol antrian yang berwarna merah ketika di pencet berbunyi krik..krik..krik seperti suara jangkrik. Dan keluar secarik kertas berukuran 5×5 cm dan bertuliskan no 121. Lalu gue naik ke lantai dua dan gue melihat papan angka di atas meja teller berluliskan angka 98. Hisshhh…..jauh banget dengan urutan no gue dan terpaksa gue duduk di bangku antrian sambil memandangi teller yang ternya cewek semua.

Ohhh tidak…gue lupa ada satu cowok dan setelah gue amati dengan sekasama ternyata kurang enak di pandang dia berada di teller 4. Gue duduk meletakkan pantat gue di sebuah kursi yang lumayan keras dan licin oleh gesekan celana kain gue.

Okay..gue jelaskan yang namanya menunggu dengan menghitung angka itu adalah pekerjaan yang membosankan dan menjenuhkan oleh karena itu gue ambil bebe gue dan gue mencoba untuk releks sambil bbm-an sama temen2 gue. Dan sesekali gue melihat kea rah papan angka itu. Sebelah gue duduk seorang wanita, bisa di sebut dengan ibu2 membawa 1 anak laki2 yang gue prediksi umur sang ibu adalah 28 tahun dan umur sang anak adalah 5 tahun. Oke bukan masalah di umur atau siapa mereka bagi gue itu nggak penting. Yang terpenting adalah anak itu setengah gila. Entah gila beneran ato agak sedikit hiperaktif atau tidak punya etika kesopanan dalam masyarakat.

Well gue gak tau, karena usianya yang masih kecil gue sebut aja agak sedikit hiperaktif. Tanpa gue sadar anak itu mendekati gue. Pegang2 celana gue, dan gue memandang nya kemudian memandang ibunya sambil nyengir kuda. Abis pegang2 celana gue anak itu kembali memegang leather case bebe gue yang lagi gue pegang karena gue dan terselipkan kartu game fantasia yang bergambar macan sambil ngomong “ihh macan, ada macan” sambil memandang mesum muka gue. Mau gue tegur gue gak enak sama mak-nya dan gue iseng2 aja gue tanya dengan sedikit bad mood.

“kelas berapa dek?”

“TK besar” sambil ketawa2

Gile,,, segede apa sekolahnya?? Handphone nokia gue bunyi dan ternyata panggilan dari kantor. Mendengar handphone gue bunyi ini bocah ngomong lagi.

            “wihhh hp-nya banyak” sambil ketawa cekikikan. Dan ketika gue angkat telp-nya dengan meletakkannya di kuping kiri gue. ini bocah mendekati kuping kiri gue dan ngomong sambil tereak “wawawawaw” ehh busyet pengen gue telen idup2 ni bocah tanpa pisang.

Gue seorang Miya paling suka sama yang namanya anak kecil, karena gue juga punya keponakan dari kakak sepupu gue yang lucu dan imut namanya Ifa yang selalu bikin gemes dan ngangenin. Tapi peristiwa di BCA waktu itu gue ingat suatu peristiwa ketika gue lagi menjalankan gue menjadi seorang marketing. Siang itu gue masuk pasar bersama temen gue (mbak nunung) bukan nunung ovj, tapi bentuk tubuhnya mirip kok sama nunung ovj. Oke bersama mbak nunung gue cash pic up (jemput setoran) jika ada nasabah yang mau nabung atau bayar angsuran kita yang menjemput setorannya. Nah…balik lagi, gue masuk pasar dengan dan tanpa perasaan yang gimana2. Alias biasa2 ajah. Gue muter2 pasar naek ketas naek ke bawah ups, maksudnya turun ke bawah. Suasana pasar tradisional yang agak becek karena bawaan dari kaki para pengunjung pasar dari luar yang becek karena gerimis yang tak kunjung reda. Lanjut yokk cyinnn….mari…heheh….lagi enak2nya jalan sambil bbm-an gak taunya sepatu gue nginjek sesuatu benda ‘nyetttt’ lembek berwana kuning dan benda itu berceceran dimana sejalan arah menuju toilet umum semacah pisang ambon tanpa kulit dan gue sempet terpeleset tapi nggak sampai jatoh karena gue masih bisa jaga keseimbangan. Dengan wajah piknik eh maksdunya panic gue berhenti dan menatap wajah mbak nunung.

“mbak nunung gue nginjek apa mbak????” sambil menggandeng tangan mbak nunung.

“gak tau dek, coba liad di balik kaki mu”

Dengan tampang oon tak berdosa, hidung kembang kempis gue balik telapak kaki gue dan gue lihat seperti bubur berwarna kuning pekat berbau agak busuk menyerupai kakus. Gue baru sadar ternyata gue berdiri gak jauh dari toilet dan yang gue injek adalah eek anak2. Secepat kilat gue berlari ke toilet gue bersihkan alas sepatu gue dan gue bayangkan gimana kalau baunya masih melekat dan gue harus masuk ke dalam kantor yang ruangannya ber AC. Ooooohhhh…..tidakkkkkkkkk pasti gue di ketawain orang 1 kantor dimana muka gue?mau gue taroh di pantat???pantat gue aja penuh dengan bisul…*upss. Di toilet gue denger suara tangisan anak2 di pukulin ibunya sambil bilang “sudah di bilangin kalo mau eek bilang masih aja bandel eek di celana!”.

Gue bengong sambil nyengir kuda

Di luar pintu toilet mbak Nunung dengan sukses ngetawain gue cekikak-cekikik sampe mukanya merah kayak udang rebus setengah mateng. Sial gue kena ranjau darat di pasar.

Pesan Moral : jangan pernah bbm-an sambil jalan, apa lagi di pasar jika nggak mau kenaranjau darat. hehehe

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *